|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Jum'at, 20 Januari 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Ada orang yang datang kepada saya mengeluh, “Pak, teman-teman saya cuek dan tidak pernah mau mendengarkan saya, kenapa?” Sementara seorang suami mengeluh kepada saya, “Susah punya istri yang pendidikannya tinggi. Ngeyel, membantah terus dan tidak mau mendengarkan.” Orang yang lain mengadu tentang anaknya, “Pak, anak saya kok tidak pernah mau mendengarkan, apa saya salah mendidik?”
Apa sebenarnya penyebab utama mereka tidak mau mendengarkan Anda? Apabila Anda ingin tahu jawabannya, segeralah bercermin. Nah, itulah penyebab utamanya, diri Anda sendiri! Mengapa? Karena kunci utama didengarkan adalah kesediaan Anda untuk mendengar. Jadi apabila orang-orang yang Anda cintai tidak mendengarkan Anda, kemungkinan besar karena Anda juga tidak mendengarkan mereka.
Apakah Anda selama ini sudah mendengarkan mereka? Bila jawabannya ya, jangan-jangan Anda hanya geer dan menilai diri Anda sendiri terlalu tinggi. Cobalah tanyakan kepada orang-orang yang Anda cintai, “Apakah selama ini saya mendengarkan kalian dengan sangat baik?”
Saya dulu pernah merasa geer sudah menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak saya. Saya terkejut ketika suatu saat anak saya yang nomor dua dalam sebuah acara keluarga berkata, “Bapak egois, kalau saya bercerita, bapak mendengarkan sambil SMS. Bapak sebenarnya tidak mau mendengarkan cerita saya. Bapak hanya basa-basi.”
Ya, sering kali kita mendengarkan orang berbicara seperti kita mendengarkan radio, bukan mendengarkan orang. Banyak di antara kita mendengarkan radio sembari melakukan kegiatan yang lain. Ketahuilah, radio tidak punya mata, radio tidak punya hati, ia benda mati, sementara manusia makhluk hidup yang perlu mendapat perhatian dan apresiasi.
Jadilah pendengar yang baik dengan menggunakan filisofi laut. Lautan yang luas mampu menampung banyak air karena tempatnya lebih rendah dibandingkan daratan. Apabila Anda ingin mendengar dengan baik, rendahkanlah hatimu. Dengan cara ini Anda akan mendapat banyak informasi dan ilmu. Cobalah…
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.