Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Isteri Simpanan
27 Desember 2011 pukul 08:08 WIB
Menghormati Dhuafa
20 Desember 2011 pukul 08:08 WIB
Kita Hanya Singgah
14 Desember 2011 pukul 08:15 WIB
Anak Lebih Taat Kepada Bunda, Tanya Kenapa?
10 Desember 2011 pukul 20:00 WIB
Allah yang Bayar
7 Desember 2011 pukul 09:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 2 Januari 2012 pukul 08:15 WIB

Pernah Tawar Barang di Mall?

Penulis : Bayu Gawtama

Tidak sedikit orang, kelompok, komunitas maupun berbagai golongan yang sering berteriak menyatakan keberpihakannya kepada kaum kecil atau lebih sering terdengar dengan kata wong cilik. Namun nyatanya, belum tentu kita benar-benar memposisikan diri pada sisi orang kecil, belum nyata-nyata kita duduk sama rendah bersama orang-orang lemah, dan belum terbukti juga kita menjadi sahabat wong cilik. Oops, saya ralat, bukan kita, tetapi saya. Sekali lagi saya...

Dalam banyak kesempatan berbelanja di tukang sayur, di toko buah pinggir jalan, naik ojeg, naik becak, atau penjual apa pun yang tidak memiliki bandrol harga, dengan berbagai cara begitu mudahnya kita menawar harga yang ditawarkan. Tujuannya jelas, mendapatkan harga semurah-murahnya.

Beragam gaya dan cara yang kita lakukan, kalau kepada tukang sayur atau tukang buah sering menggunakan wajah memelas. Jika wajah itu tidak mempan meluluhkan hati si abang sayur, senyum pun digulirkan. Biasanya tidak sedikit abang-abang penjual yang langsung luluh hatinya. Terlebih jika ditambah dengan sedikit colak-colek dari ibu-ibu pembeli, harga sebuah semangka pun langsung turun drastis. Sebungkus cabai dan tomat bisa dibeli dengan harga seribu rupiah, atau tidak jarang seliter minyak goreng gratis untuk si pencolek yang genit...

Bagaimana dengan laki-laki? Mungkin tidak memelas, tetapi dengan suara tegas dan sedikit naik. "Tiga ribu ya seikat? Dikasih nggak?" untuk harga seikat rambutan. Kalau tidak dikasih, pakai cara klasik, yakni meninggalkan si tukang buah, padahal dalam hati berharap dipanggil kembali oleh tukang buah. Cara-cara ini kadang berhasil, terlebih jika hari sudah malam, barang dagangan belum banyak yang terjual, dan belum cukup uang untuk bisa dibawa pulang. Jadilah si tukang buah itu yang mengalah dan membiarkan dagangannya dibeli dengan harga pas, tanpa biaya transportasi, tanpa biaya lelah menunggu, tanpa biaya angkut, tanpa biaya apa pun untuk kaki yang pegal berputar-putar seharian, atau untuk untuk pundak yang bengkak memikul beban berat.

Pedagang buah, tukang sayur, atau penjual apa pun yang keliling atau di pinggir jalan yang tidak pernah memasang bandrol harga itu, adalah orang-orang kecil. Kepada mereka kita bisa merayu bahkan memaksa untuk menurunkan harga, bahkan semurah-murahnya. Tanpa peduli apakah para pedagang kecil itu mendapatkan untung atau tidak. Lebih buruknya lagi, kita melakukannya setiap hari, setiap saat.

Bandingkan jika kita belanja di Mall, pusat perbelanjaan, atau toko grosir dan tempat-tempat lainnya yang memasang harga pas dengan bandrolnya. Pernahkah kita menawar setiap barang di trolly kepada kasir, seperti yang kita lakukan kepada para pedagang kecil?

***

Bukan berarti tidak boleh menawar. Karena boleh jadi tidak semua pedagang jujur dalam menjajakan barangnya, baik kualitas maupun harganya. Tetapi kita juga bisa merasai, batas mana si pedagang itu sudah menurunkan harganya. Jika sudah sampai batas terakhir ia memberikan harga, jangan lagi memaksanya untuk terus menurunkan harga. Biarkan ia tersenyum dengan apa yang bisa didapatnya. Lagi pula, sebenarnya kita juga tahu harga sebenarnya untuk satu kilo jeruk kan?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2156 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels