QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Cut Tari
19 Mei 2011 pukul 09:05 WIB
Kampus Sang Anak
24 April 2011 pukul 08:35 WIB
Ekspresi Syukur
18 Februari 2011 pukul 09:15 WIB
Pejuang di Negeri Seberang
24 November 2010 pukul 16:00 WIB
Ilmu-ilmu yang Berserakan
17 November 2010 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 24 Oktober 2011 pukul 09:30 WIB

Tak Ada Kata untuk Berhenti Berjuang

Penulis : Sus Woyo

Sepulang dari masjid, setelah memberikan sedikit pengetahuan tentang hukum-hukum seputar shalat, aku masih dihadapkan dengan sebuah pertemuan dengan para pengurus RW di lingkungan tempat tinggalku. Badan terasa sangat lelah. Aku duduk sejenak, dan kutengok anakku, dan ia mengatakan, "Aku lapar."

Kulihat anakku membuka tutup nasi, kemudian menutupnya kembali. Ia kelihatan kecewa. Anakku kembali berbaring di depan televisi. "Sabar, nak, aku nanti cari makanan," kataku. Ia tak menyahut. Aku merasa iba dan bersalah. Aku merasa gagal membangun ekonomi keluarga.

Kemudian aku menengok dua anakku yang kecil-kecil. Keduanya sedang sakit, dan belum sempat kubawa ke dokter, karena memang belum mempunyai uang cukup untuk ke dokter. Kukatakan kepada istriku, "Sabar dulu ya, Allah sedang menguji kita."

Aku meninggalkan rumah lagi, karena sudah ditunggu oleh pengurus RW yang lain. Dalam musyawarah tentang air bersih itu, aku lebih banyak diam. Tak terasa aku tertuju kepada beberapa jenis makanan yang tersaji di depan kami. Aku ingat anakku yang berbaring di rumah dalam kondisi lapar. "Ya Allah, berilah kesabaran untuk anak dan istriku."

Terkadang aku ingin berhenti beraktifitas untuk umum. Sering terlintas aku hanya ingin konsentrasi dalam pemenuhan ekonomi keluarga. Tak lagi mengurusi keadaan di lingkungan rumahku. Juga tak lagi menjadi ketua RT, yang sudah kupegang untuk periode kedua ini.

Aku ingin mengurusi diriku, anak, dan istriku saja. Aku ingin sekali lepas dari aktifitas kegiatan sosial. Mengurusi hal-hal seperti itu memang tak ada untungnya, dari sisi materi. Lebih banyak ruginya, kebaikanpun tak terlihat. Salah sedikit, warga terus menghakimi, tanpa melihat sisi kebaikan yang telah kita perbuat.

Apalagi saat ini, saat ujian Allah bertubi-tubi menghampiriku. Aku ingin sekai lari dari urusan-urusan ke-RT-an dan ke-RW-an. Rasanya aku sangat bersalah dengan anak istriku dengan kondisi ini. Aku ingin lari, lari, dan lari. Masih banyak orang yang secara ekonomi lebih pantas mengurusi keumatan ketimbang diriku. Masih segudang orang di sekitarku yang secara intelektual lebih pantas untuk mengurusi hal kemasyarakatan.

Tapi, pernah suatu saat aku berhenti total dengan itu semua, malah hati ini menjadi tidak tenang. Masjid, seolah melambai-lambai terus padaku. Juga kegiatan lingkungan, seolah masih berteriak memanggil-manggil namaku. Padahal apa keuntungan materi yang bisa kita dapat dari itu semua?

Akhirnya, suatu hari, guru tafsir Al-Qur’an kami yang merupakan alumni Timur Tengah, dalam kajian mingguan mengatakan, "Bagi orang beriman, tak ada kata berhenti untuk berjuang. Bagi orang beriman, tiada saat untuk beristirahat dalam berdakwah. Berhenti dan istirahatlah nanti di akhirat."

Aku mencoba merenungi untaian kalimat indah dari guru kami itu, saat mengupas tuntas surat At-Taubah yang berkaitan dengan semangat berjuangnya para sahabat Nabi. Kekurangan dalam ekonomi, kondisi kesehatan yang tidak stabil, suasana keamanan yang tak menentu, panggung politik yang carut-marut, bukanlah menjadi alasan para sahabat untuk berhenti berjuang mengikuti jejak Rasulnya.

Dalam kondisi yang sangat berat, baik itu dari sisi ekonomi maupun kondisi kesehatan anak-anak dan istriku, aku senantias a merintih pada-Nya. "Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Berikanlah kekuatan dan kesabaran untuk anak-anakku dan istriku, saat aku keluar untuk mengikuti jejak Nabiku, Muhammad SAW."

Suka
cinta sejati menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ida Jubaidah | Guru
Terima kasih sudah diundang untuk memasuki KotaSantri.com. Blom apa-apa juga, perasaan mah udah betah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1205 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels