|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
http://twitter.com/bayugawtama |





Ahad, 17 Juni 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Bayu Gawtama
Dulu sering terjadi seorang pengendara motor atau mobil jika menabrak seekor kucing hingga mati, maka ia segera menghentikan kendaraannya, segera menguburnya, dan berdo'a agar tak terjadi apapun terhadap diri dan keluarganya. Bahkan jika yang menabrak kucing seorang wanita yang tengah hamil, ketakutannya makin bertambah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu terhadap janin yang tengah dikandungnya. Intinya, jika seseorang menabrak seekor kucing hingga mati, takutnya bukan kepalang sehingga harus menguburnya terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Sebab kalau tidak, akan terjadi sesuatu terhadap si penabrak.
Saya pikir mitos itu sudah lama hilang ditelan perkembangan peradaban anak manusia. Namun ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar. Belum lama saya melihat lagi kejadian tersebut. Seseorang tengah sibuk menggali tanah di pinggir jalan, motornya di parkir tak jauh darinya. Rupanya ia tengah mengubur seekor kucing yang baru saja ditabraknya. “Takut saya kenapa-napa di jalan nanti, mas,” ujarnya singkat tentang alasannya mengubur kucing mati itu.
Tidak ada yang salah “perasaaan bersalah” setiap kali seseorang menabrak seekor kucing hingga mati. Namun kalau boleh membandingkannya dengan berbagai kasus tabrak lari, si pengendara malah memacu lebih cepat kendaraannya. Ada yang karena menghindari amukan massa, ada pula yang memang benar-benar tidak berani bertanggungjawab. Padahal, boleh jadi si pengendara tidak bertanggungjawab tersebut pernah menabrak kucing dan tetap dia berhenti lalu “bertanggungjawab” menguburnya.
Aneh. Kadang saya merasa aneh dengan orang-orang seperti ini. Ia sangat ketakutan saat menabrak seekor kucing, tetapi tetap melaju kencang ketika manusia yang ditabraknya. Apakah kucing lebih berharga dari nyawa manusia? Bukan, tentu bukan itu alasannya. Jelas karena ia takut terkena akibat langsung yang sering dijadikan mitos bagi siapapun penabrak kucing. Tetapi tetap saja aneh, kenapa seorang pelaku tabrak lari tidak merasa takut “terjadi apa-apa” lantaran menabrak seseorang?
Ini yang mesti diluruskan. Ketakutan dan merasa bersalah semestinya jangan salah alamat. Seharusnya seseorang itu takut kepada Allah setiap kali ia melakukan kesalahan. Memang benar ada kewajiban untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan, tetapi taubat tetap dialamatkan kepada Allah. Penabrak kucing misalnya, ia tak semestinya merasa takut berlebihan ketika menabrak kucing. Sebab apa yang terjadi sesudah ia menabrak kucing, itu semua ada di tangan Allah.
Contoh menabrak kucing ini, sebenarnya bisa menjadi cermin betapa kita masih sering salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah setiap kali melakukan kesalahan. Misalnya saja orang yang melakukan korupsi, ia lebih takut perilakunya diketahui rekan sekerja, atasan, bawahan, atau tercium aparat keamanan. Sebaliknya, ia tidak pernah merasa bahwa di detik pertama ia menjamah sesuatu yang bukan miliknya itu, Allah tidak buta dan pasti mengawasinya.
Ketakutan dan rasa bersalah sering kali salah alamat. Khusus si penabrak lari, ia lebih takut kepada amukan massa ketimbang murka Allah lantaran telah tidak bertanggungjawab menghilangkan nyawa manusia. Si koruptor misalnya, lebih takut masuk penjara ketimbang masuk neraka. Dan tentu saja masih banyak lagi berbagai perilaku yang mengalamatkan rasa bersalahnya tidak pada tempatnya.
Menulis rangkaian kalimat di atas, saya jadi malu sendiri. Sambil terus mengingat-ingat, berapa kali saya salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
