Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://febrian.kotasantri.com
Bergabung
28 Maret 2011 pukul 00:07 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
http://febrianhadi.wordpress
febrianhadi
http://facebook.com/Febrian Hadi Santoso
http://twitter.com/febrianhadi
Tulisan Febrian Lainnya
Kekuatan Mimpi
30 Oktober 2011 pukul 13:00 WIB
"Surat untuk Sahabat"
7 April 2011 pukul 10:10 WIB
Belajar dari Bulan, Bumi, dan Matahari
1 April 2011 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 16 Februari 2012 pukul 09:30 WIB

Belajar dari Proses

Penulis : Febrian Hadi Santoso

Beberapa hari belakangan euforia mengenai nilai akhir semester sangat heboh di kampus, seakan tidak ingin ketinggalan keeksistensiannya para mahasiswa pun membanjiri situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan mungkin di BBM dengan celotehan mereka juga soal nilai.

Ada yang gembira, ada yang bersedih. Itulah liku-liku nasib sebagai mahasiswa. Kebanyakan mahasiswapun hanya mengejar IP (Indeks Prestasi) yang bagus. Di benak mereka tertanam bila mendapat nilai bagus itu artinya kelak akan menjadi orang sukses dan akan menjanjikan kebahagiaan.

Sedangkan mahasiswa yang mendapat nilai kurang baik hanya bisa gigit jari, menyesal, dan menangisi semua kesempatan belajar yang ada. Kata menyesal selalu muncul di akhir cerita, memang begitu hukumnya, kalau kata menyesal itu muncul di awal itu namanya harapan. Kebanyakan dari mahasiswa akan menyalahkan tim pengajar karena memberi nilai kurang memuaskan. Kecenderungan memberikan stereo type, penilaian negatif tanpa mau introspeksi diri. Tetapi apakah dengan nilai yang kurang memuaskan lalu mereka harus kecewa? Rasanya sayang sekali kalau hanya menyesal dan menangis. Kalau kita mau sedikit merundukkan hati, maka Allah Yaa Lathiif akan melembutkan hati kita dan kita akan berpikir lebih jernih. Mengapa kita bisa mengalami kegagalan ataupun kesuksesan dalam belajar? Cerita yang saya alami beberapa waktu belakangan ini, membuat hati saya tergugah untuk memaknai arti dari “euforia nilai”.

Sebenarnya apa sih yang dicari dari kuliah? Kuliah pada hakekatnya adalah bentuk pengabdian kepada Yang Mahacerdas, Ar-Rasyiid. Jadi kenapa kalau nilai kurang memuaskan kita malah menganggap diri kita yang bodoh ataupun dosen yang terlalu pelit memberikan nilai? Saya jadi ingat pernah mendapatkan sebuah pesan singkat yang berbunyi, “Kalau apa yang kita inginkan belum dipenuhi oleh Allah, maka coba lihat shalat kita. Sudahkah kita menjalankannya tepat waktu?”

Mungkin saya bisa menganalogikan pesan itu dengan cerita ini. Ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai yang kurang memuaskan, cobalah lihat usaha yang mereka lakukan. Sudahkah mereka belajar dengan giat, sudahkah mereka benar-benar memahami materi yang dujikan, atau sudahkah mereka mau mengakui kekuatan dan kelemahan diri dalam belajar. Sudahkah mereka menghargai prosesnya?

Jika kita menginginkan rejeki yang lebih, maka Allah menganjurkan kita untuk melakukan shalat Dhuha dan melakukan shalat malam untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Jika kita menginginkan nilai dan IP yang baik, sudahkah kita belajar dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita benar-benar meminta pertolongan kepada-Nya?

Jangan sampai kita menutup hati dengan mengikuti emosi, ketika melihat kenyataan mendapat nilai yang kurang memuaskan, alangkah bijaknya kita kembalikan kepada diri kita. Introspeksi diri untuk menilai usaha yang kita lakukan dan belajar menghargai proses di balik pencapaian suatu hasil.

Jika kita mampu menghargai prosesnya, maka kita akan mampu merasakan kebahagiaan. Sesungguhnya kebahagiaan bukan berada di angka A, B, C, atau D sebagai pencapaian nilai, tetapi kebahagiaan berada di balik proses kejujuran (tidak mencontek) dan penuh tanggungjawab dalam berusaha.

http://febrianhadi.wordpress

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febrian Hadi Santoso sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 1.0752 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels