Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Fenomena E-Silaturrahim
26 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Ketika Jenuh Datang Menghadang
20 Juni 2013 pukul 19:00 WIB
Setiap Hari-Hari Kita adalah Istimewa
14 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Kebiasaan Berbuat dan Memberi Lebih
8 Juni 2013 pukul 08:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 2 Juli 2013 pukul 20:00 WIB

Keyakinan tentang Rezeki

Penulis : Arry Rahmawan

Sewaktu menyusun program untuk Komunitas TDA Kampus periode 2013-2015, salah satu program unggulan yang disusun adalah terkait dengan mengadakan TDA Kampus Forum selama 2 pekan sekali yang isinya membahas tentang spiritual entrepreneurship. Bagi kami, sebagai board of directors, masalah spiritual atau pemaknaan dan pemantapan niat yang benar untuk pengusaha muda adalah yang utama.

Tidak mudah memang memantapkan niat ini, karena tentu akan banyak sekali hal-hal yang akan dihadapi nantinya. Kebanyakan dari kita akan dengan mudah menjawab ingin beralih menjadi pengusaha karena ingin kaya, atau minimal hidup dengan gaya hidup di atas standar orang kebanyakan. Jika sudah diniatkan seperti ini, apa kira-kira yang akan terjadi?

Saya punya banyak kenalan pengusaha muda yang ‘terlunta-lunta’ hidupnya hanya karena niatnya kurang tepat sejak awal. Pada awal memulai bisnis, yang difokuskan hanya satu: menjadi kaya, memiliki mobil mewah, dan juga rumah mewah.

Teman saya, Reza (bukan nama sebenarnya) mencoba berulang kali untuk membuka bisnis agar dapat menjadi kaya. Berbagai cara mulai dia tempuh, mulai dari menggunakan modal sendiri hingga berhutang di sana-sini. Namun sayang, ada beberapa hal yang tidak sesuai pada awalnya. Untuk meminjam di bank, dia membuat aset fiktif sebagai jaminan yang pada intinya adalah menipu pihak bank sehingga dana pinjamannya cair. Dari sini saja, terlihat betapa obsesi terhadap harta bisa membuat orang melakukan apa saja. Yang penting ada modal uang, sisanya urusan nanti.

Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabuut : 17, yang mengatakan bahwa kunci sukses mencari rezeki sebenarnya mudah sekali: carilah rezeki di sisi Allah (untuk mengabdi kepada-Nya), lewat cara-cara yang dikehendaki-Nya, kemudian beribadahlah, lalu bersyukur, karena kepada-Nya lah kita akan dikendalikan. Simpel bukan? Namun berapa orang yang yakin tentang hal ini?

Kisah Reza sudah dapat ditebak. Dikejar debt collector, ditagih investor, yang bisa dia lakukan adalah kabur dan menjadi buron. Itukah yang kita cari?

Saya pun heran dengan para koruptor yang terus-menerus bertambah di televisi melalui tangkapan KPK. Segitu yang tertangkap, mungkin yang tidak tertawa-tawa. Tetapi Allah Maha Melihat, bukan? Rezeki seperti itu hanya membuat tidak tenang. Sumber petaka. Rezeki yang diambil dari jalan tidak baik, mengambil hak orang lain, akan kembali pula dalam bentuk tidak baik. Apakah memang itu yang kita cari? Jika kita yakin Allah itu memiliki rezeki yang Mahaluas dan tidak terbatas, haruskah kita menempuh cara-cara yang demikian?

Cobalah jika kita menjadi pengusaha itu berdasarkan niat yang lurus sesuai dengan firman-Nya. Sudahkah kita mencoba bersandar kepada-Nya? Sudahkah kita mencoba untuk memperbanyak shalat dhuha ketimbang pinjaman hutang? Sudahkah kita memperbanyak shalat tahajud ketimbang terus mencari investor dengan menjanjikan keuntungan yang bisa jadi tidak bisa balik tepat waktu? Sudahkah kita memperbanyak do'a dan munajat kita?

Itulah mengapa niat dalam bisnis menjadi sangat penting. Menjadi kaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan. Tetapi untuk apa? Untuk siapa? Jika kekayaan itu untuk diri sendiri, bisa jadi banyak hal yang menghalangi keberkahannya. Namun jika untuk Allah, insya Allah akan selalu diiringi rasa syukur, karena tujuannya adalah untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas.

Apa keyakinan Anda tentang rezeki? Saya hanya mencoba merenung. Betapa berawal dari sebuah niat, bisa membuat rezeki seseorang begitu berbeda.

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2024
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1012 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels