|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Selasa, 27 Maret 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Minggu, 25 Maret 2012, saya memenuhi undangan KBRI (Kedutaaan Besar Republik Indonesia) di Singapore untuk memberikan seminar Tuhan Inilah Proposal Hidupku. Acara yang dikoordinir oleh Saung Istiqomah ini dihadiri oleh orang-orang Indonesia yang bekerja dan kuliah di negeri Singa itu. Saya merasa senang bisa kenal dengan Duta Besar Indonesia di Singapore, ngobrol dengan para mahasiswa cerdas asal Indonesia, dan juga diskusi dengan orang-orang hebat yang bekerja di sana.
Saat sedang berdiskusi dengan salah satu peserta, kami memerlukan informasi dari internet, secara refleks saya membuka tas untuk membuka iPad. Ternyata iPad saya tidak berada di tempatnya alias hilang. Teman-teman panitia langsung menghubungi taxi yang saya tumpangi dari bandara ke KBRI. Sayang sekali, hasilnya nihil.
Saya sedih? Ya, karena iPad itu adalah gadget kesayangan yang selalu setia menemani saya ke manapun. Terkadang saya bawa ke toilet, ke hotel, saat training, teman di pesawat dan perjalanan, bahkan ke masjid pun saya bawa. Tidak jarang, saat ngobrol dan diskusi dengan istri dan anakpun iPad ada di pangkuan.
Sebelum tidur saya merenung, dengan hilangnya “sahabat setia” saya itu, pelajaran apa yang hendak Allah berikan kepada saya?
Alhamdulillah saya menemukan pelajaran itu. Pertama, harta itu pada hakekatnya milik Allah, kita hanya diminta mengelolanya. Ibaratnya, saat ada orang titip sesuatu di rumah, maka kita tak boleh marah saat yang punya mengambilnya.
Kedua, jangan mencintai sesuatu berlebihan apalagi sampai melenakan yang lain. Saya jadi teringat driver saya pernah mengeluh, “Setelah punya iPad, bapak jarang ngobrol lagi dengan saya.” Bahkan saat bangun sepertiga malam terkadang lebih asyik bermain iPad dibandingkan berlama-lama bersujud dan berdo'a. IPad telah menjadi “mainan baru” yang terkadang melenakan saya. Maka, sepantasnyalah iPad itu diambil oleh Sang Maha Pemilik.
Ketiga, boleh jadi iPad itu penebus kesalahan. Berkali-kali saya pernah meledek seorang karyawan di kantor dengan ledekan yang terkesan “merendahkan” dan menghina. Dia tentu tidak berani membalas. Istri saya pernah mengingatkan tentang hal itu. Mungkinkah iPad itu penebus kekhilafan saya “merendahkan” karyawan? Wallahu’alam. Yang saya yakin, musibah itu mengurangi dosa yang pernah saya lakukan.
"Selamat jalan iPad-ku, kau telah memberi pelajaran kepadaku agar bila penggantimu datang, aku sudah memiliki sudut pandang baru bagaimana memperlakukan iPad baru itu."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.