|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Rabu, 4 Januari 2012 pukul 08:50 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Joko Widodo alias Jokowi, walikota Solo membuat berita besar. Lelaki yang sudah dua periode memimpin kota Solo ini mengganti mobil dinasnya, sedan mewah merk ternama, dengan mobil rakitan para pelajar SMK 2 Surakarta. Mobil yang diberi nama Kiat Esemka ini 80 persen komponennya lokal dan 20 persen impor.
Sikap Jokowi tersebut mengingatkan saya pada perjuangan seorang lelaki dari India, Mahatma Gandhi. Saat itu India sedang berada di bawah kekuasaan Inggris. Sadar bahwa India sulit mengusir tentara Inggris, maka ia menggunakan kekuatan lain. Gandhi tahu bahwa salah satu alasan Inggris menguasai India karena jumlah penduduknya yang besar. India adalah pasar bagi produk-produk Inggris.
Mengetahui hal ini, Gandhi mengajak masyarakat India menggunakan produk-produk lokal, memproduksi sendiri berbagai keperluan hidup, dan tidak tergantung kepada bangsa asing. Ajakan Gandhi ini dikenal dengan Swadesi. Ternyata strategi ini sangat melemahkan Inggris. Banyak pabrik di Inggris tutup karena kehilangan pasar.
Gandhi bukan hanya bicara, ia memberikan contoh kepada masyarakat India. Ia menggunakan pakaian tenun rakyat India untuk menginspirasi rakyat India agar menenun sendiri dan tidak membeli pakaian dari Inggris. Gandhi juga memberikan contoh dengan berjalan ratusan mil untuk membuat garam. Perilaku Gandhi ini menginspirasi rakyat India untuk membuat garam sendiri dan tidak tergantung kepada Inggris. Sikap dan pendirian Gandhi ini akhirnya mengantar India menjadi negara yang berdaulat pada 15 Agustus 1947.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin, menjadi suri tauladan sekaligus mampu mengoptimalkan dan merangkul berbagai potensi dan kekuatan yang ada. Dengan menggunakan mobil dinas buatan pelajar SMK 2 Surakarta, Jokowi telah mengangkat dan mempopulerkan mobil dan sekolah itu. Tindakan ini juga membangkitkan kembali semangat untuk merakit dan membuat mobil sendiri yang sebetulnya, dan sudah terbukti, kita mampu. Kita bisa!
Walaupun mungkin banyak yang mencemooh mobil Esemka tersebut kelayakan jalannya masih diuji, tapi keputusan Jokowi untuk menggunakannya sebagai mobil dinas merupakan sebuah keputusan yang cerdas. Saya yakin ini akan menjadi sumber inspirasi bagi SMK lain untuk melakukan hal yang sama. Ini juga meningkatkan rasa percaya diri pelajar SMK, khususnya SMK pembuat mobil rakitan.
Saya yakin juga kepala-kepala dinas di pemerintahan kota Solo tak akan berani menggunakan mobil dinas mewah buatan luar negeri melebihi yang digunakan walikotanya. Pemimpin, seharusnya memang teladan utama.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.