|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://alamaya.multiply.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 12 Desember 2011 pukul 09:09 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu sore sepulang kerja, saya menggunakan Transjakarta Busway. Ketika transit di Halte Matraman, saya melihat kejadian yang sangat memalukan dan membuat saya dongkol. Bagaimana tidak, ketika seorang pengemudi mobil Kijang berwarna merah yang arogan memukul petugas patroli Transjakarta Busway yang berjaga di jalur dan seorang Polantas yang membiarkan pengemudi 'Kijang Merah' tersebut berlalu begitu saja.
Kejadiannya bermula saat portal jalur Transjakarta Busway ditutup, datanglah 'Kijang Merah'. Ketika diarahkan petugas patroli supaya keluar jalur, 'Kijang Merah' tersebut terus diam tak bergerak di mulut jalur. Setelah lewat dari 5 menit portal tidak dibuka, pengemudi 'Kijang Merah' turun dan menghampiri 2 orang petugas patroli. Setelah adu argumen, pengemudi 'Kijang Merah' memukul salah seorang petugas patroli. Petugas patroli yang lain berusaha melerai, tapi pengemudi 'Kijang Merah' malah makin beringas.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang Polantas. Entah apa yang dikatakan Polantas tersebut, namun saya melihat pengemudi 'Kijang Merah' tidak mau mengalah dan bersikeras agar bisa melewati jalur Transjakarta Busway. Walaupun sudah ada Polantas, pengemudi tersebut masih berusaha memukul salah seorang petugas patroli. Akhirnya portal dibuka dan pengemudi 'Kijang Merah' melajukan kendaraannya tanpa merasa bersalah.
Sungguh memalukan! Di negara ini, kesadaran masyarakat akan taat peraturan masih minim. Apakah mereka itu tidak tahu, tidak mengerti, tidak peduli, atau masa bodoh? Kalau tidak tahu atau tidak mengerti, saya kira tidak mungkin, karena mereka yang mengemudikan kendaraan setidaknya mengetahui peraturan-peratuan yang berlaku. Maka tidak salah jika ada yang berkata, "Peraturan dibuat untuk dilanggar."
Dan yang lebih memalukan lagi adalah tidak adanya kewibawaan aparat penegak hukum. Dalam kejadian tersebut, masyarakat sudah berani melawan Polantas, dan Polantas tidak tegas dalam menegakkan peraturan, malah membiarkan kejadian tersebut berlalu begitu saja, padahal seharusnya pengemudi 'Kijang Merah' kena tilang. Sungguh memalukan!
Sebagai warga negara, saya dongkol melihat kejadian tersebut. Alangkah gregetnya melihat tingkah pengemudi 'Kijang Merah' dan Sang Polantas. Sepertinya hanya mimpi jika kita dapat hidup di lingkungan yang tertib. Namun saya masih berharap, negeri ini akan berubah menjadi lebih baik jika setiap pribadi mempunyai kesadaran yang tinggi sebagai warga negara yang taat peraturan. Mari kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari saat ini untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.