QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://muhammadrizqon.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Konsultan
http://muhammadrizqon.multiply.com
rizqon.ak@gmail.com
Tulisan Muhammad Lainnya
Membuka Jalan Terkabulnya Doa
9 November 2011 pukul 15:00 WIB
Berqurban dari Harta yang Haram
2 November 2011 pukul 10:00 WIB
Harta itu Memiliki Kecerdasan
15 Oktober 2011 pukul 09:00 WIB
Menghibur dan Menenangkan Jiwa
11 Oktober 2011 pukul 11:35 WIB
Adakah Al-Qur'an dalam Hatiku?
25 September 2011 pukul 08:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 17 November 2011 pukul 08:30 WIB

Mengejar Profit Kebajikan

Penulis : Muhammad Rizqon

Beberapa hari terakhir ini, guyuran air hujan mewarnai hari-hari di daerah penyangga Ibu Kota. Dahsyatnya banjir yang melanda Negeri Gajah Putih Thailand, menjadi peringatan bagi warga yang tinggal di kawasan penyangga Ibu Kota ini, termasuk Bekasi. Berita banjir besar di Pondok Labu makin menegaskan kepada warga untuk makin waspada menghadapi datangnya musim hujan yang biasanya berkomplikasi pada masalah banjir, kemacetan parah, timbulnya wabah penyakit, yang pada akhirnya bisa menjalar pada masalah yang lebih serius, yaitu tersumbatnya perekonomian, rawannya masalah sosial dan ketegangan politik di pusat pemerintahan. Ya, mau tidak mau dan suka tidak suka, potensi resiko tersebut harus dihadapi dengan lapang dada. Inilah wajah negeri yang buruk sistem drainasenya, semrawut pengelolaan sampahnya, amburadul tata ruangnya, dan egosentris pola hidup sebagian besar warganya.

Suatu hal yang menggembirakan dan membangkitkan optimisme, meski suasana mendung meliputi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, tidaklah menjadikan beberapa orang berpantang surut menyongsong satu hari yang sangat monumental itu yaitu Idul Adha, yang selalu mengingatkan kita akan keteladanan Nabi Ibrahim as dan keluarganya.

Sebuah lembaga pendidikan tidak ternama bernama PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) SAKURA, Meski terkesan diam-diam, ternyata pada hari H, mampu membuat masyarakat sekitar cukup takjub dan heboh. Dua ekor sapi dan 22 ekor kambing/domba digiring dari kandang (berjarak sekitar 50 meter dari sekolah) menuju tempat berlangsungnya acara pemotongan hewan qurban di sebuah halaman kontrakan yang cukup lapang dekat sekolahan.

Kemeriahan dan kehebohan terjadi ketika hewan-hewan udhiyah di konvoi dari kandang. Masyarakat kaget karena semalaman menjelang Idul Adha, tidak terparkir satu hewan ternak pun di halaman PAUD SAKURA.

Sebagian warga berbisik, “Hey...PAUD Sakura memotong 2 ekor sapi....hebat....hebat...” Yah, PAUD Sakura yang dibentuk oleh personil Yayasan Cahaya Kebajikan memang pada awalnya tidak dilirik oleh warga. Gedungnya menempati rumah tua dari kader baru yang mengikhlaskan ruangannya dipakai buat sekolahan. Tidak luas namun masih layak. Bea masuknya cukup murah. Para pengajarnya pun adalah dari ibu-ibu sekitar yang terkesan tidak berpengalaman. Namun seiring dengan berjalannya waktu, warga menyadari bahwa ada Yayasan besar yang menaunginya. Besarnya Yayasan bukan diukur dari kekayaan yang dimiliki namun diukur dari komitmennya yang teramat besar mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengoptimalkan masa lima tahun pertama dalam kehidupan seorang anak. (the golden years).

Ketakjuban warga kian besar ketika mereka mengetahui bahwa acara pemotongan hingga pembagian hanya berlangsung hanya beberapa jam saja. Dari yang awalnya sepi, kemudian timbul suasana meriah memenuhi warga, hingga acara selesai tanpa meninggalkan bekas kotoran dan bau hewan qurban. Semua panitia bekerja bantu-membantu hingga tuntas semua urusan.

Itulah kerja yang dilakukan secara berjamaah, terkesan rapi dan profesional. Penilaian positif pun mengemuka dari mulut para warga,

“Wuih...cepat sekali ya kerjanya...rapi lagi...bener-bener profesional.”

Tanpa bermaksud menyanjung, Ibu Siregar selaku pengurus yayasan dan pemilik bisnis Hasanah Qurban, memiliki andil yang cukup besar. Beliau bergerilya menawarkan karib kerabat dan teman untuk berqurban demi memeriahkan Idul Adha 1432 H ini. Bukan mengejar keuntungan, tetapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk bersedia berqurban. Beliau memfasilitasi dan memudahkan orang berqurban dan berbagi kepedulian dengan warga dhuafa sekitar. Bukan keuntungan “uang” yang utamanya ia kejar tapi keuntungan “kebajikan” selain kebajikan yang beliau dapat dari bulu hewan udhiyah yang beliau kontribusikan juga.

Beliau bukan pemilik peternakan, namun pengalamannya yang luas menjadikannya memiliki relasi yang sangat baik dengan penyedia hewan qurban. Sehingga harga hewan ternak bisa disesuaikan dengan dompet para pequrban.

Selain bekerja sama dengan penyedia ternak El Fikri sebagaimana tahun-tahun lalu, tahun ini beliau menjalin kerjasama dengan Peternakan Sakado (Sapi Kambing Domba) di Sumedang yang membuka lapaknya di Jakarta. Alhamdulillah visi pengelola peternakan Sakado sejalan dengan visi Ibu Siregar. Visinya menggagas peternakan Sakado didasari nilai kejamaahan dimana dia bermimpi bahwa kandangnya kelak tidak hanya berisi kegiatan peternakan saja, namun juga menjadi pusat pembinaan (istilahnya adalah kandang tarbiyah) dan mampu men-supply daging ke jamaah dengan kualitas baik (thoyiban) dengan harga terjangkau khususnya bagi mereka yang ingin menunaikan qurban dan berbagi kepedulian dengan dhuafa.

Pepatah mengatakan: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Ini sejalan dengan firman Allah SWTyang memerintahkan kita untuk berlomba dalam kebaikan (QS 2:148) dan menjadikan hidup dan mati sebagai ujian untuk mengejar yang terbaik (QS 67:2). Jika orang bersungguh-sungguh mengejar harta yang mungkin manfaatnya terbatas, kita pun bisa bersungguh-sungguh mengejar “kebajikan” seperti layaknya mereka. Hanya saja yang menjadi ironi, orang tidak mau bersungguh-sungguh mengejar kebajikan karena sifatnya yang abstrak. Padahal dengan bashirah yang kita miliki kita bisa mengkonkritkan sifat kebajikan itu seperti panjang umur, sehat, ketenangan jiwa, keharmonisan rumah tangga, anak yang sholeh, manfaat yang banyak, dan lain-lain. Coba kita konversikan nilai-nilai itu dengan uang. Sungguh tidak ternilai bukan?

Inilah salah satu sifat amal sholeh yang dilupakan orang. Yaitu selain ia harus didasari oleh niat ikhlas, dikerjakan dengan mencontoh Rasul SAW, dan ditujukan untuk Allah SWT semata, ia harus disegerakan, dikejar atau berlomba-lomba didalam meraihnya.

Semoga Allah SWTmemberi petunjuk kepada kita untuk senantiasa berlomba mengejar kebajikan dan menjadikan kebajikan sebagai obsesi kehidupan sebagaimana dulu terjadi pada masyarakat Madinah.

Wallahu a'lam.

http://muhammadrizqon.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1241 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels