Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://hafizh_kharisma.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawati Swasta
piena_pulau
Tulisan Rinna Lainnya
Sentilan dari Pemilik Hidup
24 September 2011 pukul 08:00 WIB
20 Menit Penuh Senyum
23 Agustus 2011 pukul 10:35 WIB
Teman adalah ...
19 September 2010 pukul 15:00 WIB
Belajar Berhitung
1 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Anak-anak Penyemangat Hidup
4 April 2010 pukul 15:35 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 9 Desember 2011 pukul 09:45 WIB

Bijak Berkata, Bijak Bersikap

Penulis : Rinna Fridiana

Saya teringat lagi hari itu, puluhan tahun yang lalu. Berangkat sekolah dengan seragam merah-putih yang separuhnya ternoda karena minyak. Sudah dicoba digosok dengan air, selain tak hilang malah membentuk garis-garis kusut yang menyurutkan usaha saya untuk menghapusnya. Akhirnya memakainya saja dan pasrah dengan keadaan yang ada. Meski rasa malu tak mampu disembunyikan, namun bujukan papi untuk tetap ke sekolah dengan kondisi itu membuatku melangkah dengan lemas menuju sekolah.

Masih teringat saat itu, saya berharap angin mengeringkan dan mampu menghilangkan noda yang ada. Namun kering tetap memelihara bekas minyak dengan jelas, bahkan jaket tak mampu menutupinya. Hari itu dipenuhi kesedihan. Sambil melangkah menuju sekolah, airmata terus turun dan lengan tak berhenti menyeka basahnya pipi. Betapa seringnya dunia terasa tak adil bagi kita.

Satu belokan lagi akan terlihat gerbang sekolah, maka sudah saatnya menarik sapu tangan dan membersihkan wajah, berhenti sebentar dan menarik napas sepanjang yang saya bisa. Seperti biasa, saya ulangi kalimat ajaib yang saya punya, “Aku pasti bisaaa, tersenyumlah cantik.” Satu-dua, satu-dua, satu-dua saya ucapkan hitungan dalam hati dan langkah-langkah saya menjadi lebih cepat dilengkapi senyum yang saya ciptakan dengan cara sendiri.

Kelas sudah mulai ramai, beberapa teman hanya melirik dan tak berkomentar, beberapa wajah menyeringai saat melihat noda besar di seragam, beberapa lagi menanyakan ‘kenapa’. Saya hanya bisa tersenyum dan bilang, ‘hehe kena minyak.’

Saya tak bisa mengingat dengan jelas siapa pak guru yang dengan keras menegur, “Heh, seperti anak kampung saja. Apa gak ada seragam lainnya? Jorok sekali, apa-apaan kamu sampai kena minyak segitu banyak? Masih kecil mainannya seperti pembantu rumah tangga saja.” Kira-kira seperti itu kalimat yang teringat. Saya mengkerut mundur ke belakang, berusaha menahan tangis dengan mengepalkan tangan di belakang punggung. Dan yang bisa keluar dari mulut saya hanya, “Maaf, pak, seragam satu lagi kan masih basah, baru dicuci tadi pagi.” Pak Guru masih mengomel mempertanyakan penyebab minyak di pakaian saya dan saya dengan suara yang getarnya tak bisa ditahan karena sibuk menahan mata yang membasah terbata-bata mengadu,� “Mami saya anfal tadi subuh saat sedang menggoreng bakwan pesanan. Dua wajan minyak panas tumpah ke separuh badannya. Saya hanya mencoba menolong dan memeluknya saja. Tadinya ingin ikut ke rumah sakit, tapi papi meminta saya tetap sekolah.”

Saya tak lupa saat pak guru itu berjongkok di depan saya dan berbisik dengan suara pelan penuh penyesalan. “Mau Bapak antar pulang? Atau kita susul ke rumah sakit?” Saya hanya menggeleng dan mengepalkan tangan lebih kuat ketika pandangan mulai terasa kabur oleh airmata yang memenuhi kelopak.

***

Ada banyak kejadian yang kita lewatkan begitu saja dan dengan mudah terlupa, tapi ada beberapa kejadian yang membekas dan seringkali teringat kembali ketika ada pemicunya. Setiap saya dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan atau setiap kali saya diminta untuk mengkonfrontasi suatu kejadian yang tidak mengenakkan, ingatan saya seringkali kembali mengenang kejadian di atas.

Dari pak guru, saya belajar untuk tidak serta merta memberikan penilaian dan menghakimi sesuatu apabila saya tidak paham sepenuhnya keadaan yang sebenarnya. Penyesalan belakangan tidak akan bisa mengembalikan rasa sakit, malu, kecewa yang pernah ditimbulkan akibat tuduhan. Apa yang sudah kita goreskan tak mampu mengembalikan airmata yang sudah menetes. Maka bijak berkata, bijak bersikap adalah penting dalam hidup.

Saya share cerita ini buat anak-anak saya tercinta; agar mereka senantiasa mensyukuri nikmatnya hidup, agar selalu menyayangi dan menghormati neneknya yang sempurna kekurangan dan kelebihannya, agar mereka punya kalimat-kalimat ajaib mereka sendiri yang membuat mereka jadi kuat saat diperlukan, agar mereka berlaku adil pada sesama, agar mereka belajar menahan diri dan selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Suka
cinta sejati menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rinna Fridiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0566 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels