|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|





Kamis, 23 Mei 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Muhammad Nahar
Bagi mereka yang sering melewati daerah Pancoran, Kalibata, dan sekitarnya, mungkin pernah terjebak kemacetan yang satu ini. Memang, daerah Pancoran dan sekitarnya merupakan salah satu daerah rawan macet di Jakarta. Ternyata kemacetan di sana bukan hanya karena jumlah volume kendaraan yang melampaui daya tampungnya, namun juga karena ada faktor sosio-kultural di daerah tersebut.
Terkadang, saat diadakannya pengajian dalam rangka Maulid, Haul, atau acara-acara lainnya, massa yang hadir jumlahnya luar biasa banyak. Bahkan, jalan-jalan umum sampai ada yang ditutup untuk umum. Belum lagi banyaknya anak-anak muda yang naik motor tanpa helm yang dengan seenaknya tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, tidak sedikit kendaraan yang terjebak kemacetan atau terhambat perjalanannya, sampai ada yang merasa kesal, marah, dan ingin protes dengan fenomena tersebut. Namun tentu saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain bersabar atas apa yang menimpa mereka tersebut.
Di luar pro dan kontra yang menyertai tradisi-tradisi seperti Maulid, Haul, Tahlil, dan sebagainya, penutupan jalan dan ekses kemacetan yang ditimbulkan sungguh merupakan sebuah ironi yang menyedihkan. Kaum muslimin saat melaksanakan kegiatan mereka, terutama kegiatan keagamaan, sudah seharusnya menjaga hak-hak orang lain dan tidak menzalimi. Bagaimana jika ada orang sakit yang harus segera dibawa ke rumah sakit atau ada ibu hamil yang akan segera melahirkan? Hal-hal penting seperti itu sepertinya terlewatkan dari pikiran mereka.
Fenomena penutupan jalan seperti yang sering terjadi di daerah Pancoran dan sekitarnya, juga di tempat-tempat lain juga mengindikasikan kurang terbinanya banyak anggota jama'ah dari pengajian-pengajian tersebut. Mereka seringkali hanya sekedar datang ke acara-acara seperti ceramah pengajian, Maulid, Haul, dan lain sebagainya, namun sepertinya tidak berbekas dalam kehidupan mereka. Jika saat acara berlangsung saja banyak orang yang terzalimi, apalagi di luar acara tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh disayangkan apabila orang sudah meluangkan waktu untuk mengaji atau mengikuti acara keagamaan, tapi tidak ada perbaikan dalam sikap, karakter, dan perilaku mereka.
Terkadang, orang menganggap diri mereka sudah cukup berbuat kebaikan dalam ritual tanpa harus mengaktualisasikan nilai-nilai pendidikan dari ritual tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ajaran Islam adalah ajaran yang seharusnya tidak hanya indah dalam bentuk ritual dan perayaan. Semua ibadah dalam Islam mengandung nilai-nilai pendidikan, bukan sekadar mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya atau sekedar menggugurkan kewajiban. Nilai pendidikan dalam ritual ibadah itulah sebenarnya ruh tarbiyah dalam Islam agar umat pemeluknya menjadi khalifah yang berkarakter agung mewakili Rabbnya di muka bumi ini. Nilai pendidikan itulah yang menjaga jiwa kita dari segala macam kemungkaran dan kejahatan hawa nafsu manusia, tanpa kecuali, cenderung kepadanya. Termasuk merampas hak-hak para pengguna jalan umum yang macet akibat kegiatan keagamaan mereka.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.