HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Menengok Keserakahan Indonesia dari Bumi India
19 Oktober 2011 pukul 12:30 WIB
"Only Five-Ten Minutes?"
6 Oktober 2011 pukul 15:30 WIB
Cinta Sebatas Harta
25 September 2011 pukul 10:30 WIB
Nothing Wrong to Try
24 Agustus 2011 pukul 10:45 WIB
Philosophy of Hypermarket
20 Agustus 2011 pukul 08:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 20 November 2011 pukul 10:45 WIB

Gema Takbir Mualaf

Penulis : Syaifoel Hardy

Ketika Rasulullah SAW mengetahui untuk pertama kalinya, bahwa Abu Dzar Al Ghifari (ra) berasal dari Kabilah Ghifari, suku yang waktu itu dikenal sebagai kelompok pencuri dan perampok yang terkenal di daratan Arabia, tersenyum lebarlah beliau. Padahal, sebagaimana diketahui, Rasulullah SAW jarang tersenyum seperti itu.

Abu Dzar Al Ghifari (ra), sosok yang berani dan berkemauan keras itu, meminta kepada Rasulullah SAW untuk membacakan sya'irnya. "Bukan sya'ir yang akan saya bacakan. Namun Ayat-ayat Suci Al-Qur'an!" jawab beliau SAW. Kemudian Rasulullah SAW membacakan beberapa ayat.

Sesudah mendengarnya, dengan seijin Allah Ta'ala, keluarlah Dua Kalimah Syahadat dari bibir Abu Dzar (ra).

Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah : 269).

Abu Dzar Al Ghifari (ra) sahabat pilihan Rasulullah SAW, adalah salah satu sahabat yang menyerahkan seluruh hidupnya demi Islam. Beliau (ra) merupakan orang kelima atau keenam yang memeluk Islam. Zaman dimana Islam mendapatkan tantangan yang amat berat, beliau (ra) berani tampil menyuarakan dakwah Islam, bahkan di tengah-tengah para penggede Quraish di Makkah.

Sesudah kembali ke tempat asalnya, beliau (ra) kemudian datang lagi ke Makkah bersama seluruh rakyat Al Ghifari dan kaum Kabilah Aslam, yang juga tempat gembongnya perampok, berbondong-bondong layaknya pasukan berangkat perang. Mereka, bersama-sama berbaiat kepada Rasulullah SAW, menyatakan keislamannya. Subhanallah.

Hidayah dari Allah Ta'ala tidak pernah disangka-sangka. Jika saatnya tiba, hidayah tersebut datang kepada siapa saja dan kapan saja atas kehendakNya. Tiada yang akan mampu menolaknya. Tiada pula yang mampu menunda atau menyegerakannya. Tidak peduli apakah itu istri atau anak seorang nabi, seperti yang dialami Nabi Nuh (as). Tidak peduli apakah itu ayah nabi, seperti kasusnya Nabi Ibrahim (as). Atau, pamannya, seperti Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Jika tidak dikehendakiNya, tak seorang pun mampu memaksakan hidayah ini.

***

Kemarin saya melaksanakan shalat Jum'at di Masjid Syeikha Lafita Kabeer. Sekitar 400 meter dari tempat kami tinggal. Masjid itu baru saja direnovasi. Imamnya seorang warga Palestina. Masjid itu bisa menampung lebih dari 2000 jama'ah. Bila shalat Jum'at tiba, sebagaimana biasa, jumlah jama'ah membludak, hingga halaman parkir masjid penuh.

Masjid tersebut secara fisik tidak nampak cantik. Meski demikian, saya senang melaksanakan shalat disana, khususnya pada hari Jum'at. Tidak lain alasannya, karena pada musim panas ini, shalat di masjid tersebut dingin suasananya. Masjid dekat rumah memang kecil. Sehingga seringkali para jama'ah harus berdesak-desakan di dalam. Terlambat sedikit saja, risikonya harus puas dengan duduk di halaman masjid. Panas sekali!

Saya bersila di barisan ketiga saat khutbah berlangsung. Selama khutbah, isinya tidak ada yang nampak istimewa. Masjid-masjid disana, yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, umumnya para imam, muadzin atau petugas yang merawat masjid adalah pegawai negeri. Berbeda dengan kebanyakan yang kita alami di Indonesia, Imam dan khatib disana tidak bisa seenaknya menyampaikan dakwah-dakwah mereka.

Terlebih-lebih di atas mimbar Jum'at! Mereka cukup membacakan surat 'edaran' yang dibagikan ke seluruh negeri oleh Kementrian Agama (Awqaf). Apalagi pada masa sekarang, dimana Islam diidentikan dengan teroris. Negara-negara Islam di Timur Tengah, kena getahnya. Pemerintah sana hampir 'memonitor' seluruh kegiatan di masjid-masjid, guna memastikan bahwa negerinya 'safe'.

Khutbah beserta shalat Jum'at berlangsung kurang lebih hanya 30 menit. Biasanya, usai shalat Jum'at, ada orang India yang memberikan pengumuman khusus bagi mereka yang tidak menguasai Bahasa Arab, mendengarkan terjemahan khutbah yang akan diadakan beberapa saat sesudah shalat Jum'at usai. Tapi, kali ini tidak demikian.

Begitu shalat selesai, Imam yang merangkap Khatib, orang Palestina tadi, menyampaikan sebuah pengumuman. Beliau dahului dengan Shalawat Nabi dan Tahmid. Sementara beliau mengumandangkan takbir dan tahmid, tiga orang kulit hitam, nampaknya asal Afrika, mendekati sang Imam.

Mereka bertiga berjubah putih. Yang duduk paling depan, dekat Imam, kelihatannya masih muda. Dililitkan kain putih diatas kepalanya, seperti yang banyak dilakukan pemuda-pemuda Arab. Sedangkan dua orang dibelakangnya, penutup kepalanya yang juga putih, sepertinya orang Sudan.

Siang itu, jama'ah kami bertambah. Demikian diumumkan oleh sang Imam. Satu orang warga asal Nigeria, memenuhi panggilan jiwanya sebagai seorang Muslim. Perlahan-lahan, dituntunlah Muhammad Utsman, nama barunya, membaca Syahadat, di depan kerumunan jama'ah lebih dari 2000 orang itu. Orang ini tidak lain adalah yang duduk pada baris depan diantara tiga orang Afrika tadi. Sedangkan dua orang dibelakangnya, barangkali sekedar menemaninya.

Sesudah itu, rasa ingin tahu jamaah lainnya semakin besar. Ratusan orang mengerumuni Muhammad Utsman. Saya yakin dia akan kewalahan melayani ucapan selamat dan jabat tangan dari jama'ah yang berasal dari berbagai negara.

Sebenarnya jarak saya, yang berada di barisan ketiga, tidak jauh dari mimbar. Namun saya hanya mengucapkan Hamdalah dan Takbir Akbar di tempat. Saya tidak ikut orang-orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar, mendekati Muhammad Utsman. Beberapa meter di depan saya, terlihat seorang tua, berkulit cokelat gelap, tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebaliknya, beliau memindahkan tempat duduk yang semula menghadap kiblat, bergeser menghadap ke arah mimbar, disebelah kirinya.

Saya pandangi kedua matanya yang meneteskan air mata. Sesekali dibasuh dengan tissue-nya. Lelaki tua berjubah putih itu beberapa kali memindah-mindahkan posisi duduknya, sambil memandang sesuatu yang saya tidak paham.

Ternyata saya tidak sendiri. Karena saya juga turut meneteskan air mata, sebagaimana beberapa orang di sekitar saya, termasuk orang tua tadi, yang menyaksikan kejadian tersebut.

Ratusan orang di depan mimbar meneriakkan Takbir : "Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…!" berkali-kali, dengan penuh semangat. Baru kali ini saya menemui kejadian dimana orang Kristen memeluk Islam di dalam masjid yang disaksikan oleh ratusan orang meneriakkan dengan gema Takbir seperti ini.

Suasana siang itu benar-benar penuh haru. Kami semua yang hadir di masjid sepertinya 'tersihir'. Sebagaimana yang saya rasakan, air mata para jama'ah yang menetes, pasti memiliki latar belakang yang berbeda. Luapan kegembiraan saya sebagai umat Islam siang hari itu rasanya belum cukup untuk dijadikan sebagai satu-satunya alasan mengapa air mata ini menetes.

Terlepas dari riwayat 'perjalanan' bagaimana Muhammad Utsman ini kembali ke Islam, saya jadi teringat akan sejarah Abu Dzar Al Ghifari di atas.

Di Dubai, orang-orang berkulit hitam jarang mendapatkan reputasi yang baik. Mungkin saya terlalu menjeneralisasi. Tapi begitulah kenyataannya. Banyak tindakan-tindakan berbagai jenis kriminalitas yang dilakukan oleh orang-orang Afrika.

Dalam seminggu terakhir ini saja, saya menemukan setidaknya sekali perampokan bank, dan satu kasus pembunuhan, keduanya termuat di dalam koran lokal. Satu lagi kasus pencurian. Yang ini, kejadiannya saya lihat langsung dari apartemen kami ketika saya dengar teriakan-teriakan orang di luar, yang ketika saya longok, ternyata dua orang Afrika sedang dikejar-kejar. Mereka melakukan pencurian di sebuah toko mobile telephone.

Ironisnya, di masjid sebelah rumah kami, mayoritas jama'ahnya juga orang-orang Afrika. Orang-orang Afrika memang sebagian besar bermukim di daerah kami tinggal. Jama'ah masjid asal Afrika ini terkadang memang 'menjengkelkan'. Pokoknya ada saja hal-hal yang kurang 'etis' terjadi di dalam masjid, dilakukan oleh orang-orang Afrika. Terutama dan yang paling sering adalah lupa mematikan hand phone nya saat shalat jama'ah berlangsung.

Setiap kejadian yang ada di bumi ini, tidak ada yang bersifat kebetulan. Tidak ada peristiwa, gugurnya selembar daun kurma sekalipun, yang tidak tercatat dalam FirmanNya. Orang kulit putih tidak berarti lebih baik dari kulit hitam. Orang Arab tidak otomatis lebih mulia dari orang Cina.

Kedatangan Muhammad Utsman ke Masjid Syeikha Latifa Kabeer, seperti yang pernah dialami Sahabat Rasulullah, Abu Dzar Al Ghifari, juga bukan suatu kebetulan. Demikian pula yang terjadi pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW lainnya, misalnya Umar bin Khattab (ra), Abu Bakar Sidiq (ra), atau Hamzah (ra), dan lain-lain. Allah Mahatahu siapa saja yang dikehendakiNya.

Hanya saja, kita manusia yang lemah ini, jauh dari kata mengerti tentang apa kemauan Allah Ta'ala terhadap kita. Karena itu, sudah semestinyalah kita mengambil pelajaran dari kaum Tabi'in, atau Muhammad Utsman, atau siapapun yang haus akan pencarian kebenaran yang tersimpan dalam Islam. Kebenaran yang jauhnya tidak terbatas pada jarak yang ditempuh Muhammad Utsman untuk kemudian menjadi seorang Muslim. Mahabesar Allah, Yang Ilmu Tak Terbatas. Wallahu a'lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1760 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels