HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Cinta Sebatas Harta
25 September 2011 pukul 10:30 WIB
Nothing Wrong to Try
24 Agustus 2011 pukul 10:45 WIB
Philosophy of Hypermarket
20 Agustus 2011 pukul 08:25 WIB
The Value of Certificates
14 Agustus 2011 pukul 08:05 WIB
Ramadhan in India : So Much Challenging!
8 Agustus 2011 pukul 08:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 6 Oktober 2011 pukul 15:30 WIB

"Only Five-Ten Minutes?"

Penulis : Syaifoel Hardy

Langit yang memayungi bumi Qatar pagi ini cerah. Usai shalat Fajar, sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Lagian, suhu tidak lagi dingin seperti biasanya. Musim nampaknya mulai bergeser. Dari dingin ke panas.

Saya sudah lebih satu bulan tidak aktif renang. Kecuali yang terakhir, 3 pekan lalu di Wendit - Malang. Pemandian alam cantik yang banyak keranya. Ngeri juga pertama lihat! Tapi kami siap, pisang dan kacang, kesenangan kera. Jadi, enjoy saja!

Di Doha nggak ada kera. Bukan berarti nggak bisa enjoy. Saya pikir senang atau tidak, itu relatif. Dan bisa dibuat. Sebuah jawaban yang saya berikan malam tadi, kepada tetangga sebelah, Farid, asal Hyderabad - India, yang mengaku mood off akhir-akhir ini. Makanya, ke kolam renang, menjadikan alternatif terbaik bagi saya. Mengurangi stres, funn dan sehat! Tidak jauh, hanya 10 menit dengan kendaraan.

Seperti biasa, saya selalu datang paling awal di kolam tersebut. Orang-orang Doha memang senang mbangkong (tidur sampai siang) jika weekend (di Arab, Jumat-Sabtu akhir pekan). Lebih nyaman. Selain air bersih, sepi dan leluasa jika berenang.

Ada beberapa petugas di Club tempat saya renang tersebut. Salah satu yang biasa saya temui ketika ganti pakaian renang ataupun saat mau pulang, seorang asal Srilanka. Saya sapa: “Hai…!” Dia balas: “Good morning Sir..!” Saya berhenti melanjutkan langkah naik tangga menunju kolam renang, dari kamar ganti, begitu mendengar sapanya. Saya menoleh sesaat. Kemudian dia menyambung.

“Kontrakan saya habis tanggal 28 Maret ini. Saya mau pulang.” Katanya. Sejenak, namun secepat itu pula, ‘syetan’ yang ada dalam pikiran saya berkata: “Apa urusanya denganku? Kontrak habis kan nggak ada hubungannya?” pikiran negative ini muncul.

“Apa yang dia katakana pasti ada maunya!” begitu si syetan berbisik lagi. Agar saya tidak terlalu menghiraukan. Namun sanubari saya menjawab,

“Betapa teganya kamu berbicara seperti itu kepada petugas kolam yang miskin ini. Apa salahnya sih, jika kamu meluangkan sebagian rejeki yang dilimpahkan Allah kepadamu untuk disedekahkan kepadanya? “ Kembali, pemikiran jernih, bisikan ‘malaikat’ mencoba meluluhkan egoisme saya.

“Nggak usah kamu beri apa-apa! Tanggung jawab dia untuk menafkahi keluarganya. Biarin saja dia pulang ke Srilanka. Punya duit atau tidak, itu bukan urusanmu!” Bisik sang syetan lagi. Kali ini lebih keras.

Sambil berenang, saya berpikir. Syetan memang selalu menghalang-halangi kita bila mau berbuat baik. Dicegahnya kita dengan berbagai upaya, yang tanpa kita sadari, supaya jauh dari surga. Padahal kita tahu, sedekah yang kita berikan hakikatnya adalah tabungan. Bukan pengeluaran!

Alhamdulillah, bisikan naluri saya menang dalam berargumentasi dengan syetan.

Sebelum pulang, saya sempatkan mengucapkan selamat jalan kepada petugas pembersih kolam asal Srilanka tadi, sambil menyisipkan sedikit Riyal ke sakunya. Seperti yang biasa saya lakukan, sekedar pemberi semangat, bahwa saya menghargai apa yang dikerjakan untuk kami, pelanggan di kolam tersebut.

“Bye..bye…Take care!” saya lambaikan tangan ini sambil berjalan meninggalkan lelaki bertubuh tinggi kurus tadi.

Saat memasuki ruang tunggu yang biasa kami lewati sebelum ke luar Club, saya disapa oleh petugas Club, warga asal Filipina. Mengetahui saya hanya 30 menit di kolam renang, begitu singkat menurutnya, dia bertanya,: “Only 5-10 minutes?”

“Yes! It is better only little but routine or frequently, rather than 24 hrs, once in a year!” jawab saya, sengaja sambil menasehati diri sendiri terhadap apa yang terucap di bibir ini.

Pelajaran yang dipetik dari kejadian di atas adalah, jika kita mau berbuat baik, acapkali muncul pertentangan batin dalam diri sendiri. Yang jelek, selalu datang dari Syetan. Sedangkan yang baik, karunia Allah semata. Nilai kebaikan tersebut, meski sepertinya tidak bermakna, jika itu seringkali dikerjakan, akan jauh lebih bermakna, dari pada berbuat kebaikan yang besar, setahun sekali.

Wallalu a’lam!

Suka
diera gelis menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1171 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels