Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://hafizh_kharisma.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawati Swasta
piena_pulau
Tulisan Rinna Lainnya
Bijak Berkata, Bijak Bersikap
9 Desember 2011 pukul 09:45 WIB
Sentilan dari Pemilik Hidup
24 September 2011 pukul 08:00 WIB
20 Menit Penuh Senyum
23 Agustus 2011 pukul 10:35 WIB
Teman adalah ...
19 September 2010 pukul 15:00 WIB
Belajar Berhitung
1 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 18 Desember 2011 pukul 09:45 WIB

Cinta juga Bisa Tanpa Kata

Penulis : Rinna Fridiana

Aku menyebutnya wanita tangguh, karena selain sabar pada keadaannya, dia juga tetap kuat melangkah lengkap dengan senyum di bibirnya. Dia tak pernah menyadari bahwa kehidupannya telah menginspirasiku untuk bertekad menjadi wanita yang jauh lebih tangguh lagi.

Wanita ini bukan lulusan perguruan tinggi ternama, bahkan dia belum pernah menginjak bangku SMA, tapi kecerdasannya dalam menyikapi hidup kupikir melebihi temanku yang lulusan S3. Memang ada hubungannya ya antara bangku sekolah dengan sikap? Aku hanya membayangkan, mungkin kalau dia berkesempatan sekolah hingga SMA kemudian sempat juga kuliah (mengembangkan pola pikir lebih jauh lagi), tentu dia bakal jadi wanita sukses dalam masyarakat juga dalam karirnya. Percaya deh, dia luar biasa. Sungguh.

Saat ini, bila dia berjalan di tengah kerumunan banyak wanita, dia terlihat sangat biasa, tidak menonjol, tapi wajahnya selalu sumringah. Cantik (menurutku), dan selalu saja melucu, berusaha membuat orang di sekelilingnya tertawa. Seperti ingin semua orang dibuatnya bahagia. Tapi apa dia sebahagia itu?

Wanita ini ibu rumah tangga biasa, dengan 1 anak yang juga cantik seperti ibunya. Didampingi suami yang sukses dalam karirnya (tentu atas dukungan wanita tangguh). Kenapa sih aku bilang dia luar biasa? Kenapa sih aku menyebutnya wanita tangguh? Karena aku melihat banyak cinta dalam hatinya. Dan itu terlihat sangat indah dalam pandanganku. Sungguh tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan wanita ini. Kesederhanaannya bagiku justru malah memperlihatkan betapa kayanya dia. Dan aku diam-diam belajar banyak dari kehidupannya.

Perlu kusampaikan, kisah ini kutulis lebih buat diriku sendiri juga berbagi pada teman-temanku yang lain, yang mungkin bisa membuat mereka semakin kuat ketika mereka dalam kesulitan, karena dalam setiap kesulitan sesungguhnya selalu ada jalan keluar.

Wanita tangguh ini bukanlah seorang yang tak pernah menangis. Dia juga sering menangis, tapi kabarnya dia sering menangis diam-diam di tengah malam, saat berdua saja dengan Tuhannya. Sehingga tak ada yang tahu kesedihan macam apa yang dia jalani selama ini. Aku bisa tahu, dari cerita putrinya yang dengan kesedihan mendalam dalam suatu kesempatan menceritakan keadaan ibunya selama ini.

Begini putri bercerita, "Bunda tuh sering dipukuli oleh ayah, disiksa, dipermalukan, tapi bunda diam saja. Kadang ditendang hanya karena salah membuat minum yang sesuai dengan lidah ayah. Sering malam saat akan tidur, saya mendengar suara bak buk bak buk di kamar sebelah. Juga suara ayah yang agak keras membentak bunda. Dulu sering mendengar suara bunda menangis dan bilang ampun, tapi belakangan saya tak lagi mendengar suara tangisan meski ada suara bak buk bak buk. Pasti bunda menahan tangisnya karena takut terdengar saya, gara-gara saya protes mengapa bunda tak mengadu saja pada eyang supaya ayah diperingati. Belakangan saya baru sadar kenapa bunda tak mengadu pada eyang, karena nyatanya eyang (mertua wanita tangguh) selama ini selalu merendahkan bunda disebabkan pendidikan bunda yang rendah. Padahal bunda selalu menghormati eyang bahkan sangat perhatian dan sayang pada eyang."

Dadaku agak sesak mendengar cerita ini. Kawan terbaikku selama ini menghadapi beban berat, tapi aku tak pernah tahu. Kemana saja aku selama ini? Sungguh kurang perhatian. Selama ini dia selalu terlihat ceria dan bahagia. Tak pernah mengeluh juga pandai menjaga nama baik suaminya. Semua orang menghormati suaminya, begitu pun kawanku. Sungguh hanya cinta yang bisa membuat dia bertahan.

Aku menarik tangan putri agar duduk lebih dekat denganku, dia langsung memelukku dan menangis. Di bahuku, dia berbisik dan mempertanyakan, "Kenapa sih bunda tetap bertahan dengan ayah? Kenapa sih bunda selalu meminta putri fokus saja belajar agar cepat lulus dan bekerja? Putri tuh sayang bunda dan gak rela bunda diperlakukan seperti itu." Aku cuma bisa memeluknya, mengelus punggungnya, dan berkata, "Pasti bunda punya alasan yang sangat baik untuk itu. Putri harus percaya pada bunda. Ikuti saja pesan bunda yang ingin putri fokus belajar dan segera lulus kuliah ya."

Di balik semua itu, putri tak pernah tahu bahwa apapun yang dilakukan bunda adalah demi kepentingan putri tercintanya. Sang Bunda yang hanya sekolah hingga SMP bercita-cita memiliki putri yang bisa menduduki bangku kuliah. Berharap putri bisa menjadi wanita karir dan mandiri, tak seperti dirinya yang tergantung pada suami. Semua celaan, makian, pukulan, diterima dengan diam asal dia tetap bisa berada di rumah itu. Berkesempatan melihat putrinya lulus dari perguruan tinggi.

Pikiran wanita tangguh ini sederhana saja, cinta akan menguatkannya. Dia pernah ingin lari, namun pilihan lari adalah membawa serta putrinya dan berakibat kehilangan banyak kesempatan karena tak mungkin bisa membiayai makan putrinya apalagi menyekolahkannya. Wanita ini tak pernah menyesali keadaannya. Dia sibuk membangun jembatan untuk masa depan putrinya. Dan dia juga selalu pandai menghibur dirinya dengan menyibukkan diri menciptakan tawa dan senyum di mana-mana.

Bila aku lelaki, tentu saja aku bisa jatuh cinta padanya. Kadang aku memaki dalam hati, "Bodoh sekali suaminya yang tidak melihat kilau intan miliknya pada wanita tangguh ini." Aku mengagumi dan menghormatinya. Semoga Allah senantiasa menjaga hati, pikiran, dan jiwanya tetap indah.

Maafkan tanpa ijin menulis kisah ini. Semata untuk berbagi dan membuka mataku lebih lebar lagi, bahwa cinta juga bisa tanpa kata. Bahwa apa yang kita anggap biasa, bisa saja itu luar biasa. Bahwa yang kita lihat batu, mungkin saja itu intan. Dan yang terpenting, mari kita lihat dan kenali lebih dalam lagi orang-orang terdekat kita. Ada banyak cinta yang disebar Tuhan di bumi ini, kita saja yang seringkali tidak menyadarinya.

Suka
Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rinna Fridiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Wuri Handayani | Mahasiswi
Tulisan teman-teman di KSC senantiasa selalu menjadi bahan inspirasi tarbiyah aku. Jazakillah khair.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0499 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels