Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Sedihnya Tukang Serabi
26 Juli 2012 pukul 09:30 WIB
Memaksa Allah di Pondok Indah
20 Juli 2012 pukul 10:00 WIB
Peduli Kulit Lupa Isinya
17 Juli 2012 pukul 10:00 WIB
Seseorang dari Masa Lalu
14 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Memelihara Dendam
10 Juli 2012 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 1 Agustus 2012 pukul 09:45 WIB

Kejujuran Belum Mati

Penulis : Bayu Gawtama

Belum lama saya mengenalnya, baru beberapa hari yang lalu saat saya mengantar seorang teman untuk mengganti kacamatanya. Pak Burhan, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah dua puluh lima tahun menjalani profesi sebagai penjual kacamata, “optik berjalan” istilahnya. Tetapi pertemuan yang hanya satu hari dan tidak disengaja itu seolah membuat saya merasa baru saja bertemu teman lama yang teramat saya rindui. Secara fisik, saya memang baru bertemu kali itu. Dan memang bukan sosoknya yang saya rindui, melainkan apa yang baru saja diutarakannya tentang sekelumit pengalamannya mencari nafkah sebagai penjual kacamata.

Bermula dari teman saya yang memaksa saya untuk ikut bersamanya memesan kacamata. Saya harus ikut, katanya. Sementara ia tak menjelaskan maksud ‘paksaannya’ itu, kecuali satu kalimat, “Kamu akan mendapat satu pelajaran lagi.” Tak perlu berpikir lama, saya mengiyakan ajakannya. Jika berkenaan dengan soal pembelajaran, tak ada kata penolakan untuk urusan satu ini.

Enam ratus ribu, biaya yang harus dikeluarkan teman saya untuk satu kacamata barunya. Baginya, angka sebesar itu tidak masalah, karena ia akan mendapat penggantian dari kantornya. “Pak Burhan, kita kan sudah langganan. Tolong dibuatkan kwitansinya satu juta ya pak, nanti saya kasih seratus ribu buat bapak.” Tak menyangka, kalimat itu yang keluar dari mulut teman saya saat ia menyodorkan enam ratus ribu untuk pembayaran kacamatanya.

Dahinya berkerut, matanya mengerenyit memandang tajam ke arah teman saya. Ia seperti tengah bertanya-tanya, benarkah permintaan barusan keluar dari langganannya yang satu ini? “Apa saya tidak salah dengar, pak? Bukankah bapak sudah tahu sikap saya untuk hal ini?” Orang di sebelah saya yang baru saja memesan kacamata hanya menyeringai, kemudian terkekeh kecil. Kemudian ia bangkit dan memeluk Pak Burhan. “Ternyata, Pak Burhan sekarang tidak berubah dengan Pak Burhan dua tahun lalu, saat pertama kali saya memesan kacamata lewat bapak,” ujar teman saya yang ternyata hanya menguji Pak Burhan.

Dua puluh lima tahun ia menjalani profesinya sebagai optik berjalan, tidak bisa dibilang cukup penghasilan yang bisa diperolehnya. Untuk pesanan satu kacamata, tak jarang ia hanya mendapat keuntungan dua puluh lima ribu rupiah, walaupun sesekali ia merasakan keuntungan empat kali lebih besar dari itu. “Ya, nggak sebulan sekali, pak,” ujarnya singkat. Dalam seminggu paling banyak dua pesanan kacamata yang diterimanya, bahkan kadang tak satupun ia mendapat pesanan dalam satu pekan.

Namun, keadaan yang semakin menghimpitnya itu ternyata tak pernah ia jadikan alasan untuk menerima tawaran untuk membuat kwitansi di luar kewajaran. “Banyak yang minta saya bikin kwitansi semacam itu, selalu saya tolak. Duitnya nggak seberapa, tapi dosanya itu,” menjawab pertanyaan saya, berapa banyak langganannya yang meminta jumlah pembayarannya dilebihkan dalam kwitansi.

“Bapak tidak takut langganannya akan beralih ke yang lain?” tanya saya disambutnya dengan seringai tawanya yang sedikit tertahan. “Yang saya tahu, tangan kanan itu tempatnya tetap di kanan, nggak pernah pindah ke kiri,” ia memperjelas kalimatnya, bahwa kebenaran nggak akan pernah ditinggalkan, dan menurutnya, justru semakin banyak pemesan kacamata yang datang kepadanya. Padahal ia tidak pernah mengenal sebelumnya. “Itu di luar langganan, kalau yang sudah langganan sih pasti datang ke sini, seperti teman bapak ini,” tawanya mulai lepas.

Pak Burhan, di balik perawakannya yang kecil, kurus, dan berkulit hitam itu tersimpan hati yang jernih, yang di dalamnya terukir indah kejujuran yang senantiasa terawat indah. Dan teman saya benar, saya baru saja mendapati sebuah kenyataan, bahwa kejujuran ternyata belum benar-benar mati.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dede Wahyudin | Karyawan Swasta
Syukron... Akhirnya saya bisa menemukan media penyejuk hati. Saya senang sekali. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan keislaman saya Aamiin. Keep istiqomah dan salam ukhuwah.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0585 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels