QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Tak Seperti yang Terlihat
24 September 2012 pukul 08:30 WIB
Seperti Pakaian
10 Juli 2012 pukul 11:00 WIB
Bersih Bersinar, Cerah Bercahaya
28 Juni 2012 pukul 09:15 WIB
Hati-Hati Berinvestasi
23 Mei 2012 pukul 09:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 30 September 2012 pukul 10:00 WIB

Tempe di Tangan, Sate dalam Khayalan

Penulis : Abi Sabila

Seorang teman yang lama tak bertemu, tiba-tiba menelepon tepat ketika aku mengakhiri aktifitasku. Usai saling bertanya kabar, ia katakan bahwa maksud dan tujuannya meneleponku adalah untuk mengucapkan terima kasih atas inspirasi yang telah kubagikan melalui sebuah tulisan berjudul Berdamai dengan Keadaan yang kupublikasikan di blog beberapa waktu yang lalu.

Tak kurang dari lima belas menit, aku tekun menyimak ceritanya yang terdengar ceria. Sesekali kami tertawa saat aku iseng menggodanya.

Cerita bermula ketika ia diajak keluarga besarnya untuk mengunjungi Indonesia International Motorshow (IIMS) 2012, pameran otomotif terbesar di Indonesia yang diadakan di Jakarta, mulai 20 hingga 29 September 2012. Tak menemukan alasan untuk menolak, akhirnya ia pun ikut walau sebenarnya tak tertarik dengan pameran tersebut. Aku maklum, otomotif bukanlah minatnya. Berbeda jika diajak ke pameran buku, tentu ia tak akan menolaknya.

Hingga beberapa stand telah dikunjungi, ia tetap tak bisa menikmati suasana, melihat dan mencoba, memantaskan diri di dalam mobil produksi terbaru walaupun setiap pengunjung diperbolehkan untuk melakukan itu.

Ia baru bisa berhasil menyatukan badan dan pikirannya di satu tempat yang sama setelah teringat dengan sebuah tulisan berjudul Berdamai dengan Keadaan yang kupublikasikan di blog beberapa waktu lalu. Tak guna ia membayangkan berada di pameran buku sedang nyatanya ia berada di sana, di pameran motor bersama keluarga besarnya. Jelas, yang demikian hanya membuatnya tak bisa menikmati kebersamaan mereka. Berdamai dengan keadaan adalah sebuah solusi yang kemudian ia praktekkan, dan hasilnya ia bisa merasakan bahwa di sana, di tempat yang awalnya tak ia inginkan, ada juga kesenangan dan manfaat yang ia dapatkan.

Tentu akan berbeda cerita apabila ia tetap menuruti angannya, menemani keluarga besarnya dengan terpaksa. Sepandai apapun ia berpura-pura, tetap saja yang lain bisa melihat ekspresi wajah terpaksanya. Jika terus dibiarkan, tentu akan merusak atau setidaknya mengurangi kebersamaan dan kebahagiaan mereka. Alhamdulillah, setelah mempraktekkan, berdamai dengan keadaan, ia bisa menikmati saat-saat indah bersama keluarga besarnya.

Betapa saat-saat seperti itu sangatlah mengesankan. Bercengkerama dengan keponakan yang lucu-lucu dan menggemaskan, makan bersama, menikmati semangkuk mie rebus di bawah langit malam kota Jakarta. Bahkan akhirnya ia baru menyadari bahwa berdiri berdesakan di dalam kereta listrik, duduk berhimpitan di dalam bajaj adalah pengalaman pertamanya. Sungguh, yang demikian itu tak akan ia rasakan indahnya apabila ia tak mencoba berdamai dengan keadaan.

***

Setelah ikhtiar maksimal diupayakan, namun hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dibayangkan, maka berdamai dengan kenyataan adalah yang semestinya dilakukan. Selain membuat hidup terasa lebih ringan, ini juga salah satu bentuk penerimaan atas apa yang Allah tetapkan. Bagaimanapun manusia hanya bisa berusaha, Allah-lah yang menentukan hasilnya. Maka berdamai dengan keadaan, kenyataan adalah yang terbaik untuk dilakukan.

Seperti sebuah pesan bijak yang akan selalu kuingat, lebih nikmat makan berlauk tempe tapi kenyataan daripada makan berlauk sate tapi hanya dalam angan. Tak dilarang kita untuk berangan, bermimpi dan merencakan masa depan, tapi janganlah lupa untuk bersyukur dan menikmati masa sekarang. Nikmati yang ada, jangan menghayalkan yang tidak ada, karena yang seperti ini justru sering menjadi pemicu rasa kecewa, yang jika tak segera dibenahi akan membuat hati (semakin) tersiksa.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0666 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels