QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://jampang.kotasantri.com
Bergabung
17 April 2012 pukul 17:47 WIB
Domisili
DKI Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS
Tulisan Rifki Lainnya
Ramadhan Pergi, Menyisakan Ironi
20 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Ketupat Lebaran, Merajut Kembali Tali Persaudaraan
14 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Dibalas Kontan
2 Agustus 2013 pukul 19:00 WIB
Kunci yang Tertinggal
27 Juli 2013 pukul 18:18 WIB
Lelaki dan Smartphone
7 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 21 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB

Box Sepeda Motor dan Telor

Penulis : Rifki

Di akhir tahun 2008, akhirnya saya bisa mendapatkan sepeda motor baru yang katanya adalah “motornya lelaki”. Bukan tunai, melainkan kredit.

Setahun kemudian, saya mengganti ban belakang dengan ban tubles, karena berdasarkan pengalaman, lumayan cape dorong kalau ban bocor tertusuk paku atau benda kecil dan tajam di jalan. Selain itu, saya juga menambahkan sebuah box yang dipasang di belakang.

Tapi box itu sekarang sudah tidak lagi terpasang. Rangkanya patah ketika saya mengalami kecelakaan tertimpa batang pohon yang tumbang di akhir tahun 2010.

Lalu apa hubungannya dengan telor?

Selain berguna untuk menyimpan barang bawaan ke kantor seperti tas, laptop, sepatu, dan barang-barang lainnya, box tersebut juga sangat berguna untuk menyimpan barang belanjaan dari pasar.

Emangnya saya suka belanja ke pasar?

Sebenarnya, saya paling malas yang namanya belanja ke pasar tradisional. Bukan karena tempatnya yang kurang nyaman atau kurang bersih. Melainkan saya tidak bisa menawar dan tidak bisa memilih buah-buahan yang berkwalitas bagus. Jadi kalau saya diminta oleh ibu saya pergi ke pasar tradisional untuk membeli buah-buahan, pasti saya menolak. Saya akan menawarkan bagaimana kalau saya membeli buah-buahan di mini market.

Tapi, pada suatu masa, akhirnya saya mau berbelanja ke pasar tradisonal. Minimal sebulan sekali saya akan pergi ke pasar tradisional untuk membeli kebutuhan dapur. Bawang merah, bawang putih, cabe, daging, ayam, udang, telor, dan sebagainya.

Suatu pagi di hari libur, saya berangkat ke pasar untuk membeli keperluan dapur seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Setelah semua barang yang saya butuhkan terbeli, sayapun memasukkannya ke dalam box sepeda motor. Semuanya, termasuk telor sebanyak setengah atau satu kilo. Lalu kembali pulang ke rumah.

Dalam perjalanan, ada perasaan yang sulit saya utarakan terhadap barang belanjaan saya di dalam box.

Jangan-jangan, jangan-jangan.

Akhirnya, sayapun tiba di depan rumah. Alangkah terkejutnya saya ketika saya membuka box sepeda motor. Telor yang saya bawa dari pasar ternyata banyak yang pecah dan hanya menyisakan beberapa butir.

***

Terkadang, kita melihat kawan, tetangga, atau bahkan orang lain begitu bahagia dengan apa yang mereka dapatkan dan lakukan. Lantas, diripun mencoba untuk melakukan hal yang sama dengan harapan akan merasakan kebahagiaan yang sama dengan mereka.

Sepertinya tak ada masalah jika termotivasi dengan apa yang telah diraih oleh orang lain. Masalah baru akan muncul jika diri hanya bisa iri dan dengki dengan apa yang diraih oleh orang lain, merasa susah dengan di atas kesenangan orang lain.

Namun demikian, jika apa yang kita usahakan tidak mendatangkan hasil seperti yang diharapkan sebelumnya, mungkin ada sesuatu yang menjadi pembeda antara diri dengan orang lain tersebut. Mungkin diri belum ditakdirkan untuk mendapatkan yang sama seperti orang yang kita jadikan acuan. Mungkin kondisi diri tidak cocok dengan kondisi yang diharapkan, tidak seperti kondisi yang terjadi pada diri orang lain.

Daging, ayam, bumbu dapur, buah, sayuran, mungkin akan aman jika disimpan di dalam box sepeda motor meski jalan yang dilalui tidak mulus. Tetapi, box sepeda motor tidak cocok untuk menyimpan telor. Jika dipaksakan, telor itu akan pecah.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifki sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0500 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels