QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Film Soegija dan Tudingan Propaganda
24 Juni 2012 pukul 02:00 WIB
Membiarkan Papua Merdeka?
19 Juni 2012 pukul 10:00 WIB
Mas, Uang Rokoknya Mana?
12 Juni 2012 pukul 08:30 WIB
Surat Terbuka untuk Wapres Terkait Adzan
3 Mei 2012 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 11 Juli 2012 pukul 08:00 WIB

Bon Kosong dan Kerentanan Sosial

Penulis : Muhammad Nahar

Sebut saja namanya Udin. Seorang pemuda yang hanya lulusan SMP ini beruntung mendapat pekerjaan sebagai seorang office boy di sebuah kantor. Salah satu tugas Udin adalah memotokopi berkas-berkas dari kantor. Memang, selain gaji bulanan, Udin juga mendapat uang makan dan tunjangan lainnya walau tidak terlalu besar. Namun, karena banyaknya dokumen yang harus difotokopi, Udin kadang terpaksa menggunakan uangnya sendiri terlebih dahulu untuk membayar biaya fotokopi, kemudian ditagihkan ke bagian keuangan di kantornya. Untuk bisa mendapat penggantian itu, Udin harus memberikan bukti berupa bon dari kios fotokopi langganan kantor.

Karena pengaruh lingkungan yang kurang baik dan kecanduannya akan rokok, Udin mulai berbuat curang. Saat melaksanakan tugasnya untuk memotokopi dokumen-dokumen kantor, dia meminta pada operator dibuatkan bon kosong. Bon itu dia isi sendiri agar ada uang lebih yang bisa dia kantongi. Udin memang sudah lama menjadi seorang perokok, sehingga dengan uang mark-up itu dia bisa membeli rokok tanpa harus mengurangi gaji dan uang makan. Manipulasi tersebut berlangsung lancar dalam waktu cukup lama.

Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, terjadilah sesuatu yang di luar perhitungan Udin. Ibu Ani, kepala bagian keuangan di kantor tersebut, menemukan sebuah bon kosong yang benar-benar kosong. Tidak ada sedikitpun angka yang tertera di sana. Karena curiga, Ibu Ani pun memanggil Udin dan menanyakan perihal bon kosong itu. Udin tidak bisa mengelak dan terpaksa mengakui perbuatannya. Udin pun dipecat dari pekerjaannya dan sampai sekarang dia masih menganggur. Ijazahnya yang hanya sampai SMP dan kredibiltasnya yang sudah tercoreng gara-gara mark-up bon kosong yang dilakukannya membuat Udin kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Lain lagi dengan Raihan. Pemuda yang sudah lama menganggur itu suatu saat melihat pengumuman penerimaan pegawai di salah satu warnet yang menjadi langganannya. Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengatakan ingin bekerja di sana. Setelah diwawancarai dan diuji kemampuannya mengoperasikan komputer, Raihan pun diterima di sana. Memang, mula-mula Raihan merasa enjoy bekerja di sana walaupun pekerjaannya tidak terlalu bergengsi. Yang penting kantongnya terisi uang lagi walau tidak terlalu tebal.

Namun sayang seribu sayang, setelah beberapa lama bekerja, Raihan mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Banyak para pelanggan yang meminta dibuatkan bon kosong. Termasuk orang-orang yang bekerja di sebuah proyek Superblok yang sedang berlangsung di dekat warnet tempat Raihan bekerja. Raihan memang dapat memahami bahwa para pekerja tersebut mengganggap meminta dibuatkan bon kosong bukanlah kejahatan serius. Toh para pemilik modal di Mega Proyek Superblok itu masih punya banyak uang, begitu pikir mereka. Namun, yang paling menyiksa batin Raihan adalah rasa berdosa yang timbul setiap kali dia terpaksa melakukan hal buruk tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang cukup memahami ajaran agamanya yaitu Islam, Raihan tahu bahwa memberikan kesaksian palsu, termasuk dalam bentuk bon kosong, adalah dosa besar. Tidak peduli apakah selisih antara jumlah uang yang tertera dalam bon tersebut dan jumlah sebenarnya sedikit atau banyak. Apakah selisihnya hanya 5000 rupiah atau 5 juta rupiah, keduanya sama-sama dosa besar.

Memang, kadang Raihan berhasil menolak membuatkan bon kosong itu walaupun dengan perjuangan yang alot, namun terkadang dia gagal. Dengan berat hati, dia pun terpaksa menandatangani sebagian bon kosong tersebut, apalagi saat si klien sudah mengancam. Akhirnya, dengan berat hati Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Raihan pun kini terpaksa kembali mengisi hari harinya dengan perjuangan mencari pekerjaan yang sesuai.

Kedua kisah di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia ini masih meremehkan hal-hal buruk yang dianggap kecil. Kita seringkali lupa bahwa bencana dan kerusakan besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil. Pak Ahyudin, presiden Aksi Cepat Tanggap, sebuah lembaga sosial yang biasa menangani bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, mengatakan bahwa bencana sebesar apapun berawal dari kerentanan, baik kerentanan alam ataupun kerentanan sosial. Jika kerentanan-kerentanan itu dianggap remeh dan tidak segera diatasi, bencana dan kerusakan yang lebih besar akan menanti.

Korupsi kecil-kecilan dengan modus bon kosong seperti pada dua kisah di atas adalah contoh kerentanan sosial yang seringkali diremehkan. Kejahatan seperti itu pada akhirnya membawa bencana kepada si pelaku dan orang-orang yang dekat dengannya. Ada pula yang akhirnya dipecat dan ada pula yang mengundurkan diri karena tidak tahan menahan rasa sakit hati dan perasaan berdosa yang dalam. Banyak pula yang terjerumus ke dalam dunia hitam kejahatan karena sudah terlalu sakit hati, frustasi. dan putus asa.

Budaya korupsi memang sudah menjangkiti negeri ini sampai ke tingkat strata sosial terendah. Jika seorang office boy saja bisa melakukan korupsi dan manipulasi dengan modus bon kosong seperti pada kisah-kisah di atas, apalagi yang tingkatnya lebih tinggi. Jika seorang office boy bisa memanipulasi tagihan dengan segala cara, termasuk dengan bon kosong, maka seoerang pejabat tinggi bisa lebih leluasa lagi melakukan kejahatan seperti itu. Hanya dengan coretan tanda tangannya, proyek yang sebenarnya bermasalah atau diragukan urgensinya untuk kepentingan masyarakat bisa lolos dan dilaksanakan. Akibatnya, beban keuangan yang ditanggung negara makin berat, rakyat makin banyak yang miskin, dan kerentanan sosial yang berpotensi menimbulkan bencana makin meluas.

Sudah saatnya masyarakat bangkit dan melawan budaya korup, mark-up, dan bon kosong seperti yang terjadi selama ini agar tidak menimbulkan bencana-bencana yang besar dan menimbulkan kerugian berat di kemudian hari.

Referensi : Tarbiyah Finansial, Dwi Swiknyo, Diva Press

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0721 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels