HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Segumam Asa
24 Juli 2011 pukul 11:00 WIB
Hidup Itu Proses, Bukan Protes!
19 Juli 2011 pukul 09:05 WIB
Teror
5 Juni 2011 pukul 10:45 WIB
Datang Belakangan, Pulang Paling Depan
15 Mei 2011 pukul 08:20 WIB
Teguran Sang Pemilik Warnet
5 Mei 2011 pukul 09:40 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 27 Juli 2011 pukul 09:09 WIB

Hari Ini Aku Telah Memutuskan Rezeki Orang Lain

Penulis : Fiyan Arjun

Jahat! Tak punya rasa kemanusiaan. Tak berempati.

Silakan Anda berkomentar seperti itu. Dan aku akan menerimanya dengan senang hati! Agar aku bisa berintrospeksi diri kembali atau sebagainya. Itu yang sangat aku sukai. Kenapa tidak kalau aku (memang) bersalah dalam posisi itu -dan aku harus melakukan hal itu. Lalu bagaimana jika dalam posisi itu aku tidak (benar-benar) bersalah? Inilah perkara yang sebenarnya terjadi. Dan tidak mudah untuk dikatakan apalagi menghakimi!

***

Bang Karim, begitu namanya! Ya, ia adalah seorang tukang koran. Tukang koran yang tiap pagi selalu berteriak di muka halaman rumahku. "Koran... koran...! Pak-Bu, korannya nggak?"

Begitulah tiap kali ia berteriak disaat embun pagi masih bermanja bergelantung di dedaunan. Aku pasti selalu mendengar teriakannya itu. Tapi sayangnya aku hanya mendengar teriakan Bang Karim saja yang sedang memanggil seisi kampung dengan suara bassnya agar mau melirik koran yang ia bawa pagi itu. Aku tidak membeli korannya, dikarenakan aku sudah berlangganan koran secara eceran di loper koran di pangkalan ojek.

Namun karena tiap kali aku melihat ia berteriak menawarkan koran di muka halaman rumah, akhirnya aku pun berempati. Aku berlangganan kepadanya walau terpaksa aku harus ”mengalihkan” rezeki bukan lagi kepada langganan loper koran yang sudah lama kuberlangganan.

Ya, karena aku ingin berbagi rezeki juga dengan Pak Karim, tukang koran yang kutaksir berusia 45-an. Sudah dua bulan lebih aku berlangganan kepadanya. Berlangganan koran hanya setiap seminggu dua kali kulakukan. Setiap hari Sabtu dan Minggu tiap minggunya.

Tapi tidak untuk hari ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak berlangganan dengannya. Walau aku tahu selama dua bulan lebih itu ia mendapatkan rezeki dariku. Tapi apa mau dikata, karena kebutuhanlah yang menjadi faktor itu. Faktor kebutuhan hidup yang meningkat. Itulah jawabannya!

Aku tahu, secara tidak langsung telah memutuskan rezeki tukang koran itu dariku, namun kondisiku harus lebih mengambil priroitas yang utama. Kebutuhan hidup yang semakin mendesak dan butuh pengeluaran lebih banyak, maka aku dengan berat hati memutuskan berlangganan untuk membeli koran darinya.

”Pak, maaf ya, saya tidak bisa langganan koran sama Bapak lagi. Maaf ya, Pak, semoga Bapak bisa dapat langganan lebih seusai saya tidak berlangganan dengan Bapak.”

Dan pagi itu, aku hanya dapat melihat awan mendung di muka Pak Karim. Walau ia tersenyum padaku saat aku membayar uang koran yang sudah kubeli dari tangan yang sudah mengeriput.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Achmad Husaery | swasta
Alhamdulillah, dengan adanya KotaSantri.com kita bisa melakukan Introspeksi diri.
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1410 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels