Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Peduli Kulit Lupa Isinya
17 Juli 2012 pukul 10:00 WIB
Seseorang dari Masa Lalu
14 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Memelihara Dendam
10 Juli 2012 pukul 15:00 WIB
Mencoba Mengerti
8 Juli 2012 pukul 08:30 WIB
Hingga Detik Terakhir
3 Juli 2012 pukul 09:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 20 Juli 2012 pukul 10:00 WIB

Memaksa Allah di Pondok Indah

Penulis : Bayu Gawtama

Minggu tengah malam, telepon seluler saya berdering, suara isak tangis sesegukan di seberang telepon, “Bang, tolongin Ade. Ade nabrak orang, bang. Buruan ke sini, bang.” Saya masih setengah sadar mendapat telepon itu. Suara si bungsu, adik perempuan saya terdengar sangat parau dan mudah terbaca hatinya sangat kacau.

Rupanya, minggu malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, ia dan suaminya beserta ibu tengah menuju Jakarta sepulang kondangan di Ciamis. Di daerah Cileunyi, beberapa kilometer sebelum masuk tol, menabrak seorang wanita yang menyeberang jalan. Kondisi wanita itu kritis dan dalam keadaan koma.

Saya mencoba menenangkan hatinya, “Besok pagi-pagi Abang langsung ke Bandung,” itu saja janji saya.

Senin pagi, saya langsung menghubungi sebuah agen shuttle bus untuk memesan seat ke Bandung. Rupanya Allah belum mengizinkan saya lebih awal ke Bandung, karena baru dapat seat pukul 14.30 WIB. Usai dzuhur, langsung memacu motor ke arah Bendi Raya, Tanah Kusir, untuk menitipkan motor dan minta diantar seorang teman.

Dari Bandung, adik tak henti menelepon, “Abang bisa lebih cepat ke Bandung? Butuh darah A+ jenis PRC tujuh kantong sekarang juga, karena dia mau dioperasi, cepat carikan, bang.”

Wah, saya jadi ikut panik. Namun tak berapa lama saya menghubungi Bambang, sahabat saya. Bambang pun segera mengontak Syamsudin, rekan kami di Bandung. Dalam hati, kenapa saya tidak terpikir menghubungi langsung Syamsudin ya.

Rupanya, di Bandung Syamsudin tengah berada dalam suasana kampanye calon walikota. Ia memanfaatkan momen itu untuk mengumumkan kepada khalayak soal kebutuhan darah itu. Alhamdulillah, satu masalah teratasi.

Kembali ke rencana perjalanan ke Bendi Raya, di tengah jalan motor kehabisan bensin, mampirlah ke pom bensin. Mulanya saya cukup kaget karena ternyata hanya mengantongi uang sebelas ribu rupiah. Akhirnya, sepuluh ribu saya belikan bensin. “Nanti ambil uang dulu di ATM buat bayar travel,” pikir saya.

Pukul 14.10, saya sudah tiba di Pondok Indah di pool shuttle bus. Namun sebelumnya saya harus mencari ATM guna mengambil sejumlah uang untuk membayar shuttle bus.

Masya Allah, saya kembali terkaget, kali ini lantaran kartu ATM yang saya bawa diyakini tidak ada uangnya. Sedangkan kartu ATM yang ada uangnya tertinggal di rumah. Saya pun agak bingung, karena beberapa menit lagi jadwal keberangkatan. Saya pun memutuskan untuk tetap mengecek di ATM, siapa tahu masih ada yang bisa diambil. Something stupid, lagi-lagi saya melakukan kebodohan, sudah tahu tidak ada uang masih saja penasaran mengecek saldo.

Saya pun memutuskan untuk kembali ke agen shuttle bus dan meminta saya dijadwalkan pukul 15.30 saja. Sebelumnya saya menelepon teman agar mentransfer sejumlah uang, sekadar untuk ongkos travel. Beberapa menit kemudian, segera saya kembali lagi ke ATM, dengan keyakinan sudah ada uang di rekening saya.

Kembali saya harus menelan ludah, saldonya masih tetap sama seperti semula. Beberapa kali menelepon teman, dan beberapa kali mengecek saldo, hasilnya tetap belum berubah. Saya hampir putus asa, saya ingin pulang saja dan batal ke Bandung. Tapi saya teringat adik saya, ia pasti tengah kebingungan, sebingung saya yang terdampar di tengah hari di Pondok Indah.

Kembali ke Bendi pun bingung, uang di kantong tinggal seribu. Pilihannya, naik bis dengan resiko diomelin kondektur atau beli air mineral untuk membasahi kerongkongan. Tapi dua opsi itu tak saya ambil, biarkan saja uang seribu ini tetap bersemayam di kantong.

Pukul 15.25 WIB, artinya 5 menit lagi waktu keberangkatan shuttle bus. Saat itulah, di depan ATM saya berdo'a dan sedikit memaksa, “Ya Allah, kalau memang saya ditakdirkan ke Bandung sore ini, pasti ada jalannya. Tapi kalau gagal, memang Engkau belum mengizinkan.”

Belum sepuluh detik, saya mengangkat tangan lagi, “Tapi ya Allah, tolong ya Allah, uang saya tinggal seribu, saya bisa apa? Biarkan saya ke Bandung ya Allah, terserah Engkau bagaimana caranya.” kali ini lebih memaksa.

Mungkin saya akan kembali melakukan kebodohan dengan memasuki lagi ruang ATM. Dalam hitungan saya, sudah empat kali saya bolak-balik ruang itu. Mungkin tukang parkir di depan bank itupun ikut menghitungnya.

Tetapi, Subhanallah, Allahu Akbar! Dugaan saya salah, ini bukan kebodohan, ini keberuntungan, dan Allah meridhai saya ke Bandung. Ada uang 150 ribu di rekening saya, saya tak peduli uang dari mana, langsung tarik dan duduk manislah saya di shuttle bus.

Dalam perjalanan ke Bandung, teman yang tadi janji transfer menelepon, “Maaf, belum bisa transfer.” Nah loh, saya bingung, mulanya saya pikir ini uang dia yang mengirimnya. Tapi saya tidak mau ambil pusing, ini rezeki dari Allah, selalu datang dari arah yang tidak diduga.

Selang satu jam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, “Pak, honor tulisan bulan ini sudah saya transfer ya, maaf telat baru hari ini.”

Mahasuci Allah yang telah mengatur segalanya. Andai ia tepat waktu mengirim honor tulisan itu, mungkin saya benar-benar gigit jari tak jadi ke Bandung. Pelajaran penting buat saya, Allah selalu tepat waktu dalam memberikan rezeki maupun pertolongan, meski kita kerap berpikir sebaliknya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

agung sutrisno | PNS
Isinya bagus, ringan, gampang dibaca, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Keep on good works!!!
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0523 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels