|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Ahad, 15 Juli 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Bersama 3 trainer alumni Trainer Bootcamp dan 4 fasilitator dengan membawa bendera Kubik Kreasi Sisilain, saya memberikan training bagi aparatur Pemkab Sumbawa Barat selama 2 hari. Untuk sampai ke Taliwang, ibukota Sumbawa Barat, kami harus menempuh perjalanan darat, laut, dan udara. Dari Jakarta terbang ke Lombok. Setelah itu perjalanan darat 2 jam, kemudian naik kapal feri 2 jam, diakhiri perjalanan darat 1 jam.
Selama di sini, kami menyaksikan pembangunan kota Taliwang yang sedang menggeliat. Tampak gedung Pemda yang mirip dengan Gedung Putih. Ada pula masjid agung Darussalam dengan kolamnya yang indah –dari tempat wudhu kita seolah berada di Sea World, karena kolam di depan masjid berada lebih tinggi dari tempat wudhu dan dibatasi dengan kaca tebal.
Sebagai penikmat kuliner, saya menyisihkan waktu untuk berburu makanan khas Sumbawa Barat, sepat dan pelopo. Sepat adalah ikan yang dimasak berkuah dicampur beberapa sayuran, rasanya nikmat luar biasa. Sedangkan pelopo adalah susu kerbau dicampur gula merah. Baru pertama kali ini saya makan kedua makanan tersebut. Tentu saya tak lupa membeli madu asli Sumbawa yang dipanen langsung dari hutan. Selain itu, saya juga diajak panitia untuk mencicipi telur penyu.
Saya berbagi pengalaman baru tersebut melalui Twitter. Ada banyak respon yang datang ke time line saya. Salah satunya adalah perihal telur penyu. Sejujurnya saya baru tahu bahwa penyu itu binatang yang sedang dilindungi dan telurnya tidak boleh sembarangan dikonsumsi.
Kunjungan saya ke Sumbawa Barat kali ini juga memberikan sebuah pelajaran penting, betapa pembangunan di Indonesia masih belum merata. Contohnya, di Jakarta listrik mati beberapa saat saja masyarakatnya sudah banyak yang protes. Sementara di Sumbawa Barat, di mana perusahaan kelas dunia Newmont berdiri, listrik beberapa kali padam selama 2 hari saja di sini dianggap biasa. Sungguh ironis, daerah pemilik tambang emas ini seolah tidak memperoleh cipratan emas yang menjadi sumber kekayaan alamnya. Ke mana larinya kekayaan alam negeriku?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
