Pelangi » Refleksi | Kamis, 21 Februari 2013 pukul 13:00 WIB

Di Usia Sembilan Tahun

Penulis : Fithriyah Abubakar

Umur 9 tahun, aku duduk di kelas 2 SD. Pukul 09.00-12.00 masuk sekolah, setelah itu pulang, makan siang, bermain sebentar, lalu tidur siang dari pukul 14.00-15.30. Pukul 16.00 harus sudah mandi dan duduk manis bersama kedua saudaraku, siap untuk belajar mengaji bersama pak Ustadz, di ruang tamu merangkap ruang keluarga kami yang mungil. Biasanya kami belajar hingga pukul 17.30, kemudian bersiap untuk shalat Maghrib.

Setelah itu, makan malam, dan dilanjutkan dengan belajar/mengerjakan PR masing-masing. Biasanya ini berakhir pukul 21.00, saat favorit kami, bersama-sama Abi dan Ummi menonton siaran Dunia Dalam Berita dari TV hitam putih kami. Biasanya saat ini kami ditemani dengan singkong goreng, keripik melinjo, atau berbagai makanan ringan buatan Ummi.

Acara dilanjutkan dengan film yang biasanya diputar dari pukul 21.30-22.30, seperti Hawaii Five-O, Twelve O'clock High, Mannix, dan sebagainya. Saat itu hanya ada sinopsis di awal film, tanpa teks dan sulih suara, sehingga biasanya kami dijelaskan oleh Abi dan Ummi tentang jalan ceritanya. Barulah setelah ini kami tidur, dan keesokan paginya bersiap-siap untuk ke sekolah.

Tidak begitu halnya dengan si Abeti. Laki-laki berusia 9 tahun dari Ethiopia ini harus berangkat bekerja sejak pukul 06.00. Di siang hari, ia harus berpisah dengan ibu dan adiknya, untuk membantu ayahnya menggali sumur. Tiap hari ia harus menuruni sekitar 5-6 kali lubang sumur yang dalamnya sekitar 15 meter, sambil menggali mencari sumber air. Setelah itu, ia harus naik kembali dengan kedua kaki merayapi dinding yang lebarnya tidak lebih dari 1 meter itu.

Bukan hanya itu, selanjutnya ia harus mendulang emas, hingga senja tiba. Bila hari itu emas tak didapatkannya, maka hari selanjutnya ia harus berangkat lebih pagi untuk mendapatkannya, sehingga keluarganya dapat makan. Sekolah hanyalah mimpi baginya, sama dengan keinginannya untuk selalu bermain bersama ibu dan adiknya.

Di Rusia, seorang lelaki berusia 10 tahun sudah harus belajar untuk berperang. Menembak, merayap dengan tali, dan berbagai latihan fisik lainnya harus dilakukannya sejak pagi hingga petang. Cita-citanya untuk bersekolah, harus menunggu hingga situasi menjadi aman. Wafatnya sang ayah menyebabkannya sebagai lelaki tertua di keluarga terpaksa mengikuti wajib militer di negaranya.

Perang, kelaparan, kemiskinan, bencana, selalu sang anak ikut menjadi korban. Pikiran mereka tak mampu menjangkau penyebabnya, namun mereka hanya tahu akibatnya. Tak bisa bermain, berkumpul dengan keluarga tercinta, apalagi bersekolah. Apapun yang terjadi, mereka tetap anak-anak, dengan keinginan yang sangat sederhana. Saat ditanyakan kepada pria Ethiopia dan Rusia ini tentang cita-cita mereka, dengan pelan mereka menjawab, "Saya ingin bersekolah, sepertinya menyenangkan."

Semoga impian mereka segera terwujud, 'tuk menapaki masa depan yang lebih cerah, Aamiin...

Yang terlintas saat menonton kisah anak-anak yang kurang beruntung ini di Fuji TV, 30 Juni 2007, 21.00 JST.

 

KotaSantri.com 2002-2022