|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Jum'at, 10 Februari 2012 pukul 09:09 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Salah satu kebiasaan orang yang tidak berkembang bahkan kualitas hidupnya cenderung menurun adalah menunda. Mengapa? Karena, menunda akan meningkatkan stres dan membuat stres bertahan lama dalam kehidupan seseorang. Menunda juga membuat Anda sering menengok ke belakang dan memikirkan pekerjaan-pekerjaan masa lalu yang seharusnya sudah tuntas.
Untuk mencapai kehidupan yang terbaik, Anda harus konsisten mengurangi jarak kehidupan Anda saat ini dengan impian yang hendak Anda wujudkan. Anda tidak boleh disibukan dengan aktivitas masa lalu yang seharusnya sudah Anda tuntaskan. Oleh karena itu, menunda pekerjaan tidak boleh menjadi kebiasaan.
Saya pernah menyesal menunda menengok teman saya yang sakit. Ketika itu saya pulang dari Surabaya. Dari Bandara saya sudah berniat untuk langsung menuju rumah sakit Harapan Kita. Di rumah sakit itulah sahabat saya Abdul Jabbar dirawat. Namun ketika sudah hampir masuk pintu gerbang rumah sakit, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, “Ah, masih terlalu pagi, nanti siang saja saya kesini.”
Saya urungkan niat dan meminta driver mengantar ke SindoFM untuk rekaman. Usai rekaman di radionya profesional muda itu, saya merencanakan akan kembali ke rumah sakit. Rekaman di SindoFM pun dimulai. HP saya silent. Usai rekaman, saya buka HP dan ternyata ada SMS yang mengabarkan bahwa sahabat saya Abdul Jabbar meninggal beberapa menit yang lalu.
Menunda beberapa menit telah membuat saya begitu menyesal. Abdul Jabbar bukan hanya seorang sahabat, dia juga salah satu asisten terbaik saya. Dia yang memback-up semua pekerjaan operasional saya. Abdul Jabbar kini telah tiada, namun penyesalan itu masih ada dalam diri saya.
Saya juga bertemu orang yang menyesal karena menunda menikah. Ia menyesal karena saat pensiun anaknya belum ada yang kuliah. Saat anak-anak membutuhkan biaya yang besar, ia sudah renta dan tenaganya sudah melemah.
Teman saya di kampus IPB dulu terpaksa tidak menyelesaikan perkuliahan hanya karena menunda usul judul penelitian. Lima tahun masa kuliah yang dia jalani dengan susah payah tidak membuat orangtuanya bangga. Orangtuanya ingin anaknya bergelar Insinyur Pertanian, tetapi gelar itu gagal ia dapatkan.
Jangan pernah menunda untuk membahagiakan orangtua Anda. Jangan pernah menunda untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan Anda. Jangan pernah menunda ketika Yang Mahakuasa memanggil Anda untuk menuju rumah-Nya. Jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan. Anda hanya boleh membiasakan menunda ketika setan membukakan pintu untuk Anda berbuat maksiat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.