Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://jampang.kotasantri.com
Bergabung
17 April 2012 pukul 17:47 WIB
Domisili
DKI Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS
Tulisan Rifki Lainnya
Dibalas Kontan
2 Agustus 2013 pukul 19:00 WIB
Kunci yang Tertinggal
27 Juli 2013 pukul 18:18 WIB
Lelaki dan Smartphone
7 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Sesal
28 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Tukang Parkir
15 Juni 2013 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 14 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB

Ketupat Lebaran, Merajut Kembali Tali Persaudaraan

Penulis : Rifki

Tanpa ketupat, Lebaran terasa kurang afdhal. Mungkin itu yang dirasakan oleh sebagian orang di kampung saya. Ketupat memang sudah menjadi salah satu ciri khas Lebaran.

Satu atau dua hari menjelang Lebaran, para keluarga sudah banyak yang mulai mempersiapkan masakan yang satu ini. Mulai dari membeli atau menganyam kulit ketupat sendiri, memasukan beras ke dalamnya, tak ketinggalan sayur dan semur daging sebagai lauk yang menemani ketupat tatkala disantap. Hari puasa terakhir, kami berbuka dengan ketupat buatan ibu di rumah.

Beberapa hari menjelang Lebaran, saya melihat beberapa orang membawa satu ikat daun kelapa muda. Daun kelapa yang berwarna kuning itu kemungkinan besar akan dianyam menjadi kulit ketupat, untuk selanjutnya digunakan sendiri atau dijual kembali. Hasilnya mungkin lumayan untuk menambah pemasukan.

Dalam perjalanan ke kantor, saya melihat seorang ibu sedang asyik menganyam daun kelapa menjaid kulit ketupat ditemani anaknya yang masih balita yang juga asyik bermain dengan daun kelapa maupun dengan kulit ketupat yang sudah jadi. Di samping ibu tersebut, terlihat sang suami yang sedang menunggui usahanya, tambal ban, menanti kedatangan pelanggan. Di hadapan ibu tadi, ada sebuah meja kecil. Di atasnya terlihat beberapa puluh kulit ketupat yang sudah jadi dan siap untuk dijual.

Membuat kulit ketupat dengan menganyam daun kelapa bukanlah keahlian saya. Ketika pernah diajari membuatnya, jari-jari tangan saya terasa kaku. Di rumah, ibu juga tak pernah membuatnya sendiri. Mungkin lebih praktis bila membeli yang memang sudah jadi. Tinggal mengencangkan kulit yang masih longgar, lalu diisi beras, kemudian direbus, dan ditunggu hingga matang.

Di setiap Lebaran, tali silaturahmi kembali dirajut bak anyaman daun kelapa membentuk ketupat. Bagian-bagian yang masih longgar dikuatkan agar menjadi rapat, sehingga beras yang dimasukkan tidak keluar. Hubungan antar kerabat, tetangga, atau pun sahabat yang mungkin agak longgar, di hari Lebaran kembali disambung. Satu sama lain saling mengunjungi dan bertandang ke rumah secara bergantian untuk menyambung rasa. Limpahan rahmat pun berkumpul di dalamnya. Semoga.

Menebar senyuman saat berpapasan. Saling bersalam-salaman saat berjumpa. Memohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi. Memperbaiki keadaan di masa lalu. Dan memuainya dari hari ini yang fitri.

Bagi kerabat, tetangga, atau sahabat yang rumahnya tidak berjauhan, sangat mudah untuk mengunjungi mereka. Sedangkan untuk bersilaturhami ke kampung halaman, ke kediaman kawan serta sahabat yang cukup jauh dan membutuhkan biaya yang cukup besar, tidak semua orang bisa melakukannya. Alternatif lain pun menjadi pilihan. Menggunakan teelpon, mengirim bingkisan, kartu ucapan, email, atau sms, kiranya bisa dilakukan. Yang terpenting, di balik semua itu, hati masih terjalin, meski raga berpisah jauh.

Sebuah SMS saya terima dari seorang kawan…

jika hati sejernih air jangan biarkan ia keruh
jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung
jika hati seindah bulan hiasi ia dengan iman
selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifki sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

UmmuRaihanah | IRT, Wiraswasta
Inspiratif, banyak ilmu. Tampilan webnya sudah banyak berubah. Maju terus, tetap istiqomah. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0613 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels