|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://alamaya.multiply.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 30 Januari 2012 pukul 09:30 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu hari ketika hendak pulang kerja, saya dicegat oleh salah seorang manajer di kantor untuk membantu menyelesaikan permasalahannya, padahal saat itu jam sudah menunjukan pukul 17 lewat dan saya ingin tiba di Dukuh Atas serta Blok M sesuai rencana agar bisa shalat maghrib maupun isya secara berjama'ah di masjid yang biasa menjadi tempat saya 'transit'.
Saya kira permasalahannya akan selesai dalam beberapa menit saja, ternyata lewat pukul 17.30 baru selesai. Selesai urusan tersebut, saya bimbang. Jika saya langsung pulang, kemungkinan besar tidak akan bisa shalat maghrib pada waktunya. Sedangkan jika saya menunggu di Kampung Melayu hingga shalat maghrib tiba, waktunya masih lama dan tiba di rumah lewat pukul 21.
Akhirnya saya memutuskan untuk langsung pulang. Di tengah perjalanan, jam menunjukan pukul 18, pertanda maghrib akan segera tiba. Jika saya terus melanjutkan perjalanan dan shalat maghrib di Dukuh Atas, maka tidak akan terkejar. Maka diambillah rute perjalanan lain, saya memutuskan untuk shalat di sebuah masjid di Pal Putih, walaupun rutenya memutar dan lebih jauh.
Selesai shalat maghrib, saya bergegas menuju halte bis. Tidak berapa lama setelah tiba di halte, bis yang saya tunggu datang. Untuk menuju Blok M, saya harus berganti bis di Harmoni. Tiba di Harmoni, antrian penumpang untuk arah Blok M sedang sepi. Saat itu juga saya bisa langsung naik bis ke arah Blok M. Tersendat macet sedikit, dan bisa tiba di Blok M saat adzan isya berkumandang.
Alhamdulillaah, malam itu saya bisa shalat maghrib dan isya pada waktunya secara berjama'ah dan tiba di rumah seperti biasanya.
Dahulukan Allah, maka Allah akan mendahulukanmu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.