Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://asyifa85.kotasantri.com
Bergabung
30 Juli 2009 pukul 02:13 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
pendidik
apapun, dimanapun dalam kondisi apapun..akan slalu berusaha belajar...menapaki hari...agar esok slalu lbh baik...
http://asyifa85.blogspot.com
asyifa85@yahoo.com
asyifa85
asyifa85@yahoo.com
Tulisan Agus Lainnya
Di Pelataran Hati
13 Desember 2010 pukul 19:00 WIB
Dekaplah Ia dengan Sepenuh Cinta
11 Desember 2010 pukul 18:00 WIB
Berani Kotor Itu Baik
16 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Sahabatku
4 Oktober 2010 pukul 19:00 WIB
Bersiap Menjadi Orangtua Yuk?!
4 September 2010 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 8 Februari 2011 pukul 08:50 WIB

Ketika Hati Menangis

Penulis : agus triningsih

Seperti biasa, sembari menggarap data-data hasil penelitian, hampir pasti saya selalu mengaktifkan radio Hp. Hari ini saya mendengarkan Radio Siesta FM (Inspirasi Indonesia) yang di-relay dari Jakarta melalui radio lokal di Pontianak. Meski bukan radio dakwah, tapi program-program acara ini memang memberikan banyak perenungan, motivasi, serta inspirasi tentang kehidupan. Hampir seluruh acaranya dibawakan oleh Sahnaz Haq dan rekannya, Gilang. Saat itu saya menyimak salah satu program yang paling saya minati, "Berhenti Sejenak". Program ini selalu menghadirkan bintang tamu, dimana kemudian pengalaman hidupnya akan diangkat sebagai bahan renungan bagi setiap pendengar.

Kali ini Siesta menghadirkan Kang Yana, ayah dari seorang anak bernama Oval (6 thn). Ia baru saja 2 tahun bercerai dengan istrinya. Ia bercerai di usia pernikahannya yang ke-10. Istrinya meminta ia dan anaknya meninggalkan rumahnya sendiri. Karena sang istri telah memiliki "cinta" dari laki-laki selain suaminya. Tragisnya, sang istri memang meminta Kang Yana untuk membawa Oval pergi jauh darinya. Sebenarnya sejak 6 bulan sebelum peristiwa pengusiran itu, sang istri sudah sering meminta cerai darinya tanpa ada masalah yang menjadi pemicunya. Namun Kang Yana selalu berusaha membangun komunikasi dari hati ke hati dengannya agar perceraian itu tak kan pernah terjadi. Kang Yana tetap mempertahankan pernikahannya, demi menjaga perasaan dan perkembangan psikologis Oval.

Dan peristiwa pengusiran hari itu membuatnya tak bisa bertahan lagi. Meski rumah itu adalah milik mereka berdua, tapi demi menjaga perasaan dan hati Oval, Kang Yana tak sama sekali mengadakan perlawanan mulut terlebih lagi perlawanan fisik. Sejak hari itu hingga 2 tahun perceraiannya, Kang Yana selalu menangis jika diminta atau terpaksa harus berbagi ke orang lain tentang perceraiannya. Bukan saja karena cintanya yang dikhianati, tapi lebih karena Kang Yana selalu didera rasa bersalah terhadap anaknya.

Sebagai pendengar, saya bisa merasakan bahwa begitu besarnya kasih sayang Kang Yana kepada Oval, anaknya. Di antara tangisannya, Kang Yana melafadzkan sebait do’a buat anaknya, "Ya Allah, berilah keberkahan hidup bagi anak saya dan jangan biarkan ia mengalami kegetiran dan kepahitan dalam hidupnya."

Bait do’a itu terlantunkan dengan suara yang bergetar penuh harap. Pilu banget, dalem rasanya. Begitu besarnya kasih sayangnya tersebut, hingga ia berazzam tak kan menikah lagi tanpa restu dari anaknya. Akhirnya Kang Yana berpesan kepada seluruh pendengarnya, "Bahwa perceraian itu menyakitkan siapapun, seperti apapun kondisi pernikahan, jangan pernah memberi kesempatan untuk perceraian."

Selama berbagi cerita, saya mendengarnya sambil menangis sesegukan. Ada sedu sedan yang tertahan. Ya, sepertinya ia berusaha membendung air matanya, tapi akhirnya sedih itu tumpah tak terbendung. Tangisnya begitu menggetarkan hati ini. Bagi saya, jika seorang laki-laki menangis itu menandakan bahwa ada kesedihan yang teramat sangat dari lubuk hatinya yang terdalam.

Sebab yang saya tahu, laki-laki adalah makhluk yang paling kuat dan seringkali mampu menyembunyikan kesedihannya. Menangis adalah hal yang sangat biasa bagi siapapun, karena hampir setiap kita pernah menangis, sebagai pelampiasan dari "sedih" yang membuncah dalam jiwa atau senang yang teramat sangat. Seperti Kang Yana kini.

Siapapun pasti tak menginginkan perceraian. Tapi manakala pilihan itu tak dapat terelakan, maka hanya keikhlasan dan kesabaranlah yang menguatkan kita.

Dan siapapun anda manakala kesedihan menyapa anda, maka menangislah, sebab Allah menyiptakan kantong mata tanpa gender. Menagislah, sebab menangis bukan tanda kelemahan atau ketidakmatangan seseorang. Menangislah, karena airmata yang tertahan akan menyebabkan perasaan tertekan dan tegang. Menangislah, karena dengannya kita akan merasa lebih nyaman.

http://asyifa85.blogspot.com

Suka
Fatim dan Tin Tina menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1771 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels