Pelangi » Refleksi | Jum'at, 9 September 2011 pukul 09:39 WIB

Kerupuk dan Introspeksi Diri

Penulis : ruhendi

Tak setiap orang sempat berpikir tentang makanan yang setiap hari masuk ke perutnya. Padahal, makanan halal dan baik berpengaruh bukan saja pada pencernaan maupun kesehatan tubuh. Banyak deskripsi tentang makanan halal dan baik yang harus dijawab menurut pribadi masing-masing. Sebab, jika apa yang Anda makan terus perut terasa mulas, langsung BAB bahkan keracunan, bisa jadi makanan itu haram. Jadi teliti dulu sebelum makan.

***

Dua hari setelah Lebaran, aku kembali masuk kerja. Kebetulan hanya diberi waktu libur empat hari. Setelah beres deadline malam itu, aku pulang dan beristirahat di mess. Maklum, biasanya sehabis Lebaran warung nasi apalagi yang buka di malam hari sangat susah ditemukan. Mungkin mereka masih pada mudik di kampung halamannya.

Aku lupa sebelum berangkat kerja berpesan agar istri menyiapkan timbel dengan lauknya. Siang itu sebelum berangkat, istriku masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Sehingga ia lupa membawakannya. Padahal makanan sisa Lebaran di rumah masih banyak. Aku baru tersadar saat dalam perjalanan masuk kerja.

Malam itu kubuka lemari di kamar, ternyata ada mie instan. Memang sengaja setiap minggu aku membelinya. Akhirnya kuputuskan memasak mie saja untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.

Tapi rasanya ada yang kurang jika tak ditemani kerupuk. Di kamar sebelah yang biasa ditempati temanku, terlihat ada kerupuk. Temanku tertidur sangat pulas sekali, sepertinya ia sangat lelah setelah bekerja. Kerupuk itu sangat menggoda sekali, apalagi malam itu perutku sangat lapar dan menjadi pasangan yang tepat dengan mie.

Berulang kali aku berpikir, ambil enggak, ambil enggak, ambil enggak. Karena lapar yang sangat, akhirnya aku mengambil sedikit kerupuk itu dari plastik yang sudah terbuka dari tadi.

Dengan pertimbangan, ah temanku mungkin akan bilang tidak apa-apa bila aku mengambilnya. Sebelum memakan kerupuk, aku SMS temanku pemilik kerupuk itu yang sedang tidur nyenyak. “Aku mengambil sedikit kerupuk ya. Ni lagi makan mie sangat enak dengan kerupuk ini.. :)”. Harapanku ia akan terbangun dan bisa membalas SMS itu serta mengiyakan (membolehkan) aku mengambilnya.

Setelah makan mie itu, aku shalat isya. Tidak lama kemudian perutku terasa mulas-mulas, entah kenapa. Padahal bumbu sausnya hanya aku masukan sedikit. Beberapa kali aku keluar masuk kamar mandi untuk BAB. Rupanya ada masalah dengan perutku.

Aku mengingat-ingat barangkali tadi siang sebelum berangkat aku memakan yang pedas, ternyata tidak. Di perjalanan ketika berhenti istirahat, hanya minum air mineral saja. Dalam pikiranku, kok bisa mulas-mulas begini. Apa ada yang salah dengan makanan yang masuk ke dalam perutku? Gumamku dalam hati.

Aku teringat dengan kerupuk itu. Ooo... Mungkin karena tak minta izin dulu sama pemiliknya sehingga mengakibatkan aku mulas-mulas.

Pagi hari ketika temanku sudah bangun, aku ceritakan kejadian malam tadi. Bahwa aku mengambil sedikit kerupuk itu dan meminta diikhlaskan karena kerupuk itu sudah aku makan.
“Aku malam tadi mengambil kerupuk karena tergoda dan cocok sekali dengan mie instan yang aku makan. Tapi tidak tahu kenapa kok perutku mulas-mulas padahal bumbu sausnya hanya sedikit. Aku juga sudah SMS, tapi tidak dibalas.. he..,” ceritaku padanya.

“Wah, masak sih. Kok bisa?" timpal temanku. “Iya, aku bawa kerupuk itu dari rumah dan baru aku makan sedikit. SMS-nya baru dibuka sekarang,” jawabnya.

“Maaf ya dan minta diikhlasin karena kerupuk itu sudah aku makan,” ujarku.

“Ya udah enggak apa-apa,” jawab temanku.

***

Mengalami kejadian di atas, aku jadi berpikir. Ah, seandainya saja tidak memakan kerupuk itu yang tidak seberapa dan bisa menahan diri untuk tidak mengambilnya, mungkin tidak akan seperti itu. Toh, kerupuk yang sedikit itu tidak cukup mengenyangkan serta aku masih bisa mencari makanan lagi esok pagi.

Tapi, hanya gara-gara makanan sedikit akibat tergiur makanan enak, beginilah jadinya. Kita mungkin tidak menyadari atau menganggap remeh hal-hal kecil padahal hal itu akan menjadi masalah bagi diri kita sendiri. Akhirnya aku mengambil hikmahnya, alhamdulillah aku sudah ditegur Allah dengan kejadian itu. Ketika berbuat hal yang salah, langsung diperingatkan supaya aku tidak mengulanginya lagi.

Bulan Ramadhan mendidik kita menahan diri dari segala macam godaan. Mulut kita tidak menggunjing dan berkata yang baik-baik saja, tangan kita dipakai untuk kebaikan, tubuh kita hanya diisi dengan makanan yang halal, baik, dan sebagainya.

Aku berpikir juga, seandainya dalam konteks yang lebih luas setiap orang menyadari ketika dia memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak halal, azab menunggunya. Atau bisa saja azab itu diberikan langsung saat itu juga atau kelak di akhirat. Begitu juga makanan yang masuk ke dalam tubuhnya atau yang berikan untuk keluarganya. Semuanya akan dipertanggungjawabkan.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66] : 6).

Dan firman Allah, "Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari segala sesuatu yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan adalah musuh bagimu." (QS. Al-Baqarah : 168).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, “Ya Rabbi! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya.” (Hadits Riwayat Muslim No. 1015).

Masih dalam suasana Syawal, mari kita menanamkan semangat Ramadhan. Dimana Ramadhan adalah bulan pendidikan. Sedangkan, ujiannya adalah 11 bulan berikutnya. Tentu kita semua ingin lulus ujian itu.

KotaSantri.com 2002-2021