Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://f_abubakar.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
PNS
Tulisan Fithriyah Lainnya
Pilihan Kehidupan
2 Januari 2013 pukul 16:00 WIB
Cinta atau Tanggung Jawab?
22 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
"Mobilku" Sayang
16 Desember 2012 pukul 15:00 WIB
Ketika Harus Memilih
12 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
Masih Dapat Berbagi
5 Desember 2012 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 16 Januari 2013 pukul 10:00 WIB

Pesta Extravaganza, Selanjutnya Apa?

Penulis : Fithriyah Abubakar

8 Agustus 2008, tepat pukul 08.08 waktu setempat, atau 09.08 JST, kami menyaksikan pembukaan Olimpiade bareng di rumah seorang teman. Malam itu juga, kembali Cina membuka mata dunia, bahwa masih ada negara besar di dunia ini selain sang adidaya, yang mendominasi dunia sejak Uni Soviet tenggelam dengan ‘glasnost’ dan ‘perestroika-nya’.

 

Tidak hanya ribuan personil yang mewarnai pentas kolosal ini, pesta extravaganza tersebut juga menunjukkan kecanggihan teknologi dan ketinggian budaya, yang dengan megahnya diwakili dengan parade bela diri, kostum, dan budaya tradisonal lainnya, serta sejarah penemuan benda penting di dunia oleh negara ini, kertas.

 

Pertanyaan yang pertama kali menyeruak di benakku adalah, berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk unjuk kemewahan malam itu? Stadion sarang burung bisa dikategorikan sebagai investasi jangka panjang, tapi bagaimana dengan kembang api, kostum personil, serta berbagai teknologi tingkat tinggi yang digelar hanya untuk malam itu?

 

Pertanyaan yang sama juga selalu muncul di saat menghadiri pesta pernikahan yang mewah di ibukota. Orangtua puas, pengantin bahagia, makanan nikmat dan berlimpah, para rekanan senang karena masuk daftar undangan. Namun setelah itu, apa?

 

Bila kita berhitung untuk Beijing, akan ada pemasukan besar dari para peserta olimpiade yang datang dari berbagai negara, baik untuk bertanding, berjalan-jalan, dan tentunya, membeli oleh-oleh. Tiket masuk ke area pertandingan, bisa dijadikan tambahan. Kesuksesan sebagai tuan rumah akan meningkatkan jumlah investor yang masuk, terlebih dengan iming-iming SDM murah yang melimpah di negeri ini, adalah dampak positif lainnya. Apalagi sejak 2001 lalu, persiapan olimpiade ini telah membuka lapangan kerja baru sebanyak 600 ribu orang/tahunnya, sehingga tingkat pengangguran per 2007 (estm.) adalah 4% dari total penduduk sebanyak 1,33 miliar (estm. Juli 2008). Jadi, mungkin pengeluaran sebanyak US$ 2.0 miliar dalam olimpiade ini masih bisa tergantikan, dan dampaknya sedikit banyak dapat dirasakan oleh rakyat Cina.

 

Bagaimana dengan pesta pernikahan? Ada beberapa orangtua yang menganggap pesta ini sebagai investasi, karena hadiah pernikahan yang ‘tidak berupa kado ataupun karangan bunga’ diharapkan akan menumpuk pula, sehingga bisa ‘balik modal’ atau malahan dapet ‘untung’.

 

Rekan-rejan yang dipestakan secara mewah inipun kebanyakan tidak dapat mengelak, karena paksaan orangtuanya. Selain alasan ‘investasi’, ada pula karena ‘hutang budi’ karena teman orangtua sebelumnya mengundang dalam hajatan anaknya, maka ini kesempatan untuk membalas budi yang bersangkutan. Dan yang tak kalah banyaknya, adalah alasan ‘kekuasaan/jabatan’, terpaksa mengadakan hajatan di hotel berbintang karena banyaknya tamu yang harus diundang, terkait dengan jabatan yang disandang.

 

Apapun alasannya, beradu kemewahan dalam pernikahan mungkin tak mengapa, bila di lingkungan sekitar kita mempunyai hidup yang sama, bisa makan enak setiap harinya, dan tidak ada lagi kaum dhuafa yang setiap hari harus berpikir, besok bisa makan/nggak, ya? Bisa juga pesta ini dilakukan di tengah masyarakat yang makmur sentosa, di mana seluruh fakir miskin dan anak terlantar dipelihara dengan baik oleh negara, sehingga tak ada lagi anak jalanan, ataupun para gelandangan dan peminta-minta.

 

Sayangnya, negara kita tidak seperti itu adanya. Masih banyak orang yang sibuk mengais makanannya di tempat sampah. Ada balita yang berjuang seharian di lampu merah untuk sekedar sebungkus nasi yang dimakannya. Ribuan anak putus/tak dapat melanjutkan sekolah karena melonjaknya biaya. Pengangguran masih 9,6% dari total penduduk sekitar 237 juta jiwa (estm. 2007). Entah berapa jumlah anak panti asuhan yang hingga saat ini terpaksa makan seadanya, karena tiada memadainya jumlah sumbangan yang diterima.

 

Perayaan pernikahan adalah berbagi syukur atas kebahagiaan yang didapatkan. Bila memang berbagai alasan ‘keterpaksaan’ di atas harus mengemuka, mungkin saudara-saudara yang tak seberuntung sang empunya hajat ada baiknya diikutsertakan. Karena berbagi kepada yang lebih membutuhkan tidak akan mengurangi kebahagiaan, bahkan justru membuatnya berlipat ganda. Rasa terima kasih yang tulus dari lubuk hati mereka, akan jauh lebih bermakna dibandingkan para kalangan ‘tingkat tinggi’, yang sudah terbiasa mendapatkan makanan sejenis di kesehariannya. Karena negara kita belumlah makmur sentosa dan mampu menjalankan kewajibannya, untuk menanggung seluruh fakir miskin dan anak terlantar di segenap penjuru negeri.

***

"Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta." (QS. Az-Zariyat : 19).

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fithriyah Abubakar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

M. Hilmy | Wiraswasta
Insya Allah... Isinya ringan seperti kapas, berbobot seperti baja, dan dalam seperti samudera.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0402 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels