QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Berilah Kesempatan Orang Lain untuk Maju
8 Januari 2012 pukul 09:30 WIB
Pernah Tawar Barang di Mall?
2 Januari 2012 pukul 08:15 WIB
Isteri Simpanan
27 Desember 2011 pukul 08:08 WIB
Menghormati Dhuafa
20 Desember 2011 pukul 08:08 WIB
Kita Hanya Singgah
14 Desember 2011 pukul 08:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 13 Januari 2012 pukul 10:10 WIB

Dua Kali “Dipaksa” Sedekah

Penulis : Bayu Gawtama

Jum’at kemarin, saya memutuskan untuk segera mencari masjid terdekat di daerah Depok karena waktu sudah mendekati saat sholat Jum’at. Masjid di dalam sebuah komplek perumahan yang menjadi tujuan. Alhamdulillah masih dapat di barisan kedua dan saya langsung shalat sunnah. Usai shalat, saya menyalami orang-orang di sebelah kanan dan kiri, depan dan juga belakang. Namun ada yang sedikit aneh dengan laki-laki yang duduk di sebelah kanan saya. Rupanya, usai saya menyalaminya tadi wajahnya tak berpaling dari saya dan terus menatap saya dengan sebaris senyumnya yang tak berubah. Saya menengok sesaat ke arahnya, ia tetap dengan senyumnya. Namun saya merasa risih karena terus menerus “disenyumi” laki-laki yang tak saya kenal ini.

Akhirnya saya menengok lagi ke arahnya, kali ini lebih lama. Ia masih dengan senyumnya yang garisnya tak sedikitpun berkurang dari beberapa menit yang lalu ia memulainya. Sementara saya malah dibuat bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Oh, beberapa detik kemudian baru saya sadar. Kenapa tak saya balas saja senyumnya? Senyum pun tercipta dari saya. Ia masih terus menatap saya dengan senyum indahnya, dan belum selesai. Saya ulangi lagi senyum saya, lebih tulus, lebih indah dari sebelumnya. Ia pun tersenyum lebih lebar dan menyudahi aksi senyumnya kepada saya.

Ia, ternyata lelaki istimewa. Penyandang autis adalah manusia istimewa karena memiliki banyak kelebihan pada dirinya. Baru saja saya diajari olehnya tentang senyum dan bagaimana memberikan senyum yang tulus dan indah kepada siapapun. Setelah saya perhatikan, ia melakukan itu juga kepada jamaah yang lain. Senyum dan berwajah berseri adalah sedekah bagi saudara kita, dan lelaki istimewa ini seolah baru saja memaksa saya untuk bisa tulus tersenyum, agar menjadi nilai sedekah kepada siapapun.

Selesai urusan senyum, saya beralih kepada Khatib yang baru saja naik mimbar. Sambil khatib menyampaikan nasihat-nasihatnya, kotak infak pun melintas di depan saya. Saya sengaja membiarkan kotak infak itu melintas tanpa henti dari depan saya karena kotak infak di depan masjid sesaat sebelum saya masuk tadi sudah lebih dulu saya sentuh. Ketika kotak infak beralih ke depan lelaki istimewa itu, ia menyodorkan balik kotak itu ke arah saya. Dengan sangat sopan saya menggeser kembali kotak itu ke arahnya sambil memberi isarat bahwa saya sudah berinfak di depan masjid. Tapi lagi-lagi ia menggeser kotak itu ke arah saya, sambil tangannya memberi isarat agar saya memasukkan sejumlah uang ke dalamnya. Saya pun mengalah, saya memasukkan selembar uang ke dalamnya kemudian menggeser ke arahnya.

Kali kemudian saya kembali dibuatnya tersenyum lantaran ia kembali menggeser kotak itu ke saya, seolah mengatakan, “tambah lagi”. Saya pun menambahnya lagi, dan gentian ia yang tersenyum. Kini gilirannya, kotak berada di depannya. Saya jadi penasaran gerangan apa yang akan dilakukannya. Ia mengeluarkan selembar uang kertas, meskipun agak sedikit disembunyikan namun saya tahu berapa nilainya. Ah, saya jadi malu. Yang ia sedekahkan hari itu lebih besar nilainya dari yang saya sedekahkan. Pantas saja ia seolah “memaksa” saya untuk menambah lagi, dan lagi sedekah di hari itu. Bagi saya, hari itu ia seperti malaikat yang tengah mengajari saya untuk bersedekah lebih banyak. Ia benar-benar lelaki istimewa, yang Allah sengaja pertemukan saya dengannya di baris kedua masjid itu.

Bersamaan dengan itu, suara Khatib terdengar memberi kesimpulan dari ceramahnya siang itu, “Sedekah yang kita berikan, tak hanya menyelamatkan saudara kita dari rasa lapar, tetapi juga menyelamatkan saudara-saudara kita dari sifat kufur kepada Allah”.

Hari Jum’at itu, menjadi salah satu hari Jum’at yang istimewa buat saya. Allah, melalui lelaki istimewa itu, mengajarkan saya untuk sedekah lebih baik lagi dari yang sudah biasa saya lakukan. Pertama, sedekah senyum, kedua sedekah dengan harta.

Wallaahu a’lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1072 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels