HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://hari.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Kairo - Kairo
Pekerjaan
Mahasiswa Universitas Azhar
Tulisan M. Lainnya
Ridha dengan Apa yang Ada
24 Mei 2011 pukul 10:30 WIB
Muhasabah Pagi
23 Juli 2009 pukul 16:09 WIB
Hidup Kan Berakhir
5 Juni 2009 pukul 17:10 WIB
Lorong Klasik
18 Mei 2009 pukul 17:16 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 2 Juni 2011 pukul 08:00 WIB

Pak Tua Itu

Penulis : M. Harmin Abdul Aziz

"Safari ba’iid wazdaadi la yuballighuni. Waquwwati dha’fun walmautu yathlubuni.Wali baqaaya zdunubun lastu a’lamuha. Allah a’lamuha fissirri wal‘alaani."

"Perjalananku masih jauh, sedang bekalku tidak mencukupi. Kekuatanku melemah, dan maut akan menjemputku. Aku masih menyimpan segudang dosa yang aku tidak mengetahuinya. Allah-lah yang Maha Mengetahuinya. Baik tersembunyi, maupun yang terang-terangan."

Bait-bait di atas aku dapatkan dari seorang Pak Tua yang berkerja sebagai cleaning service di asrama kami. Aku dan kebanyakan ikhwah memanggilnya "Syaikh", selain panggilan itu memang layak untuk diberikan kepada orangtua seperti dia, karena orang Mesir biasanya memberikan panggilan ini kepada orang yang dianggap terhormat dan juga karena memang sudah terlihat renta. Dia bilang padaku, ini adalah kasidah Imam Ali RA.

Aku terbilang orang yang sering bertatap muka dengannya. Sebabnya, tak heran kalau aku juga sering menyelingi ketika ia berkerja dan kebetulan aku lagi libur atau belum berangkat kuliah untuk sekedar bercerita tentang Mesir yang terkenal dengan Al-Azhar, Piramid, dan sungai Nilnya.

Bait-bait di atas membawaku terus mengingat Pak Tua itu. Terus dan berlanjut mungkin hingga aku angkat kaki dari 'Bumi Para Nabi' kelak. Ia telah tenggelam dalam cinta-Nya. Ia memang seperti seorang musafir yang tengah meramu bekal. Sebagaimana dalam bait-bait kasidah yang selalu ia ulang.

Dia sangat ramah. Santun dan tekun. Meski di tengah musim dingin di Mesir yang menggigil, yang terkenal lebih panjang dari musim panas, apalagi musim semi dan gugur, ia tetap tampak tegap mengayun langkah menaiki anak-anak tangga asrama kami menuju lorong-lorong tempat ia berkerja setiap harinya, selain hari Jum'at. "Alasyan igazah" alias cuti. Begitu kata orang Mesir, yang gajinya tak seberapa.

Asrama kami yang juga tampak sudah berumur, seumur dengan Pak Tua itu. Dinding-dindingnya sudah terlihat amat lusuh dan rapuh, semacam mau roboh seoalah menjadi lahan subur bagi Pak Tua ini. Ia tampak begitu menikmati pekerjaannya. Ia juga pernah bercerita padaku pada suatu hari, bahwa dia tidak sendiri. Dia punya istri dan anak-anak yang sedang di bangku sekolah dan kuliah.

Di tengah deru keadaan yang menghimpit, ia pun tak segan-segan memegang jati dirinya sebagai seorang muslim. Dari menjalankan kewajiban hingga perkara-perkara sunnah. Ia selalu enteng berucap salam ketika bertemu. Di samping itu, di wajahnya masih tetap terukir cahaya bersih. Senyumnya selalu mengembang. Tangannya yang kasar akibat setiap hari berperang dengan ombak-ombak kecil di lorong-lorong asrama pun tak segan ia angkat untuk sekedar berjabat tangan dengan siapapun yang ia jumpai. Benar-benar Pak Tua yang tahu diri. Yang sangat mengerti dengan keadaannya yang semakin renta dan lemah.

Pak Tua, kau begitu tegar terlihat. Teguh dan tegap. Kau tidak merasa seperti yang mungkin dirasakan segelintir kita. Seakan malu menonjolkan sosoknya sebagai insan yang telah bersyahadat. Malah sebaliknya, segelintir mereka lebih doyan dan tergila-gila dengan budaya-budaya luar Islam. Melariskan produk-produk mereka. Dari cara berpakaian, bermuamalah, hingga dalam dunia seni dan lain sebagainya. Sementara, produk-produk kita nyaris terabaikan. Syi'ar Islam itu sudah seperti sangat terbelakang dan primitif dianggap segelintir kita. Semoga romantika seperti ini cukup hingga di sini.

Sebuah pekerjaan tidak menjadi penghalang untuk ia terus meningkatkan kualitas ibadah. Tidak sedikit dari teman-teman asrama yang ikut kagum dengannya. Sejauh yang aku tahu, ia tidak pernah absen shalat berjama’ah di masjid. Bahkan Ia selalu terlihat sudah duduk di shaf terdepan. Padahal, pekerjaannya sebagai cleaning service cukup berat. Ia terlihat begitu berhati-hati dan bersahaja. Ia tampak tahu betul bahwa kehidupan keseluruhannya adalah amanah. Meski sebagian orang menganggapnya remeh. Apalagi di tempat kerja misalnya, tak ada yang mengontrol. Atau apalah upayanya sehingga ia menganggap bahwa dia sedang bersendiri, tak ada yang mengamati.

Yang penting tak absen dan gaji jalan terus. Soal kualitas, dan nilai ibadah itu nomor sekian. Sementara ia lupa bahwa dalam hidup ini ada yang namanya 'keberkahan'. Yang lahir dari sebuah keikhlasan. Yang membuat sebuah pekerjaan menjadi sangat berarti. Harta yang diperoleh, meski hanya cukup untuk makan, namun terasa cukup puas dan nikmat. Sehingga dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Ya Allah, berikanlah keberkahan untuk umatku di waktu paginya."

Kemudian dengan niat yang tulus itu terekspresi pula dalam sebuah pekerjaan dan tindak-tanduknya. Inilah yang tampak dari seorang Syaikh asal Mesir ini. Keikhlasannya tampak ketika ia berkerja. Sementara itu ibadahnya pun tidak terabaikan. Ia masih saja seperti darah muda yang segar. Semangat ukhrawinya terlihat lebih mendominasi. Syaikh barangkali sudah memahami dalam-dalam makna sabda Rasulullah SAW, "Dunia adalah penjara bagi seorang Mukmin dan syurga bagi seorang Kafir," dibanding aku.

Syaikh dengan tingkahnya yang selalu mengajakku berpikir telah membawaku ikut tenggelam sebagai seorang pemuda yang kuat. Aku yang selalu lengah dengan berbagai permata dunia. Warisan modernisasi dengan gemerlapannya. Aku yang sering tak sadar ketika selalu menghabiskan waktu mengamati dua kubu yang sedang berlaga merebut sebuah benda bundar bernama bola itu. Aku terkadang sadar bahwa hari masih pagi. Tapi, terkadang kesadaran tak lebih dari sekedar pengisi angan-kosong. Aku lupa bahwa hari tak selamanya pagi. Suatu saat aku akan seperti Pak Tua itu.

Ia seakan mengajak kita kembali menelaah makna hadits Rasul SAW, "Tidak beranjak kaki seorang hamba di akherat nanti hingga ia ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya pada apa ia habiskan, masa mudanya apa yang ia perbuat, hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, dan ilmunya apa yang ia perbuat dengannya."

Masa muda tak seluruhnya identik dengan 'merdeka'. Ada PR buat kita semua untuk ikut serta mempertahankan ‘izzah Islam. Demikian juga yang usianya sudah senja. Masih tersisa tanggung jawab besar untuk menjadi murabbi terbaik bagi cikal-bakal generasi umat ke depan. Karena masa depan umat itu tercermin dalam tingkah dan cara bagaimana generasi ini diwarnai dan mewarnai.

Semoga tak terlepas erat tangan-tangan kita untuk terus bersama, pegang teguh bangunan peradaban Islam yang telah berdiri sejak berabad-abad lamanya. Jika modernisasi itu memang ada, itu bukan berarti tamadun Islam itu lantas roboh. Dan kemudian beralih kiblat kepada segala sesuatu yang berbau Barat. Karena itu semua bukanlah sebuah kemajuan menurut prespektif Islam yang sebenarnya.

Pak Tua itu hanyalah sebuah perjalanan rohani yang pernah kutemukan. The sweet memory-ku disaat pernah belajar di 'Negeri Seribu Menara'. Selain itu, ia juga seakan mengajak kita (khususnya kaum muda) untuk kembali mengingat perkataan Ibnu Umar RA, "Apabila kamu di pagi hari, maka jangan tunggu sore. Dan apabila di sore hari, maka jangan tunggu pagi."

"Safari ba’iid wazdaadi la yuballighuni."

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan M. Harmin Abdul Aziz sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Maharandi | Karyawan
Syukur alhamdulillah, sejak pertama kali membaca tulisan-tulisannya, saya langsung tertarik, karena materinya beragam dan terkadang mendatangkan inspirasi baru. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0380 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels