Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Keceriaanmu Kebahagiaan Kami
8 Oktober 2010 pukul 15:55 WIB
Setelah Ramadhan Berlalu
17 September 2010 pukul 16:09 WIB
Berbagi Kebahagiaan
30 Agustus 2010 pukul 16:25 WIB
Sahur untuk "Yang Lewat"
20 Agustus 2010 pukul 16:50 WIB
Gairah di Bulan Ramadhan
13 Agustus 2010 pukul 16:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 21 Oktober 2010 pukul 16:09 WIB

Utang dan Rezeki yang Tidak Disangka

Penulis : ruhendi

"Bu, anak saya jatuh dari tangga di rumah. Harus ke dokter secepatnya dan perlu uang sejumlah xxx, kalau tidak kakinya bisa cacat seumur hidup. Nanti uang dikembalikan awal bulan depan setelah saya gajian," ujar teman kuliah istriku dengan nada memelas. Ia datang di siang hari yang panas ketika istriku baru pulang dari sekolah.

Dengan sedikit bingung dan banyak pertimbangan, akhirnya istriku meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya itu. "Hmm... ini, bu, uangnya," kata istriku sambil menyodorkannya.

Sore harinya, baru istriku mengabarkan, ia telah meminjamkan sejumlah uang kepada teman kuliahnya yang juga seorang guru. Serba salah memang bila tidak dikasih, ia tidak tega mendengar kesusahan yang dialami temannya, tapi bila dikasih pinjaman pun, uang itu untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Mendengar kabar itu, aku tidak bisa menyalahkan istriku yang tidak meminta izin terlebih dahulu, karena darurat dan tidak tega kalau tidak segera ditolong. Walaupun seharusnya izin dari seorang suami itu penting, tapi hal itu aku maklumi dan mengingatkan jangan sampai terulang lagi.

***

Satu bulan setelah itu, istriku diberitahu salah seorang teman dekat di kampusnya bahwa akan ada bantuan berupa beasiswa dari pusat untuk para guru yang masih kuliah dan masuk semester akhir, harus membuat proposal juga melengkapi persyaratan lainnya termasuk rekening bank dan menyertakan nomor telepon. Beasiswa itu tiap tahun ada, dan hanya untuk tiga orang di setiap kabupaten.

Dengan susah payah istriku yang lagi hamil tua waktu itu, mengurus semua surat-surat dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari ia mengurus surat-surat itu, bolak balik ke sekolah dan kantor Depag. Ia mengurusnya sendiri, aku tidak bisa mengantarnya karena berada di luar kota. Aah... kasian juga kalau aku melihatnya dan tahu seperti itu.

Setelah menyelesaikan sidang skripsi, aku dan istriku mulai mengumpulkan uang lagi, menabung untuk biaya wisuda nanti. "Sidang udah, sekarang yang kita hadapi adalah biaya untuk wisuda, pasti biayanya lebih besar dibanding biaya sidang kemarin," ucapku ketika ngobrol santai dengan sang istri di malam hari.

Aku menghitung-hitung berapa kira-kira biaya wisuda tahun ini dengan membandingkan biaya di tahun kemarin dan berapa uang yang harus disisihkan perbulannya dari gaji yang kami peroleh.

Pernah istriku mengeluh betapa susahnya menanyakan uang yang pernah dipinjamkan kepada temannya itu. "Ibu itu, kayaknya gak pernah ngerasa kalau ia punya utang. Kalau ketemu di kampus acuh tak acuh, tidak pernah ada omongan minta maaf belum bisa mengembalikan uang apalagi mencicilnya. Janjinya awal bulan tapi sampai sekarang tidak pernah membayar sepeser pun," gerutu istriku.

Lima bulan kemudian, berdasarkan informasi dari pegawai kantor Depag, bahwa istriku termasuk di antara guru yang mendapatkan beasiswa itu dan disuruh mengecek ATM karena bantuan langsung ditransfer ke rekening. "Bu, besok tolong cek rekeningnya ya. Beasiswa sebesar Rp. xxx juta sudah ditransfer dari pusat," kata seorang pegawai kantor Depag melalui telepon. Dan ketika dicek melalui ATM, ternyata Alhamdulillah saldo di rekening bertambah. Uang tersebut sangat besar bagi kami, bisa untuk bayar wisuda nanti dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung, biaya kuliahnya selama ini hampir terganti dengan beasiswa yang diterima sekarang.

Kami sekeluarga bersyukur atas rezeki yang Allah berikan ini, sebelumnya istriku pesimis bisa dapat beasiswa karena yang mengajukan proposal itu banyak sekali. Benar-benar surprise, terima kasih, ya Allah. Semoga rezeki ini bermanfaat dan berkah bagi kami.

"Benar kata ayah, dulu setiap ada pengumuman dari kampus harus segera melunasi uang semester akhir, sidang, dan lain-lain, kita selalu segera membayarnya. Tidak seperti teman-teman yang lain banyak sekali tunggakan-tunggakan yang harus segera dilunasi menjelang wisuda nanti," ujar istriku dengan manja. "Dan sepertinya teman yang enggan bayar utang itu, rezekinya Allah tutup-tutupi dan itu merugikan diri sendiri," ujar istriku lagi.

"Mumpung ada rejeki, sayang, toh sekarang uang semester akhir itu kita bayar, nanti juga waktu pengambilan ijazah utang itu kita harus bayar. Biarlah teman (punya utang) itu, kita serahkan urusannya kepada Allah," balasku.

"Beasiswa ini rezeki dari Allah, berkat jerih payah engkau, sayang, dan do'a kita selama ini. Menjelang ulang tahun perkawinan kita, Allah memberikan rezeki yang tidak kita sangka juga amanah anak yang Dia titipkan," ucapku kepada istri yang menggendong bayi mungil kami dengan semringah.

Teringat sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa (yang berutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar utangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika masih belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi utang akan dialihkan kepada orang yang berutang." (HR. Baihaqi, Thabrani, Hakim).

Suka
Laila Dwi S, Adinda Poetri, dan Puspita menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mutiara | Swasta
Alhamdulillah, senangnya udah bisa bergabung dengan KotaSantri.com. Jazakumullah.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0429 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels