Pelangi » Refleksi | Jum'at, 21 Juni 2013 pukul 20:00 WIB

Jangan Bertanya “Mengapa”

Penulis : Rifatul Farida

Mengambil cover top dan cover bottom dari tray-nya, memastikan tak ada yang secret, kemudian meletakkannya di jig, dan menyekru bagian-bagian lubang yang sudah ditentukan. Begitu sekali lagi, lagi, dan lagi hingga berulang sampai target seribu dua ratus kali. Begitupun yang lainnya, ada yang menyeting name plate, ada yang menyolder, dan proses-proses lainnya yang merangkai menjadi benda elektronik bernama VCD Room. Semua itu dilakukan dengan posisi berdiri, dalam rentang waktu jam delapan pagi hingga jam delapan malam, itu jika shift pagi. Jika shift malam? tinggal dibalik saja, jam delapan malam hingga jam delapan pagi. Hampir setiap hari.

Menjadi seorang buruh pabrik perusahaan asing di sebuah pulau pinggir Indonesia, Batam. Dan wajar kemudian jika merasa sedang tidak hidup di negeri sendiri. Karena disuruh-suruh dan dimarahi orang asing di negeri sendiri menjadi hal yang biasa-biasa saja, saking seringnya mungkin.

Bukan semata atas nama kemandirian mereka pergi dari kampung halaman selepas SMU. Tapi tanggung jawab hidup yang harus tetap berdaya, minimal “menafkahi” diri sendiri.

Jangan bertanya mengapa mereka tidak melanjutkan kuliah, karena itu hanya akan membuat ruak luka dan riak-riak kesedihan. Atas dasar itulah, dalam banyak hal, saya lebih suka bertanya dengan awalan “untuk apa” daripada “mengapa”. Karena ternyata keduanya mempunyai nilai jawab yang saling berseberangan.

KotaSantri.com 2002-2021