|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|





Kamis, 9 Februari 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Syaifoel Hardy
Jangankan yang berpenghasilan pas-pasan, konglomerat saja punya keterbatasan, hingga hutang! Apalagi jika kepepet, bisa nabrak sana-nabrak sini. Inilah salah satu latar belakang, mengapa Pegadaian di negeri kita bermunculan di banyak kota, kayak jamur tumbuh di musim hujan.
Seperti anda semua, saya juga tidak selalu mengantongi uang. Meski tinggal dan bekerja di luar negeri. Namanya juga kebutuhan dan rencana, pasti ada saja. Terkadang memang lebih. Kadang kala pas. Ada kalanya menipis.
Nah, jika urutan yang terakhir ini menimpa, rasanya berat. Misalnya ada yang datang atau kirim email, memohon bantuan finansial. Seperti yang saya alami kemarin sore.
Begini bunyinya:
"Hope you are alright. The thing is that Jaseela, is the girl of the family to whom I reach your monthly relief amount. She studies in 5th standard. She is very smart. She had fall while she was playing and her arm got fracture.She underwent an operation and now she is at home. She is asked to be in home for one month. They spent Rs.20,000/- for the treatment. Her father is a heart patient and not able to do any work. Besides your relief we use to give some other timely helps and supports. In this case if you can do something it will be better and a big assistance to the family.That is all for the time being."
Saya agak bingung, bagaimana harus menjawab.
Sebenarnya jumlah yang diminta tidak terlalu banyak. Sekitar 5 juta Rupiah. Tapi yang namanya tidak ada, ya tidak ada. Kalaupun ada di saku, untuk kebutuhan sebulan mendatang: makan, telepon, bensin dan menjaga kemungkinan emergency. Karena saya tidak ingin, seperti yang saya sebutkan di atas, nabrak sana-sini.
Namun begitu, untuk bilang tidak punya, rasanya nggak jujur. Tapi, kalau bilang punya, kondisinya amat berbeda. Jadi, terus terang saya repot harus bilang bagaimana.
Bagaimanapun, yang namanya manusia, setelah membaca email tersebut, jadi iba. Sedih. Sungguh! Betapa tidak? Anak kecil perempuan kelas lima sekolah dasar, dari keluarga tidak mampu, menderita patah tulang yang perlu operasi. Ayahnya penderita jantung. Sudah jatuh, ketimpa tangga!
Beberapa lama saya sempat berpikir, bagaimana cara mendapatkan duit tersebut. Berjam-jam. Untuk meminta bantuan rekan-rekan, saya merasa paling tidak mampu berkata. Tapi kalau tidak bicara, bagaimana orang lain bisa tahu dan membantu?
Saya buka dompet. Seolah-olah tidak percaya dengan hitungan semula. Bahwa ada duit sekitar dua juta Rupiah. Ah, separuhnya bisa saya sumbangkan. Begitu pemikiran saya. Nanti Allah SWT pasti akan beri gantinya dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Begitulah keyakinan saya. Selalu! Betapapun separuh akan saya sumbangkan, masih kurang, jauh. Gimana caranya?
Tiba-tiba saya jadi ingat, sejumlah buku karangan saya yang sempat saya bawa beberapa bulan lalu, belum semuanya laku terjual. Siapa tahu bisa ditawarkan. Tapi, kepada siapa?
Tiba-tiba jadi ingat, saya memberikan kursus besok siang untuk para Muadzin (Mutawa) Indonesia yang tinggal dan bekerja di Qatar. Mereka insyaallah pasti bersedia membantu.
Namun, seperti yang saya sampaikan semula, berat sekali rasanya jika saya harus meminta bantuan kepada mereka guna kepentingan ini. Meskipun mereka 'dekat' dengan agama.
Sekali lagi, seperti saya dan anda, merekapun juga memiliki rencana. Tidak selalu berhamburan dan berlebihan dalam soal uang.
Rencana saya kemudian adalah mengenalkan buku-buku saya kepada mereka dan saya akan jelaskan untuk apa uang yang saya dapat dari buku-buku ini. Tidak kurang dari 29 buku, empat judul yang masih dalam kardus saya. Klop! Saya rasanya matang dengan rencana ini. Insyaallah Allah akan membantu!
Sesudah menunggu sekitar satu jam, setelah menerima email tersebuit, baru saya jawab, dengan nada positif. Saya sampaikan bahwa akan saya usahakan untuk mendapatkan bantuan. Berapapun jumlahnya, akan saya kirim nanti.
Esoknya, Sabtu, sekitar jam 11 siang, dua jam sebelum ngajar, saya siapkan butu-buku yang bakal saya tawarkan kepada para Mutawa ini. Rapi dan masih baru. Dalam bungkus plastik. Satu per satu saya masukkan dalam tas. Ada 29 buah.
Waktunya pun tiba.
Ada 15 orang Mutawa yang datang. Saya berbicara tentang investment sebagai pembuka. Saya elaborasi dua jenis investment, dunia dan akhirat. Kemudian, saya kemukakan untuk yang akhirat serta beberapa kegiatan saya yang terkait dengan yayasan panti asuhan dan anak asuh. Baru kemudian saya sampaikan email di atas, kepada mereka.
Subhanallah, seperti yang saya harap pada Allah SWT, pertolongan itu pasti datang.
Saya sampaikan bahwa saya ingin menjual buku-buku ini. Hasilnya ingin saya berikan kepada gadis kecil kelas lima sekolah dasar di India. Sepeserpun, insyaallah saya tidak akan ambil dari hasil penjualan ini.
Duitpun, tidak perlu saya sebutkan di sini jumlahnya, terkumpul. Saya bersyukur dan amat lega.
Usai memberikan kursus, saya langsung ke Money Exchange, mentransfer sejumlah uang yang saya berharap akan sangat membantu meringankan beban derita mereka. Anak dan orangtuanya yang tengah menderita di bumi India sana.
Pelajaran berharga yang ingin saya sampaikan di sini adalah, jika anda berniat berbuat baik, tidak ada istilah jalan buntu. Allah SWT selalu membantu, dan selalu ada jalan keluarnya. Yang kedua, dalam berbuat baik pun, kuantitas memang penting, namun bukan yang utama!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.