Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://asyifa85.kotasantri.com
Bergabung
30 Juli 2009 pukul 02:13 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
pendidik
apapun, dimanapun dalam kondisi apapun..akan slalu berusaha belajar...menapaki hari...agar esok slalu lbh baik...
http://asyifa85.blogspot.com
asyifa85@yahoo.com
asyifa85
asyifa85@yahoo.com
Tulisan Agus Lainnya
Karena Ia Harus Tetap Bertahan
23 Februari 2011 pukul 09:00 WIB
Ketika Hati Menangis
8 Februari 2011 pukul 08:50 WIB
Di Pelataran Hati
13 Desember 2010 pukul 19:00 WIB
Dekaplah Ia dengan Sepenuh Cinta
11 Desember 2010 pukul 18:00 WIB
Berani Kotor Itu Baik
16 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 3 Maret 2011 pukul 10:00 WIB

Saat Kabut itu Menghiasi Hatinya

Penulis : agus triningsih

Pagi hari di antara suasana mengajar di sekolah, ada panggilan dari nomor hape asing di hape saya.

"Assalamu'alaikum…"

"Wa'alaikumsalam..."

"Maaf, ini siapa? Ada yang bisa dibantu?"

"Benar ini Agus Triningsih?"

Mendengar suara itu, saya seperti mengenalnya. Suara yang tak asing bagi saya.

"Iya benar. Ini siapa?"

"Agus, ini Wita."

"Hah... Wita Ramadani (bukan nama sebenarnya, red)?"

"Iya, Wita Ramadani. Agus, Wita kangen baanget. Bisa ga’ kita ketemuan?"

"Witaaaaaaa... Ke mana aja sih? Sama. Kangen juga nih. Ketemuan? Boleh banget. Jam 1 siang Agus tunggu di Rumah ya."

Sebenarnya jam 1 hingga jam 3 ada pekerjaan sekolah yang harus saya kerjakan, tapi ini masih bisa disiasati, karena dalam pekan ini hanya jadwal hari ini yang masih fleksibel, sisanya sudah harga mati yang ga’ bisa diubah-ubah lagi.

Dan akhirnya kami memang sepakat bertemu siang itu. Saya hampir ga’ percaya. Semudah itu Allah mengatur pertemuan itu, padahal dalam 7 tahun ini kami hampir tak pernah ngobrol atau bahkan hanya untuk bertatap muka saja, terkecuali 4 bulan yang lalu kami tak sengaja bertemu di sebuah toko muslim. Tapi, saat itu ia hanya sempat meminta nomor hape saya, selanjutnya ia berlalu, berlomba dengan waktu yang hampir senja.

Dia duduk tepat di sampingku, ia meluapkan semua gundah di hatinya, meski terkadang ia harus terbata-bata mengungkapkannya sambil menahan tangisnya. Meski akhirnya tangis itu tak dapat dibendung lagi, airmatanya itu lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa "tak ringannya" "problema" yang selama ini ia rasakan.
Kadang ia terdiam dalam jeda yang relatif lama, seperti sedang berfikir apakah ia harus mengungkapkan semuanya atau membiarkan beban itu terantai dalam hatinya.

Lalu saya berusaha menyakinkannya, "Wita, ini Agus, aku masih Agus-mu yang dulu. Agus masih sama seperti 7 tahun yang lalu saat kita masih di SMA, Agus yang dulu selalu setia menemanimu dalam setiap "laramu" dan juga "asamu", mendengarkan keluh kesahmu, menyimak bait demi bait ceritamu, lalu menyimpannya rapat-rapat dan hanya kita yang tahu semua itu. Agus masih menyediakan tempat dan ruang hati untukmu. Percayalah, ga’ ada yang berubah."

Perlahan tapi pasti, ia melanjutkan ceritanya, kadang hujan tangis di matanya semakin deras meski tanpa suara yang mengibakan. Saya hanya mendengarkannya, menatap matanya yang selalu basah, mengelus pundaknya yang selalu naik turun karena masih mencoba menahan tangis.

Hingga akhirnya ia menuntaskan semuanya. Melepaskan semuanya yang telah "menggulanakan" hatinya. Semua yang selama ini tertahan.

Meski telah 7 tahun kami terpisah oleh jarak dan waktu tak lagi memberi kami ruang untuk bersama, tapi sungguh 7 tahun juga, saya merasa kehilangannya. Rumahnya begitu jauh untuk ditempuh, dan saya tak cukup berani untuk menaiki perahu yang akan menghantarkan saya ke rumahnya. Hanya sekali saja dulu, dulu sekali. Itupun karena teman-teman merelakan saya duduk di tengah perahu. Mereka mengerti sepenuhnya "takut" yang selalu menggelayuti fikiran saya dulu dan juga sekarang. Karena ketika SMA kami sama-sama tak memiliki hape dan telepon rumah, maka praktis komunikasi kami terputus. Hingga beberapa bulan yang lalu Allah mempertemukan saya dengannya di sebuah toko. Ia hanya meminta nomor hape saya dan berjanji akan segera menghubungi saya. Ya, hari ini ia memenuhi janjinya setelah sekian bulan terlewati.

Wita ternyata telah menikah 3 tahun yang lalu dan telah memiliki satu anak (2 tahun). Ia menikah dengan laki-laki yang tak sama sekali dicintainya. Hanya ada 2 alasan kenapa Wita menerima lamaran suaminya dulu; 1) Karena hutang budi. Wita sudah terlalu sering menerima dan memanfaatkan kebaikan-kebaikannya selama 2 tahun sebelumnya. 2) Karena Wita khawatir jika menolak, akan membuat suaminya "patah arang". Saat itu usia suaminya sudah tidak muda lagi, 14 tahun lebih tua darinya.

Akhirnya Wita menguatkan hati untuk menerima lamarannya, dengan harapan waktu akan memberikan ruang untuknya "menumbuhkan" cinta di hatinya.

Tapi 3 tahun yang berlalu tak sama sekali mewujudkan harapannya. Ia tak sama sekali memiliki rasa itu. Hatinya tak sama sekali "nyaman" dengan rumah tangga yang telah dibangunnya. Bukan, bukan karena ada laki-laki lain yang dicintainya, bukan juga karena kekerasan yang dilakukan suaminya. Tapi hanya karena suaminya terlalu pendiam. Jika berkomunikasi, selalu saja Wita yang memulainya, dan komunikasi-komunikasi yang selalu dibangunnya selalu saja terasa hambar dan sangat terbatas. Ia faham sepenuhnya bahwa laki-laki yang telah menjadi suaminya itu mencintainya sepenuhnya. Tapi cinta itu tak pernah diekspresikan lewat lisannya.

3 tahun, ia tak pernah mendapat pujian dan sanjungan dari suaminya, 3 tahun suaminya tak pernah bercerita tentang masalah-masalah dalam hidupnya kecuali setelah didesak olehnya. 3 tahun ia tak pernah mengajaknya bercanda. Dengan sifat pendiam suaminya, Wita merasa tak diperhatikan bahkan merasa tak dianggap sebagai istrinya, kecuali ibu atas anaknya. Wita tak menuntut suaminya untuk romantis. Wita hanya ingin suaminya memujinya sesekali waktu, berbagi cerita tentang hari-hari yang dijalaninya, dan bisa membuatnya tersenyum dengan candaan ringan sesekali waktu. Itu saja, hanya itu yang sekarang Wita inginkan.

Beberapa kali Wita berusaha mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya atas suaminya. Dan hanya ada satu kalimat dari suaminya, "Mau gimana lagi, beginilah saya. Kamu harus bisa mengerti dan menerimanya." Hanya itu, dan ga’ ada perubahan apapun atas sesuatu yang telah Wita usahakan.

Di antara decak kekaguman keluarga dan rekan-rekannya atas keharmonisan rumah tangganya. Sejatinya kini, Wita sedang berjuang melawan hatinya. Ia tetap berusaha mencintai suaminya dan menjadi istri yang shalehah bagi suaminya. Meski terasa berat baginya. Tak ada yang tahu tentang "bebannya" kini, kecuali saya dan kakak kandungnya. Wita memang berusaha mengesampingkan hati dan perasaannya, demi anaknya dan demi laki-laki pilihannya. Semua permasalahan hatinya kini, ternyata telah menjadi jalan kedekatannya pada-Nya. Selama beberapa bulan terakhir ia bahkan tak absen shalat tahajud dan shaum sunnahnya. Penampilan Wita sangat berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Jilbab lebar dan rok panjangnya membuatnya lebih anggun dan keibuan. Sungguh Allah lebih tahu bagaimana membuat hamba-Nya untuk kembali bersimpuh pada-Nya.

http://asyifa85.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0620 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels