Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Begadang Boleh, Ibadah Lebih Penting!
11 Desember 2011 pukul 08:00 WIB
Puasanya Bapak
3 September 2011 pukul 10:00 WIB
Jatah Sahur dari Office Boy
31 Agustus 2011 pukul 08:00 WIB
Air Mata yang Indah
28 Agustus 2011 pukul 08:30 WIB
Ke Baitullah Modal Doa Doang
25 Juli 2011 pukul 09:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 27 Januari 2012 pukul 13:30 WIB

Warung Kejujuran sebagai Pendidikan Antikorupsi

Penulis : Eko Prasetyo

Kejujuran kini ibarat barang langka. Terbukti, krisis finansial global sama sekali tidak membuat para "pembohong" panik. Orang mudah memanipulasi apa saja, di mana saja, serta kapan saja, tanpa tersekat ruang dan waktu. Bohong dapat dilakukan oleh siapa pun. Bisa guru yang berbohong kepada kepala sekolah, murid kepada gurunya, bawahan kepada atasan, ataupun pejabat kepada rakyat.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada orang yang setia bersahabat dengan kejujuran. Alhamdulillah, "kesetiaan" itu kini diwujudkan pada menjamurnya kantin kejujuran di beberapa sekolah, termasuk sekolah di Surabaya. Paling tidak, pendidikan antikorupsi dapat diperkenalkan sekaligus diaplikasikan sejak dini kepada para siswa.

Tak bisa dimungkiri, menghapus korupsi (hasil ketidakjujuran) sama sekali adalah hal yang musykil dilakukan sampai hari kiamat tiba sekalipun. Namun, setidaknya, menahan nafsu ingin memiliki dapat menjadi penetrasi di tengah tinggi budaya konsumtif masyarakat saat ini. Angka si miskin dan si kaya di Indonesia begitu njomplang. Yang kaya raya kadang alpa mengeluarkan sedekah dan zakatnya. Sedangkan yang miskin kadang mudah putus asa, hanya berpangku iba, tanpa mau berusaha.

Karena itu, warung kejujuran paling tidak bisa menjadi media pembelajaran yang baik untuk mengasah rasa tanggung jawab dan memupuk kepekaan sosial siswa. Siswa dapat membeli barang kebutuhannya di warung kejujuran secara swadaya. Artinya, mereka menjadi pelayan bagi diri mereka ketika membeli atau mengambil uang kembalian. Jika nanti ada kekurangan dari hasil jualan, hal itu dapat segera diketahui lewat neraca keuangan yang dikelola pihak sekolah. Sungguh, elemen sekolah sejatinya telah menerapkan model manajemen terapan berupa disiplin. Ini sangat penting!

Sebenarnya berkata atau berbuat jujur itu mudah, tapi juga tak gampang. Lho kok bisa? Ya, coba saja Anda terapkan pada orang-orang terdekat di sekitar Anda. Misalnya, seorang istri bertanya kepada suaminya ketika baru memakai baju baru.
"Bagus nggak, Pak? Ibu cantik nggak kalau pakai baju yang ini?"
Pasti, 99 persen bakal menjawab, "Iya," Padahal, bisa jadi sang istri tidak terlalu cantik atau bajunya mungkin kurang bagus menurut penilaian si suami.

Berkata jujur sesuai hati nurani di saat seperti itu mungkin sulit dilakukan. Tentunya banyak alasan yang mendasarinya. Di antaranya, mencoba menghargai perasaan seseorang meski kita tak sejalan atau tak suka dengan sesuatu yang dia pakai.

Berbohong untuk kebaikan memang diperbolehkan. Tapi, berkata jujur akan lebih terhormat. Meski, terkadang jujur itu terasa menyakitkan.

Tanpa disadari, kita kadang suka memuji orang lain setinggi langit, tapi tak bisa menghargai diri sendiri. Kadang, kita doyan mencibir kekurangan orang lain, tapi sesungguhnya kita pun gemar menertawakan kelemahan diri sendiri.

Karena itu, bentuk aplikasi pendidikan antikorupsi lewat warung kejujuran patut diapresiasi dan dikembangkan melalui inovasi-inovasi lain. Tiada lain, itu bertujuan mengembangkan jiwa sosial dan rasa tanggung jawab dalam menjaga amanah.diapresiasi dan dikembangkan melalui inovasi-inovasi lain. Tiada lain, itu bertujuan mengembangkan jiwa sosial dan rasa tanggung jawab dalam menjaga amanah.

Akhirnya, kita perlu merenungkan kembali sabda Rasululah SAW bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Maka, sudah seharusnya kita membiasakan diri berbuat dan berkata jujur dalam segala hal. Sebab, semua akan kita pertanggungjawabkan di mahkamah akhirat nanti.

Wallahu a’lam.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Moh. Iwan Ihyak Ulumuddin | Pelajar
Ingin sekali gabung, sharing ilmu, and so on.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1160 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels