Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Menikmati Kenikmatan
17 April 2013 pukul 21:30 WIB
Membayar Magang, Kembali ke Zaman Jahiliyah
16 Maret 2013 pukul 15:00 WIB
Mengasa Jiwa Raga, Ba'da Kuliah
6 Maret 2013 pukul 11:00 WIB
Jangan Hanya Dengar Suara Hati!
15 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Mendayung Cinta di Samudera Seberang
9 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 11 Mei 2013 pukul 19:00 WIB

Hanya Pintar, Pasti Keblinger

Penulis : Syaifoel Hardy

Suatu hari, saya mengantarkan seorang staf yang akan ditransfer ke lokasi lain, dalam payung organisasi yang sama. Sebagai supervisornya, saya merasa memikul tanggungjawab moral, sebelum dia secara resmi pindah ke tempat kerja yang baru, sebagai bagian dari proses kepindahan ini.

Departemen tempat kami kerja, memiliki lima lokasi. Dalam formulir perjanjian kerja, sudah kami tanda-tangani, semacam kesepakatan, bahwa karyawan bersedia dan sanggup, bila ditempatkan di mana saja. Jadi, tidak ada alasan keberatan, manakala karyawan harus dipindahtugaskan, at any time.

Ketika menghadap pimpinan, di tempat yang baru tersebut, tanpa pernah disangka, pimpinan bertanya, layaknya interview sebelum kerja. Saya paham maksud baiknya. Namun, staf yang saya antar, sempat bertanya, mengapa harus di-interview.

Mendengar pertanyaan yang diajukan, saya turut sedih, bercampur prihatin. Sedih karena kami tidak pernah mengira dia akan ditanya di depan saya. Prihatin karena, andaikan saya yang ditanya, tentu akan malu sekiranya tidak mampu menjawabnya.

Semua orang akan merasakan hal yang sama. Tidak ada satupun di dunia ini, yang bersedia 'dipermalukan' di depan orang lain, sekalipun orang lain tersebut, adalah supervisornya. Saya jawab, "Andaipun saya dalam posisi dia, mungkin akan melakukan hal yang sama!"

Jadi, sah-sah saja sebagai seorang pimpinan bertanya kepada seorang yang bakal bekerja di dalam naungan divisinya. Barangkali cara atau metodenya yang harus beda!

Bedanya, saya tidak bakal menanyakan sebagaimana yang ditanyakan oleh sang pimpinan tadi.

Beliau menanyakan hal-hal teknik yang dibutuhkan saat kerja. Sedangkan saya, sebaliknya, bukan masalah teknik yang dikedepankan.

Mengapa?

Staf yang datang bersama saya tadi sudah berpengalaman kerja hampir 15 tahun lamanya. Soal kerjaan, pasti dia sudah tahu dan hafal! Apakah karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, lantas dia nanti tidak akan diterima bekerja di tempat yang baru? Padahal itu saran dari manajemen tingkat atas. Apakah hanya karena tidak becus menjawabnya, lantas transfer karyawan jadi gagal?

Tentu saja tidak!

Maka dari itu, pertanyaan yang bersifat teknik, hemat saya kurang relevan!

Pembaca yang dirahmati Allah.

Di antara tujuh buah buku karya saya, yang terlaris adalah yang berjudul SMART NURSE. Tidak perlu saya sebutkan jumlahnya berapa yang sudah terbeli. Karena, bukan itu tujuan pembahasan di sini. Saya hanya ingin sampaikan, mengapa banyak yang tertarik membeli buku tersebut.

Di setiap kesempatan workshop atau seminar, selalu saya kemukakan bahwa seorang yang berhasil itu bukan karena index prestasinya (IP) yang tinggi. Bukan pula, yang terampil melakukan tindakan praktik. Dan juga bukan, saat wisuda, yang mengalungi predikat cum laude.

Sebaliknya, seseorang bisa berhasil, dalam mencapai apapun yang menjadi tujuan hidupnya, karena dia cerdas, smart!

Pintar, tidak sama dengan cerdas! Pintar identik dengan kemampuan dalam bidang akademik. Belum mencakup keseluruhan aspek kehidupan. Orang pintar belum tentu baik. Orang pintar belum tentu cekatan. Orang pintar tidak otomatis rajin. Yang pintar pun, belum tentu jujur dan bermoral baik.

Semua orang menginginkan lebih dari sekedar pintar. Mereka menginginkan hidup, lebih baik. Tidak terkecuali mahasiswa, yang tentu saja, selain IP-nya tinggi. Mereka juga ingin cerdas, jujur, cekatan, rajin, dan bermoral mulia. Bisa jadi, inilah yang menjadi latar belakang, mengapa mereka tertarik untuk memiliki buku SMART NURSE tersebut.

Itu bukan berarti yang namanya pintar itu tidak penting!

Wow! Saya sangat setuju dengan pendapat anda, bahwa orang hidup ini, harus pintar! Tapi jangan keblinger, orang Jawa bilang!

Kepintaran ini sebagai salah satu pilar, bersama dengan pilar lain dalam hidup, untuk membangun konstruksi kehidupan yang lebih utuh.

Dalam sebuah pendopo rumah-rumah tradisional Jawa, Madura, Batak, Minang, Batak, Dayak, dan Sulawesi, jumlah pilar tidak harus empat buah. Boleh lebih, hingga delapan kalau perlu. Ibaratnya, semakin banyak pilar yang didirikan, makin kuat konstruksi pendopo kita.

Sayangnya, dalam kehidupan kita ini, acapkali hanya kepinteran yang dikedepankan. Akibatnya, bisa rusak tatanan kehidupan, dalam arti yang lebih luas.

Lihatlah dalam arena lomba olimpiade! Berapa jumlah pemenang yang berasal dari Indonesia? Seperti olimpiade fisika, matematika, informatika, dan lain-lain.

Saya sampai gedek-gedek dibuatnya! Anak-anak teman-teman saya, banyak yang menyabet, jadi juara olimpiade! Tentu saja mereka bangga, sebangganya saya memiliki prestasi tersebut, sebagai suatu yang tidak gampang direbut.

Orang Indonesia sudah banyak yang pintar! Mereka luar biasa! Pintar dalam artian akademik, sudah tidak diragukan lagi.

Presiden kita saja pernah mengenyam pendidikan paling bergengsi di Amerika Serikat. Harvard University bukan momok yang orang kita tidak dapat menaklukannya. Di perguruan-perguruan tinggi dunia, dari Inggris, Australia, Jepang hingga Jerman dan Belanda, bukan lagi sesuatu yang amat berat untuk ditembus. Tidak terkecuali Universitas Al-Azhar Cairo yang berusia lebih dari 1000 tahun. Ribuan orang kita jebolan sana!

Pada kenyataannya, berbekal pintar saja, ternyata belum cukup! Lulusan Al-Azhar Cairo, ternyata tidak menjamin kita menjadi ahli-ahli Bahasa Arab yang tersohor di dunia. Ahli perbandingan agama misalnya, orang India lebih dikenal (Dr. Zakir Naik misalnya). Atau mendiang Ahmed Deedat. Angkasawan yang duduk di NASA juga orang India lebih piawai. Pemenang Nobel keuangan juga dari Bangladesh (Profesor Muhammad Yunus). Negara yang konon jauh lebih miskin ketimbang Indonesia. Pusat penelitian padi (International Rice Research Center) justru subur di Filipina, padahal tanah kita lebih luas untuk menanam padi. Malah beras kita impor dari Thailand, negara kecil yang jauh di bawah Indonesia luasnya. Jarum jahit, kita masih harus membeli dari China. Kapas, dari Pakistan. Apalagi mobil atau perangkat berat lainnya!

Kita memiliki batik dan jamu-jamuan tradisional seperti Jamu Air Mancur atau Cap Jago, yang dulu diunggulkan, malah kalau mau kursus untuk mempelajarinya lebih dalam, kerepotan! Di India, ahli jamu dan obat-obatan tradisonal dihargai sejajar dengan lulusan kedokteran! Mereka buka praktik dan ada rumah sakit-rumah sakit terkenal yang menangani kanker. Jamu cap Nyonya Meneer, sebaliknya, hanya iklannya yang besar, namun tidak merakyat.

Kita ternyata tidak cukup pintar membinanya, agar jadi milik bangsa, yang bisa dibanggakan!

Kita punya orang-orang pintar yang ribuan jumlahnya di negeri ini. Yang pintar berdebat, yang pintar berdiplomasi, yang pintar mengatur strategi. Ironisnya, untuk mencari 11 orang pemain bola yang bagus saja, kita masih kalah dengan Qatar yang hanya berpenduduk 700 ribu jiwa.

Kekayaan alam kita mestinya bisa dikelola dengan baik oleh lulusan IPB atau ITB. Namun, hutan banyak yang gundul dan harga gula lebih mahal dibanding Kuwait, negara kering yang rumput saja tidak tumbuh! Kita memiliki gunung emas di Papua, tetapi masyarakt sana malah telanjang dan tidak berpendidikan!

Kalau hanya pintar, orang kita bisa dapat IP yang tinggi-tinggi sekali! Setiap wisuda yang diadakan setahun dua kali di setiap perguruan tinggi, mestinya kita pada saat yang bersamaan, menelorkan manusia-manusia tangguh, sumberdaya luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia.

Sayangnya, makin banyak yang pintar dan tinggi IP-nya, kok angka korupsi malah tidak semakin menurun drastis. Malah diterbitkan lembaga untuk memberantasnya (KPK). Idealnya, semakin banyak yang pintar, semakin berjibun lulusan dari luar negeri, tidak terkecuali yang ahli di bidang agama, angka korupsi makin berkurang!

Di lapangan, mencari kerja malah sulit. Harusnya pula, semakin kita pintar, semakin mudah berkreativitas. Semakin banyak ide-ide untuk membuka lapangan kerja!

Saya memang bisanya mengkorek-korek yang kurang dalam negeri sendiri! Selagi diperbolehkan, mengapa tidak?

Namun, saya juga punya usulan!

Sebaiknya, selama menempuh pendidikan, apakah itu di tingkat SMU atau universitas, peserta didik dan mahasiswa diajarkan jangan hanya melulu mata ajar dan buku-buku yang njlimet dan tidak ada relevansinya dengan kehidupan nyata.

Ajarkanlah sesuatu yang realistis. Bahwa di samping pintar ilmu pengetahuan, kita harus diajari bagaimana berpikir kritis, inovatif, dan kreatif. Sehingga, begitu mereka lulus, tidak repot-repot, bagaimana harus mencari kerja.

Kampus, jangan mengandalkan mereka yang ijazahnya tinggi-tinggi semuanya untuk mengajar tentang hal-hal yang bersifat praktis! Libatkan orang lapangan sebagai dosen tamu, yang berkesinambungan. Sehinggaq klop! Selain akademik, ada masukan dari luar!

Jika perguruan tinggi hanya menargetkan lulusan yang pintar, saya kuatir, keprihatinan nasional tidak bakal berhenti. Lulusan yang hanya bermodal pintar, harus rela nganggur bertahun-tahun, padahal mereka bergelar sarjana teknik, kesehatan, hukum, hingga ekonomi.

Sedihnya, saat ini, lulusan sarjana kita malu di lapangan, jika harus bekerja, mengawali karir sebagai salesman. Malu bekerja sebagai tukang cuci mobil. Malu merintis profesinya, kalau harus bermula dari office assistant!

Oleh karenanya, kalau hanya diajar untuk menjadi pintar, anda bakal 'liar'!

Raihlah prestasi tambahan, meski tidak harus tertulis dalam ijazah anda!

Rajin, disiplin, tepat waktu, suka menepati janji, tekun, sopan, ramah, taat ibadah, suka menghargai orang lain, sabar, jujur, dan seribu predikat mulia lainnya!

Percayalah, meski IP anda pas-pasan, kalau memiliki 'gelar' tambahan di atas, hidup anda jadi mudah! Dan rejeki pun, makin lapang!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0506 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels