Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://jamilazzaini.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2009 pukul 05:31 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Trainer
Jamil Azzaini adalah seorang trainer sekaligus Inspirator. Rekan-rekannya menyebut sebagai Inspirator Sukses Mulia. Julukan itu muncul didasari oleh kepiawaiannya mendorong orang untuk selalu meraih kehidupan terbaik: Sukses Mulia. Sukses adalah orang yang memiliki 4-ta (harta, tahta, kata dan cinta) yang tinggi, 4-ta itu diperoleh dengan memperhatikan etika dan agama yang …
http://jamilazzaini.com
http://facebook.com/jamilazzaini
http://twitter.com/jamilazzaini
Tulisan Jamil Lainnya
Balasan Allah itu Sempurna
11 Januari 2012 pukul 08:15 WIB
Teladan Dimulai dari Pemimpin
4 Januari 2012 pukul 08:50 WIB
Ulang Tahun Bukanlah Pesta Pora
28 Desember 2011 pukul 08:30 WIB
Penyesalan Terbesar
27 Desember 2011 pukul 11:30 WIB
Mama Mandikan Aku
21 Desember 2011 pukul 08:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 15 Januari 2012 pukul 09:30 WIB

Semua Bermakna

Penulis : Jamil Azzaini

Bila saya ajukan pertanyaan, bagian tubuh mana yang paling penting bagi pemain sepak bola? Sebagian besar Anda pasti menjawab kaki. Saya mengajukan pertanyaan lain, bagian tubuh mana yang paling penting bagi pemain piano? Sebagian besar Anda pasti akan menjawab tangan. Sebagai inspirator/trainer, terkadang saya berpikir bagian tubuh saya yang paling penting adalah mulut. Karena dengan mulut, saya mampu menjelaskan dengan jelas dan mendalam apa yang saya maksudkan.

Namun, jawaban Anda dan pikiran saya tidak selamanya benar. Banyak orang yang keberadaannya justeru menonjol dan berprestasi karena kelemahan yang dimilikinya. He Ah Lee, hanya memiliki empat jari yang lemah, namun ia kini menjadi pemain pianis hebat dunia. Beethoven tuli, namun mampu menghasilkan simponi lagu klasik yang sangat indah.

Di negeri kita pun banyak orang yang memiliki kelemahan, namun justeru dia menonjol karena kelemahannya. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 14 April 2008, saya menonton Kick Andy di Metro TV. Dalam acara itu ditampilkan Sugeng Siswoyudono (45), seorang yang kehilangan satu kakinya karena kecelakaan lalu lintas sejak berusia 19 tahun. Namun dengan kaki yang hanya satu itu, justeru mendorong dirinya untuk membuat kaki palsu.

Kaki palsu yang dibuat Sugeng terbuat dari bahan fiber, spon, dan kayu. Kaki itu bisa digerakkan 45 derajat. Bisa untuk memakai sandal atau pun sepatu. Juga bisa diberikan aneka asesoris, misalnya tato. Bukan hanya itu, Sugeng akhirnya membuat kaki palsu bagi orang lain yang senasib dengannya atau mengajarkan orang lain untuk bisa membuat sendiri.

Hebatnya lagi, dia tidak mematok bayaran tertentu kepada para pemesan. Bila harga kaki palsu di pasaran mencapai Rp. 3 juta – 5 juta rupiah, Sugeng hanya menjualnya dengan harga Rp. 500 – 800 ribu rupiah. "Bahkan, sering tidak pakai ongkos. Karena memang mereka benar-benar tidak mampu," tukas Sugeng ketika diwawancarai Indo Pos, November 2007. Untuk kehidupan sehari-hari, Sugeng berjualan susu sapi eceran.

Dengan kiprahnya ini, Sugeng akhirnya diundang ke acara Kick Andy. Banyak orang yang terinspirasi setelah menonton acara Sugeng di Kick Andy. Hal ini pun akhirnya mendorong kegiatan Gerakan 1000 kaki palsu yang dicanangkan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman. Sugeng pun siap kebanjiran order dari gerakan ini. Bukan hanya itu, kini Sugeng menjadi bintang iklan salah satu produk minuman kesehatan.

Ya, bagian tubuh yang terkadang cacat ternyata memiliki kekuatan dan kelebihan. Bahkan bagian tubuh yang kita kira tidak memiliki sumbangsih strategis bagi kesuksesan hidup kita, ternyata itu sangat bermakna dalam hidup kita.

Jangan sepelekan bagian tubuh yang hilang (cacat) atau bagian tubuh yang tampaknya kurang berperan dalam mendukung hidup kita. Sejak Pertengahan bulan April 2008, ada benjolan kecil di dekat (maaf, anus) saya. Benjolan itu keras dan semakin hari semakin sakit. Ketika saya memberikan training dan harus mengucapkan kata-kata dengan nada tinggi, rasa sakit itu semakin bertambah. Ketika saya duduk terlalu lama, rasa sakit itu semakin menusuk.

Karena rasa sakit yang semakin menjadi, maka pada Jum'at, 09 Mei 2008, saya periksakan ke dokter. Kesimpulannya harus operasi. "Operasi kecil, pak. Tidak terlalu sakit, karena kalau dibiarkan bisa menyebar dan nanti bapak tidak bisa beraktifitas," kata dokter Agil yang memeriksa saya di Rumah Sakit PMI Bogor. Senin, 12 Mei 2008 siang, operasi dilaksanakan.

Saya dibius setengah badan. Saya sadar, mata saya bisa melihat, namun hari itu saya benar-benar tak berdaya. Perjuangan melawan rasa sakit dan dampak operasi itu, ternyata tidak hanya selama tiga hari ketika di rawat di rumah sakit. Rasa sakit itu masih terasa hingga satu pekan saya ke luar dari rumah sakit. Perih, nyeri, tak berdaya, darah terkadang masih menetes, dan sulit duduk dengan posisi nyaman.

Di bulan yang ada dua tanggal bersejarah; hari pendidikan dan hari kebangkitan nasional, saya mendapatkan pelajaran; ternyata semua bagian tubuh itu bermakna. Tak ada yang boleh disepelekan. Semua memberi kontribusi dalam kehidupan kita.

Begitu pula semua komponen bangsa ini memberikan kontribusi untuk kebangkitan bangsa ke arah yang lebih bermartabat. Jangan sepelekan office boy, tanpa mereka, urusan kantor bisa terganggu. Jangan sepelekan petani, tanpa mereka, kita tidak bisa mendapatkan beras. Jangan sepelekan guru, tanpa mereka, entah jadi apa bangsa ini. Jangan sepelekan hansip/keamanan kampung kita, tanpa mereka, kita tak bisa tidur nyenyak. Jangan sepelekan pembantu di rumah, tanpa mereka, rumah akan berantakan. Jangan sepelekan orang-orang kecil di negeri ini, sebab tanpa mereka, Anda tidak akan menjadi orang-orang besar.

Semua bermakna. Semua berkontribusi. Semua perlu perhatian.

http://jamilazzaini.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elsye Ivanne | Swasta
Semoga dengann bergabung di KotaSantri.com banyak manfaat yang saya dapatkan n dapat bertukar fikian dengan akhi n ukhti. Mohon bimbingannnya karena dalam waktu dekat saya harus mengakhiri masa lajang dan berdampingan dengann seorang aktivis dakwah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1109 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels