HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://nafiadina.kotasantri.com
Bergabung
30 September 2010 pukul 03:38 WIB
Domisili
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
Pekerjaan
Sahaya Alloh
Seorang muslimah yang mencintai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhannya,Rasulullah sebagai suri tauladannya,ayah-bunda sebagai permata jiwanya,saudara-saudari sebagai mutiara hatinya,sahabat-sahabat sebagai pelangi kehidupannya,dan saudara/saudari di jalan ALLOH sebagai kekuatan dakwah dijalanNYA..
http://nafiadina.multiply.com
fitrianinaa@yahoo.co.id
http://facebook.com/nafiadina
Tulisan Nina Lainnya
Setia pada Satu Nama
26 Desember 2010 pukul 17:50 WIB
Karena CINTA Lahirkan TAQWA
7 Desember 2010 pukul 18:00 WIB
Di Atas Menara Cahaya, Menjemput Cinta
23 November 2010 pukul 04:30 WIB
La Tahzan, Duhai Jiwa
16 November 2010 pukul 17:45 WIB
Syukur dan Malu Jiwaku
28 Oktober 2010 pukul 18:40 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 21 April 2011 pukul 09:40 WIB

Istimewa di Mata-Nya

Penulis : nina fitria

Betapa Allah, menjadikan tiap kisah yang terdapat di dalam rangkaian hari, semua penuh makna, bertebar hikmah, untuk hati yang memandangnya dengan kacamata keimanan, dan Rindu cahaya-Nya. Dan semua pada akhirnya dapat menjadi pelajaran, renungan, inspirasi hingga motivasi untuk tidak pernah puas di dalam memperbaiki diri, berlomba-lomba berprestasi di dalam kebaikan dan senantiasa meng-upgrade iman yang cenderung bertambah dan berkurang, menjadikannya stabilitator dan kemudian berperan sebagai katalisator untuk melejitkan potensi keimanan kita, yakni dengan lebih banyak Melihat, Mendengar, dan Merasa dengan hati yang berdetak penuh ketulusan, dan mendamba Ridha Allah semata. Kemudian, kita akan mampu banyak belajar akan nilai-nilai kehidupan yang memperkaya khazanah hati kita, meski dari hal sederhana, maupun sosok nan sederhana, namun dengan Jiwa yang ISTIMEWA. Seperti hari yang menjadi begitu istimewa bagi saya, dan amat bersyukur Allah jadikan hari ini kesempatan indah terjalinnya silaturrahim saya dengan sosok sederhana berhati istimewa.

Sebelum mengurai kisah yang selalu membuat hati ini tak sanggup membendung keharuan, saya ingin mengutip Kalamullah, yang saya selalu dibuat terkesima luar biasa dengan keindahan janji-Nya, "Katakanlah : 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar : 10).

Ya! TANPA BATAS! Subhanallah walhamdulillah Allahu Akbar!

Semoga, jiwa-jiwa istimewa yang sepenuh kekuatan dirinya, berupaya menetapi kesabaran, kelak akan Allah cukupkan dengan pahala tanpa batas. Allahumma aamiin.

Dan berikut satu kisah kesabaran sosok sederhana berhati istimewa yang saya dapatkan beberapa waktu lalu.

Hari Ahad yang berbekas mendalam itu, berawal ketika saya baru saja selesai menunaikan shalat dzuhur di masjid tempat saya bergabung di komunitas belajar pemuda Islam, hati saya tercuri pada polah tingkah seorang peri kecil yang sangat lucu, yang beberapa kali berlalu lalang di hadapan saya, seorang anak yang manis dengan balutan pakaian muslim berwarna merah muda bercorak bunga-bunga yang membuat saya kian gemas, anak itu yang setelahnya saya ketahui bernama 'Aini berusia 3 tahun.

Tatapan saya masih terpaut pada wajah peri di hadapan saya, saya terus mengikuti gerak-geriknya, semakin tertarik saat saya lihat ia sibuk mendekati lemari/rak yang tersusun di dalamnya Al-Qur'an, 'Aini mengambil salah satu Al-Qur'an dari rak tersebut, dan dengan cukup susah payah (karena Al-Qur'an-nya nyaris menyamai separuh tubuhnya), berjalan setengah berlari menghampiri sesosok wanita muda yang duduk cukup berjarak di belakang saya, wajah perempuan muda itu sempurna mengulas senyuman menyambut peri kecil yang menghampirinya, saya melihat kini mereka sibuk bercengkerama penuh kehangatan, dan setelahnya saya kembali membalikkan posisi tubuh saya ke tempat semula.

Namun, tak lama saya kembali melihat peri kecil dengan langkah-langkah kecilnya kembali melewati tempat saya duduk, ingin sekali rasanya saya menangkap tubuh mungilnya dan mendudukannya di pangkuan saya, mendekap dan mengecupnya, namun kuurungkan karena khawatir nanti ia terkejut melihat polah agresif yang sering menggoda hati ini tiap kali melihat anak-anak kecil, tapi saya tidak mampu menahan diri untuk tidak menyapa peri kecil yang mencuri hati saya tersebut.

"Adik sayang, namanya siapa?" sapa saya pada si mungil yang malu-malu menatap saya.

"Namanya 'Aini, kak," sebuah suara melantun dari sebelahku, tanpa tersadari, wanita muda yang saya lihat bersama anak perempuan kecil tadi sudah duduk tidak jauh di sebelah saya.

"Subhanallah, nama yang indah," ujar saya penuh kagum dan menyulam senyuman pada wanita yang pula tersenyum amat ramah di hadapan saya..

"Alhamdulillah senang melihat 'Aini tampak sehat dan dapat berlari-lari seperti ini, kak," tutur wanita tersebut dengan kalimat yang mengundang tanya.

"Memang 'Aini sedang sakit, mbak? Sakit apa kalau aku boleh tahu?" tanya saya penuh tanda tanya, karena saya melihat sosok mungil tersebut amat sangat lincah dan ceria penuh semangat.

Sejeda, wanita itu terdiam, dan menjawab pertanyaanku dengan nada suara agak lemah, namun menyontakkan hati saya.

"Leukimia (kanker darah), kak."

Dua bola mata ibu muda itu kini tampak sendu, namun tetap berupaya tersenyum memandang saya, yang masih terkejut mendengar jawaban atas penyakit anaknya tersebut.

"Masya Allah, innalillahi wa inna 'ilaihi raji'un," ujarku dengan nada nyaris tak terdengar.

Saat itu, tidak terpungkiri, saya hampir saja mengurai airmata, namun rasa ketidakinginan di dalam hati, untuk membuat ibu muda ini terlarut dalam kesedihan, memacu hati untuk mampu tetap tersenyum, tetap mengurai harapan.

"'Aini sudah menderita Leukimia sejak usia 8 bulan, kak," lanjutnya bercerita.

Masya Allah, Ya Rabbana, dengan usia sangat kecil itu, peri kecil ini sudah menahan derita sakit yang cukup berat.

Kemudian saya berkenalan dengan wanita muda tersebut yang bernama Lia, dan saya menyapanya Mbak Lia.

Hari itu, mbak Lia banyak bercerita tentang 'Aini, tentang kegemarannya belajar dan membaca Al-Qur'an, tentang kondisi 'Aini yang sempat dioperasi sekitar dua tahun lalu dengan bantuan sebuah program kepedulian dari salah satu stasiun televisi swasta, tentang sempat terbaring lemahnya 'Aini dan nyaris tidak mampu beranjak dari pembaringan dalam waktu cukup lama, tentang keadaan 'Aini yang jika menurun kondisinya bisa hingga 3 kali mengalami mimisan di tiap harinya, masya Allah, sungguh saat itu rinai telah penuh membasahi hati saya, deras tertumpah di hati saya, berkali-kali saya menghela perlahan nafas saya, di setiap kali, mba Lia menceritakan betapa rasa sakit itu mengungkung raga anaknya.

Saya tetap berupaya menguatkan hati saya, menyanganya untuk jangan menumpahkan airmata, pastilah wanita ini sudah teramat lelah dalam kesedihan, dan ia lebih membutuhkan harapan dan do'a, kekuatan dan keyakinan bahwa Allah amat sangat menyayangi hamba-hamba-Nya, dan di setiap kesulitan, ada kemudahan.

"Saat ini, saya hanya tinggal bertiga dengan kakak 'Aini yang berusia 9 tahun, dan 'Aini. Suami saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu," tutur mbak Lia.

Masya Allah, sebuah ujian yang kini kian memberat bagi wanita muda, ibu muda, yang kini menjadi orangtua tunggal bagi anak-anaknya, yang saat bercerita tentang kisah hidupnya yang teramat memilukan, terlihat amat tegar, saya dibuat sungguh terharu dan bangga akan kekuatan jiwanya.

Dan 'Aini tidak hanya menderita sakit yang kronis, namun dia pula seorang yatim kini. Masya Allah, lahawla wala quwwata ila billah.

Mba Lia mengisahkan tentang kesehariannya, yang menjual aneka keripik dari satu bus ke bus lainnya, dari satu sekolah ke sekolah lainnya, demi membiayai kedua buah hatinya, dan 'Aini hampir selalu dibawa ke manapun ia menjajakan dagangannya, karena khawatir kakaknya akan panik jika ditinggalkan 'Aini dengannya. Dan jika tiba-tiba kondisi adiknya menurun, sang kakak tidak tahu apa yang harus dilakukan, mengingat sang kakak juga masih berusia relatif kecil. Dan mbak Lia bekerja ekstra keras untuk mampu mengumpulkan biaya untuk membeli obat-obatan bagi 'Aini, yang biayanya cukup tinggi.

Dan, saya menangkap bendungan butiran air, berkaca-kaca di bola mata sang ibu, saat beliau menyampaikan kalimat yang begitu menyentuh hati.

"Seorang anak adalah titipan Allah kan, kak? Sebuah titipan, yang jika Allah ingin mengambil-Nya kembali, kita harus mampu Ikhlas kan, kak?"

Suara wanita muda itu kini terbata, dan mulai parau menahan kepiluan.

"Dan insya Allah, saya ikhlas jika Allah ingin mengambil 'Aini kembali. Saya akan berusaha menjaganya dan merawatnya semampu yang saya bisa lakukan. Karena saya sangat bersyukur, telah dikaruniakan Allah seorang 'Aini."

Subhanalloh, sungguh mulia hati perempuan sederhana di hadapan saya ini, dengan perawakan yang terbilang kecil, ternyata ia menanggung beban kehidupan yang tidaklah ringan.

Terlintas di dalam hati kecil saya, apakah saya sudah mampu mensyukuri segala ni'mat yang Allah karuniakan kepada saya, yang ternyata banyak dari mereka di luar sana, bahkan satu di antaranya kini berada di hadapan saya, tidak dalam karunia ni'mat yang sama, namun ia tetap mampu bersabar, dan mensyukurinya dengan jiwa penuh keikhlasan.

Astaghfirullah, semoga Alloh mengalungi jiwa ini dengan perhiasan syukur dan sabar.

Begitu banyak cerita yang dibagikan seorang wanita, yang kini sudah bagai saudari saya tersebut, tentang perjuangannya, tentang jiwa tidak berputusasanya, dan tentang kesyukurannya karena Allah dekatkan ia dengan orang-orang yang baik yang mengingatkannya dalam kebenaran dan kesabaran, dan tentang bagaimana dahulu ia sempat sangat tertekan, namun kini ia sangat bahagia, karena menyadari bahwa ada Allah tempat untuk menumpahkan segala beban hatinya, kesedihannya, kegalauannya.

"Karena aku punya Allah, kak. Dan Dia tempatku bersandar."

Dan sungguh, itu kalimat terindah yang kudengar hari itu. Hatiku bergetar hebat.

Ya Allah, hamba amat yakin Engkau amat mencintai sesosok sederhana dengan jiwa istimewa ini, dan karenanya Engkau mengujinya dengan bertubi, maka hamba bermohon, kuatkanlah kesabaranya, dan muliakanlah ia dan anak-anaknya karenanya.

Di pertemuan sangat bermakna hari itu, saya mendekap penuh haru ibu muda tersebut, dan membisikkan kalimat keyakinan, bahwa Allah akan selalu memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang tawakkal dengan sebenar-benar tawakkal, jalan keluar dari arah yang tak kan pernah disangka-sangka.

Saya bahagia sekali saat melihat senyum yang terkembang di wajah saudariku itu. Saat saya memberikan sebuah buku bernuansa religi kepadanya, wajahnya berbinar bahagia, dan berkali-kali mengucapkan tanda terima kasih atas bingkisan hadiah tersebut. Mbak Lia menyampaikan betapa saat ini ia sangat ingin belajar untuk kian dekat dengan Allah.

Subhanallah walhamdulillahu allahu akbar!

Sebuah catatan hari yang sungguh berkesan bagi jiwa,
Mengajari jiwa ini banyak hal,

Syukur,
Sabar,
Ketulusan,
Cinta
di atas Cinta.

Sebelum berpisah dari kedua orang yang menjadi keluarga baruku saat itu, ku bergegas meraih tubuh 'Aini, kubelai kepalanya, dan kukecup keningnya. Saat itu gerimis menyapa bola mata.

Semoga Allah, kian meringankan tangan kita untuk mendekap dan mengulurkan banyak cinta kepada saudara-saudara di sekitar kita, yang kurang beruntung dalam keduniaan, namun sungguh saya merasa yakin bahwa Allah akan meninggikan derajat mereka atas kesabaran yang terurai di dalam sanubari mereka, yang kan membuat mereka ISTIMEWA di Mata-Nya.

Hari itu, hari terurainya banyak jalinan cinta di hati.

Cinta untuk saudari baruku nan tegar, Ukhti Lia.
Cinta untuk peri kecil manisku, 'Aini.
Cinta untuk Sang Mahacinta., Allah Azza wa Jalla.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

http://nafiadina.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan nina fitria sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0652 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels