HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Puasanya Bapak
3 September 2011 pukul 10:00 WIB
Jatah Sahur dari Office Boy
31 Agustus 2011 pukul 08:00 WIB
Air Mata yang Indah
28 Agustus 2011 pukul 08:30 WIB
Ke Baitullah Modal Doa Doang
25 Juli 2011 pukul 09:30 WIB
Ode Siswa Miskin
22 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 11 Desember 2011 pukul 08:00 WIB

Begadang Boleh, Ibadah Lebih Penting!

Penulis : Eko Prasetyo

Begadang jangan begadang kalau tiada artinya
Begadang boleh saja kalau ada perlunya
(Begadang, Rhoma Irama)

Saya kira, pesan yang disampaikan Rhoma dalam lirik lagu Begadang sudah tepat. Begadang memang tidak layak dipelihara. Sebab, dampaknya tentu tidak baik bagi kesehatan. Jika tubuh tidak fit karena begadang, produktivitas kerja tentu terhambat. Inilah yang banyak terjadi di sekitar kita. Apalagi, jika menonton pertandingan sepak bola di malam atau dini hari.

Sebagaimana diketahui, pertandingan sepak bola selalu menyedot perhatian jutaan manusia. Nah, bagi orang yang tinggal di sebagian wilayah, termasuk Indonesia, pertandingan-pertandingan sepak bola bisa dinikmati pada malam dan pagi dini hari. Sepak bola memang olahraga yang paling digemari di muka bumi ini. Wajar jika pertandingan sepak bola mampu menyedot perhatian jutaan penikmat sepak bola.

Terlepas dari itu, hobi tidak harus mengorbankan hal lain yang jauh lebih penting. Meski menonton sepak bola pada dini hari, ibadah pada pagi buta pun hendaknya tidak ditinggalkan. Misalnya, shalat Hajat ataupun shalat Tahajud.

Sayang, hal tersebut agaknya masih dianggap kurang penting. Alasannya, toh itu hanya shalat sunnah. Pandangan seperti inilah yang mampu menggoyahkan ghirah dalam beribadah. Itu harus diubah sekarang juga!

Lihat saja, ketika pertandingan final turnamen sepak bola tersebut dihelat, banyak pegawai yang telat ngantor setelah begadang. Karena pertandingan baru berakhir subuh, tidur pun ikut molor. Dampaknya, tubuh kurang fit saat harus bekerja pada pagi hari.

Acara nonton bareng pertandingan sepak bola yang digeber di berbagai tempat mampu melenakan kita. Begitu enjoy-nya, ibadah shalat malam tersisihkan. Efek lainnya dari begadang nonton bareng adalah telat ngantor. Bahkan, beberapa kantor pemerintahan dan kantor dewan tampak lengang. Itu terjadi karena banyak pegawai dan pejabat yang molor setelah begadang nonton sepak bola.

Tentu saja, mengorbankan sesuatu (ibadah dan kerja) yang penting demi hobi atau hiburan adalah langkah yang kurang bijak. Apalagi bila pekerjaan yang ditinggalkan berkaitan dengan pelayanan publik. Busyet dah...

Seorang pakar kesehatan tidur mengatakan, begadang memiliki efek yang kurang baik bagi kesehatan. Salah satunya, membuat tubuh letih sehingga berdampak pada menurunnya produktivitas kerja.

Kalau toh begadang dengan alasan bahwa pertandingan sepak bola kan gak tiap hari, itu pun sebenarnya bisa disiasati. Kita bisa melihat tayangan ulangnya atau bisa mengaksesnya di internet. Jika kita mampu total demi sebuah hiburan, ibadah pun seharusnya bisa demikian. Tidak adil rasanya jika kita menunda ibadah shalat malam demi sebuah hiburan yang tak bisa menolong di akhirat nanti. So, pikirkan kembali jika hendak begadang tanpa alasan yang jelas.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1019 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels