|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Ahad, 1 Januari 2012 pukul 16:00 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Tiba-tiba teringat dengan iklan deterjen, yang intinya kalau kita mau belajar, jangan takut untuk bermain kotor. Mungkin inilah falsafah yang diambil oleh koruptor di Indonesia. Ranah perpolitikan Indonesia tidak ubahnya seperti kandang hewan atau pasar ikan yang kebersihannya dipertanyakan. Ketika seseorang memasuki area perpolitikan, tidak ubahnya seperti sedang berjalan di gang sempit yang diapit oleh kandang hewan tadi. Mau atau tidak, yang melewati koridor kandang pasti terpercik noda minimal mencium bau tak sedap.
Siapa yang tidak merasa jijik dengan bau dan noda kotor itu? Saya yakin, anda tidak tahan juga dan pasti langsung mencari air atau apapun yang bisa digunakan untuk membersihkan diri dari noda itu. Ini fitrah manusia yang mencintai kebersihan.
Tapi sangat disayangkan, mereka yang terpercik noda dalam kotornya perpolitikan negeri ini lupa membersihkannya. Seolah-olah mereka merasakan tak ada noda yang menempel dan bau tak sedappun menjadi sesuatu yang biasa serta sudah menjadi kenikmatan tersendiri.
Jangan takut main kotor untuk menjadi pintar! Namun kini, politikus yang korup tidak takut sama sekali untuk bermain kotor. Apakah karena mereka terlalu pintar atau malah sebaliknya?
Mereka hanya mengambil setengah adegan dari iklan deterjen dan mungkin mereka lupa apa yang ingin disampaikan iklan deterjen itu sendiri. Tujuan yang sebenarnya dari deterjen tadi hanya untuk mempromosikan bagaimana deterjen berperan dalam membersihkan noda dengan bersih, bukan fokus pada joroknya noda yang tidak dibersihkan.
Ayolah kita menyimak sampai habis, jangan lakukan suatu pekerjaan setengah-setengah. Selesaikan satu pekerjaan untuk mengerjakan pekerjaan lain itu lebih baik.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.