HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Sesal Hingga Pagi
11 Juni 2012 pukul 09:00 WIB
Sahabat itu Kekayaan Sebenarnya
6 Juni 2012 pukul 11:00 WIB
Jangan Jadi Bintang, Nak!
2 Juni 2012 pukul 17:00 WIB
Senyum itu Kekuatan
1 Juni 2012 pukul 11:00 WIB
Teguh Pegang Amanah
29 Mei 2012 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 17 Juni 2012 pukul 10:00 WIB

Ketakutan yang Salah Alamat

Penulis : Bayu Gawtama

Dulu sering terjadi seorang pengendara motor atau mobil jika menabrak seekor kucing hingga mati, maka ia segera menghentikan kendaraannya, segera menguburnya, dan berdo'a agar tak terjadi apapun terhadap diri dan keluarganya. Bahkan jika yang menabrak kucing seorang wanita yang tengah hamil, ketakutannya makin bertambah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu terhadap janin yang tengah dikandungnya. Intinya, jika seseorang menabrak seekor kucing hingga mati, takutnya bukan kepalang sehingga harus menguburnya terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Sebab kalau tidak, akan terjadi sesuatu terhadap si penabrak.

Saya pikir mitos itu sudah lama hilang ditelan perkembangan peradaban anak manusia. Namun ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar. Belum lama saya melihat lagi kejadian tersebut. Seseorang tengah sibuk menggali tanah di pinggir jalan, motornya di parkir tak jauh darinya. Rupanya ia tengah mengubur seekor kucing yang baru saja ditabraknya. “Takut saya kenapa-napa di jalan nanti, mas,” ujarnya singkat tentang alasannya mengubur kucing mati itu.

Tidak ada yang salah “perasaaan bersalah” setiap kali seseorang menabrak seekor kucing hingga mati. Namun kalau boleh membandingkannya dengan berbagai kasus tabrak lari, si pengendara malah memacu lebih cepat kendaraannya. Ada yang karena menghindari amukan massa, ada pula yang memang benar-benar tidak berani bertanggungjawab. Padahal, boleh jadi si pengendara tidak bertanggungjawab tersebut pernah menabrak kucing dan tetap dia berhenti lalu “bertanggungjawab” menguburnya.

Aneh. Kadang saya merasa aneh dengan orang-orang seperti ini. Ia sangat ketakutan saat menabrak seekor kucing, tetapi tetap melaju kencang ketika manusia yang ditabraknya. Apakah kucing lebih berharga dari nyawa manusia? Bukan, tentu bukan itu alasannya. Jelas karena ia takut terkena akibat langsung yang sering dijadikan mitos bagi siapapun penabrak kucing. Tetapi tetap saja aneh, kenapa seorang pelaku tabrak lari tidak merasa takut “terjadi apa-apa” lantaran menabrak seseorang?

Ini yang mesti diluruskan. Ketakutan dan merasa bersalah semestinya jangan salah alamat. Seharusnya seseorang itu takut kepada Allah setiap kali ia melakukan kesalahan. Memang benar ada kewajiban untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan, tetapi taubat tetap dialamatkan kepada Allah. Penabrak kucing misalnya, ia tak semestinya merasa takut berlebihan ketika menabrak kucing. Sebab apa yang terjadi sesudah ia menabrak kucing, itu semua ada di tangan Allah.

Contoh menabrak kucing ini, sebenarnya bisa menjadi cermin betapa kita masih sering salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah setiap kali melakukan kesalahan. Misalnya saja orang yang melakukan korupsi, ia lebih takut perilakunya diketahui rekan sekerja, atasan, bawahan, atau tercium aparat keamanan. Sebaliknya, ia tidak pernah merasa bahwa di detik pertama ia menjamah sesuatu yang bukan miliknya itu, Allah tidak buta dan pasti mengawasinya.

Ketakutan dan rasa bersalah sering kali salah alamat. Khusus si penabrak lari, ia lebih takut kepada amukan massa ketimbang murka Allah lantaran telah tidak bertanggungjawab menghilangkan nyawa manusia. Si koruptor misalnya, lebih takut masuk penjara ketimbang masuk neraka. Dan tentu saja masih banyak lagi berbagai perilaku yang mengalamatkan rasa bersalahnya tidak pada tempatnya.

Menulis rangkaian kalimat di atas, saya jadi malu sendiri. Sambil terus mengingat-ingat, berapa kali saya salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Manisnya Persaudaraan
Ahad, pukul 09:00 WIB
Hotel Santika Premiere Beach Resort Bali - Santika Package
Mundzakir | Teknisi Printer
Wah, udah beberapa tahun ane gak masuk KSC, sampe lupa account lama, akhirnya buat lagi. Tapi sekarang fasilitasnya dahsyat.
KotaSantri.com © 2002 - 2013
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1771 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels