HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://hafizh_kharisma.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawati Swasta
piena_pulau
Tulisan Rinna Lainnya
20 Menit Penuh Senyum
23 Agustus 2011 pukul 10:35 WIB
Teman adalah ...
19 September 2010 pukul 15:00 WIB
Belajar Berhitung
1 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Anak-anak Penyemangat Hidup
4 April 2010 pukul 15:35 WIB
SMS Penguat Hati
21 Maret 2010 pukul 15:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 24 September 2011 pukul 08:00 WIB

Sentilan dari Pemilik Hidup

Penulis : Rinna Fridiana

Pagi itu baru saja kujemur separuh cucian yang telah menumpuk tiga hari di mesin cuci, terdengar suara HP menandakan ada SMS yang masuk. Agak berlari aku masuk ke dalam rumah mengambil HP yang kutaruh di atas kulkas. Satu pesan tertulis di layar HP dan kubuka, dari Sita, sahabatku. "maaf suamiku sudah tau semua.semuanya..ga bisakupungkiri lagi, aku mengakui semua. maapin aku ya telah melibatkanmu, menyusahkanmu."

Deg. Jantungku terasa ngilu, sedetik kemudian diikuti badan lemas. Ah, ada apa lagi ini? Sudah lama kami tidak komunikasi, terutama untuk menghindari kesalahpahaman mengenai persahabatan kami di mata suaminya yang sangat keberatan dengan kedekatan kami. Hal itu bisa kami mengerti dan akhirnya kami berusaha saling membatasi tanpa maksud memutuskan silaturrahim. Tapi sekarang, dia kembali menghubungiku dengan SMS yang membuatku bingung. Tahu semua. Semuanya. Tahu apa? Kenapa musti minta maaf? Apa yang gak bisa dipungkiri?

Kebingungan melanda pikiran dan hatiku, antara mencoba menahan diri untuk tidak membalas SMSnya agar tidak kembali keterusan berhubungan, tapi juga tergoda untuk tahu lebih banyak ada permasalahan apa. Ya Tuhan, pergumulan keinginan seperti tidak berpihak padaku. Aku merasa tak berdaya. Tak tahu harus bagaimana. Membalas SMSnya berarti melanggar kesepakatan, tidak membalas juga menjadi beban pikiranku! Ah...

Tak lama setelah itu, HPku kembali bunyi. Berdetak cepat dadaku dibuatnya. Dia pasti tak sabar menanti balasanku! Tapi ternyata aku salah kira, SMS itu dari seorang teman lain tapi isinya lebih mengagetkan lagi. "Mas, Sita dan suaminya sudah ngobrol dengan aku panjang lebar. Sita sudah mengakui dan menyesali semua. Gimana dengan mas?"

Lama aku terdiam membaca deretan kalimat itu. Agak heran dengan hal ini, tapi aku malas bertanya panjang lebar dan tak ingin juga jawabanku nanti malah bisa memperkeruh suasana antara Sita dan suaminya. Kujawab secara singkat saja, "Insya Allah." Tak lama setelah itu, temanku membalas SMSku dengan kata-kata yang membuatku lebih bingung lagi. "Do'aku semoga semua kembali seperti semula." Namun kebingunganku kembali menuntunku untuk membalas SMSnya, "Insya Allah. Alhamdulillah jika pembicaraan kalian bisa menenangkan hati. Saya percaya bahwa kebenaran dan keadilan hanya milik Allah semata."

Lama aku terduduk dan diam merenung memikirkan semua ini. Mencoba meraba-raba apa yang sedang terjadi. Apakah persahabatanku kembali menjadi masalah? Apa? Apa? Tak lama kuputuskan untuk tidak memikirkannya, untuk tidak menjadikannya sebagai beban, untuk membiarkannya lewat begitu saja, untuk tak peduli pada isi cerita pertemuan mereka, kupastikan ini sebagai pelajaran hidup yang hikmahnya harus kuambil dengan lapang dada, aku bertekad menganggap ini sebagai sentilan dan batu sandungan dari Sang Pemilik hidup yang tidak akan menyurutkan langkah kakiku.

Kusadari bahwa aku hanya manusia biasa yang memang banyak khilafnya, manusia yang mudah terjebak oleh segala rasa dan raga. Kubiarkan mereka menilai diri ini sebagaimana adanya apa yang mereka lihat dan ketahui. Namun di balik semua ini, aku yakin pada kekuatan besar di luar mahluk, bahwa Allah Maha Mengetahui, bahwa Allah menilai kita dari niat dan apa yang tersembunyi di hati. Aku menjadi lebih tenang ketika aku meyakini bahwa tak pernah ada sedikitpun niat dalam hatiku untuk melukai seseorang, untuk melemahkan seseorang, atau untuk merusak rumah tangga orang.

Sita adalah wanita yang baik, dia pasti mengerti bila aku kini memilih menghindarinya. Aku justru tak mau persahabatan kami berjalan di atas duri, maka biarlah kami saling menjaga persahabatan ini lewat do'a-do'a kami, tanpa ada SMS, tanpa ada komunikasi, tanpa ada pertemuan yang bisa membuat orang lain menjadi lebih salah paham lagi. Sungguh, ini sentilan yang membuatku jadi semakin sadar bahwa Allah memang pencemburu, dia senantiasa menginginkan cinta dan sayang mahluknya hanya diberikan kepadaNya. Aku telah lalai pada Pemilik hidup, semoga Allah masih membuka pintu bagiku untuk semakin mencintai dan menyayangiNya. Amiin.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rinna Fridiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0468 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels