HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://hafizh_kharisma.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawati Swasta
piena_pulau
Tulisan Rinna Lainnya
Cinta juga Bisa Tanpa Kata
18 Desember 2011 pukul 09:45 WIB
Bijak Berkata, Bijak Bersikap
9 Desember 2011 pukul 09:45 WIB
Sentilan dari Pemilik Hidup
24 September 2011 pukul 08:00 WIB
20 Menit Penuh Senyum
23 Agustus 2011 pukul 10:35 WIB
Teman adalah ...
19 September 2010 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 25 Desember 2011 pukul 08:30 WIB

Berpikiran dari Sudut Pandang Lawan

Penulis : Rinna Fridiana

Status seorang teman di salah satu media sosial, "Kadang dalam menghadapi suatu konflik, alangkah lebih baiknya jika kita berpikiran dari sudut pandang lawan kita agar kita bisa lebih bijak dalam menghadapinya. Tapi jika kita tidak tahu pandangan lawan bahkan untuk membuka komunikasi dengan lawan kita saja tidak bisa, apa yang bisa kita usahakan lagi?”

Teman muda saya ini lumayan kritis, banyak sekali yang ditanyakan pada saya, semua coba saya jawab meski kadang musti agak memikir juga jawabannya. Tidak semua jawaban saya diterima, banyak juga yang didebatkan dan pada akhirnya kami memilih abu-abu saja. Yang jelas, kami saling belajar.

Mengomentari statusnya yang di atas, karena saya tahu yang dimaksudnya adalah seseorang yang jauh di sana (Long Distance Relationship), saya berkata, “Media komunikasi sungguh banyak : SMS, telepon, surat. Namun yang paling efektif adalah temui dengan rendah hati.” Saya lebih menekankan pada kata “RENDAH HATI” ketimbang pada kata “temui”, meski saya berkali-kali menyarankan, "Temui, temui, temui." Kenapa?

Ya, karena akan jadi percuma menemui jika kita berkeras dengan pikiran-pikiran kita sendiri, menutup mata hati dari menerima pikiran-pikiran lawan. Lantas buat apa menemui? Kecuali memancing keributan dan pada akhirnya hanya akan mengecewakan diri kita dan lawan bicara kita.

Mengapa harus menemui dengan rendah hati? Karena ketika kita sudah bertekad merendahkan hati kita (bukan merendahkan diri), maka sesungguhnya kita sedang membuka akses sebesar-besarnya untuk bisa memahami cara pandang lawan kita dan sebenarnya pun kita sedang meninggikan diri kita karena kita mengambil alih kemudi ego yang ada dalam diri kita.

Mengapa SMS bukan yang paling efektif? Karena ketika seseorang membaca SMS, seringkali dipengaruhi dengan intonasi baca diri sendiri, dipengaruhi dengan emosi sendiri yang pada akhirnya kata-kata halus yang kita sampaikan bisa dibaca dengan nada tinggi hanya karena si penerima SMS sedang marah. Lagi pula kan kita jadinya tidak bisa menangkap nada sedih, marah, kecewa, sehingga kita jadi salah menanggapinya.

Menemui dengan rendah hati seseorang yang kita cintai harusnya jauh lebih mudah. Kan katanya cinta, kan katanya sayang. Mestinya berlaku seperti orang yang mencintai dan menyayangi, berlembut hati, menyapa halus, dengan kelembutan untuk meluluhkan hati. Yang susah tuh menemui dengan rendah hati seseorang yang berseberangan dengan kita, seseorang yang kita anggap musuh dan pantas kita perangi karena perbedaan. Ingat ya, di depan kalimat itu ada kalimat “kita anggap”. Jadi bisa saja anggapan kita itu salah. Sebenarnya dia tidak pantas diperangi karena perbedaan (seringkali perbedaan itu memperkaya, seringkali perbedaan itu hal yang wajar).

Biarpun susah, tapi sepadan dengan pengkayaan diri kita jika kita mau mencoba menemui lawan kita dengan rendah hati.

Suka
Juveri Eka Rianto menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rinna Fridiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

UmmuRaihanah | IRT, Wiraswasta
Inspiratif, banyak ilmu. Tampilan webnya sudah banyak berubah. Maju terus, tetap istiqomah. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0415 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels