HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://nafiadina.kotasantri.com
Bergabung
30 September 2010 pukul 03:38 WIB
Domisili
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
Pekerjaan
Sahaya Alloh
Seorang muslimah yang mencintai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhannya,Rasulullah sebagai suri tauladannya,ayah-bunda sebagai permata jiwanya,saudara-saudari sebagai mutiara hatinya,sahabat-sahabat sebagai pelangi kehidupannya,dan saudara/saudari di jalan ALLOH sebagai kekuatan dakwah dijalanNYA..
http://nafiadina.multiply.com
fitrianinaa@yahoo.co.id
http://facebook.com/nafiadina
Tulisan Nina Lainnya
Mercusuar Ukhuwah, Tinggi Menggapai Syurga
12 Oktober 2010 pukul 18:00 WIB
Sebingkis Cinta untuk Sahabat di Jalan Allah
6 Oktober 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 17 Oktober 2010 pukul 15:45 WIB

Bahagiaku di Wajah Peri-Peri Kecil

Penulis : nina fitria

Hari itu, sebenarnya menjadi awal hari yang mungkin bagi sebagian orang kurang baik, tapi insya Allah bernilai sangat baik bagi saya, dikarenakan saya dan bunda saya cukup pagi sudah berada di bangunan yang identik dengan warna putih, pakaian putih, tirai-tirai putih, namun dengan wajah-wajah yang banyak darinya tampak buram padam dalam menahan kesakitan yang dirasakan.

Pemandangan yang tak pelak membuat saya sedih namun di lain sisi tersemat syukur di akhirnya, kesedihan karena melihat saudara-saudara saya yang sedang dilanda ujian (kasih sayang ALLAH) berupa penyakit yang mendera, serta kesyukuran, bahwa Allah memberi begitu banyak ni'mat dalam diri ini, yang TERNYATA disaat bersamaan tak mampu dirasakan orang lain. Tengok saja, di salah satu sudut ruangan saya dapat melihatnya pagi itu, seorang bapak yang sudah mulai senja, dengan wajah cukup kuyu, tertunduk dalam, tangan tampak lunglai, tersandar di kursi roda, menunggu antrian pemeriksaan, sedang saya, alhamdulillah saya masih diberikan kedua tapak kaki yang dapat tegak memijak. Dan banyak lagi pemandangan serupa yang membuat hati padu dalam sendu dan (tambahan) syukur pada-NYA. Semua menyatu dalam do'a, agar saya dan mereka, senantiasa dalam karunia syukur dan sabar.

Kalau boleh sedikit menyeberang dari yang sedang dibahas, sebenarnya saya setuju dengan beberapa pandangan yang menyatakan, bahwa rumah sakit perlu direnovasi dalam mengistilahkan dirinya. Alangkah sangat memberi MOTIVASI jika setiap ada seseorang yang sakit kemudian saat ditanya oleh kerabat, tetangga, teman, atau sekedar angin yang menyapa, "Ke mana dia akan pergi?" Dengan segenap binar harapan dia pun akan menjawab, "Saya ingin ke rumah SEHAT."

Atau ketika ingin menjenguk saudara/teman/kerabat yang sedang dirawat, kemudian ditanyakannya, "Siapa yang mau SEHAT kembali?" Biasanya yang ditanyakannya siapa yang sedang sakit. Ini mungkin sekedar guyon, tapi jika yang berangkat dari guyon ini terealisasi, saya rasa, akan jauh lebih cepat pulih penghuni bangunan yang terdiri dari orang-orang yang ingin SEHAT dan diperlakukan seperti orang yang harus penuh semangat SEHAT kembali.

Waduh, sepertinya semakin menyimpang dari judul tulisan saya di atas ya. Apa hubungannya rumah sehat (ala fikiran saya) dengan Peri-peri kecil? Ssebenarnya tidak ada korelasi yang amat kuat, hanya saja pembuka hari saya hingga di sore hari saya saat itu, penuh kaitan dengan wajah-wajah peri. Subhanallah, baru dibayangkan saja sudah mengundang bahagia, satu hal yang selalu mengundang senyuman dan keteduhan jiwa bagi saya. Anak-anak, atau saya lebih senang menyebutnya, kalian adalah wajah-wajah PERI, kalian wajah-wajah ketulusan.

Pagi itu, saya berkepentingan untuk memeriksakan kesehatan saya yang sedang menurun (dan insya Allah bersemangat untuk kembali meningkat) di Rumah Sehat. Meski seperti yang saya gambarkan di awal kalimat-kalimat tulisan ini, banyak terdapat wajah-wajah yang sedang menahan nyeri, namun di selang waktu lainnya perhatian saya pun TERCURI dengan satu dua wajah-wajah peri di sekeliling saya yang saat itu sedang menunggu panggilan pemeriksaan. Ada yang sedang menggeliat manja di sisi ibundanya, ada yang menjingkat-jingkat di bangku pasien, ada yang hilir mudik meramaikan ruangan yang relatif sunyi sepertinya untuk dirinya, sehingga perlu di gegap gempitakan.

Subhanallah, jiwa saya kembali BERWARNA hanya dengan memandang mereka, wajar saja mereka layaknya peri, yang penuh keajaiban. Mereka sangat ahli, mentransfer energi BAHAGIA, dengan wajah-wajah ketulusan dan keceriaan. Saya tidak tahan untuk terus mengikuti gerak-gerik lincah mereka, yang sesekali mengundang tawa kecil di sela-sela bibir. Saya pun menyemat senyuman kala bersitatap dengan mereka. Wajah malu-malu dan senyuman itu, membuat saya tersipu, dan rasa sakit yang pada awal berangkat saya tadi ke bangunan ini masih cukup terasa, seakan tersapu senyum mereka.

Subhanallah wa bihamdi, sungguh indah penciptaanmu, ya Rabbi, untuk terciptanya suatu siklus kehidupan dalam cermin wajah-wajah peri..

Setelah selesai berobat , saya kemudian bergegas kembali pulang dengan bunda saya yang setia menemani saya, namun kami menemui sedikit masalah, di karenakan beberapa bagian gedung sedang diperbaiki, kami cukup kebingungan harus berputar mencari jalan ke luar yang berbeda dari biasa, dan walhasil kami tersesat. Dan saya kembali masuk ke dunia calon hadirnya peri-peri kecil itu, yaitu berdiri rikuh di Poliklinik KEBIDANAN.

Di setiap sudut saya dapat melihat wanita-wanita yang sedang mengandung, dan keluarga yang sedang menemani. Saya "merasa" di sergap bola-bola mata yang tampak penuh selidik, atau yang lebih ekstrimnya "menuduh" kalau saya juga bagian dari PASIEN di poliklinik itu. Masya Allah, canggung saja rasanya "tertekan" seperti itu. Permasalahannya, karena belum sesuai dengan yang disangkakan, walaupun harapannya bisa segera menyesuaikan dengan sangkaan yang saya sangkakan itu.

Sekejap itu, saya memandangi wajah-wajah para calon bunda, yang sedang menanti kehadiran buah hatinya, subhanallah, sebentar lagi mereka akan dapat memeluk titipan terindah ILAHI, Peri Kecil, Sumber Bahagia.

Sepeti biasa, di saat menyusuri perjalanan, saya suka sekali memerhati sekitar. Entahlah, saya senang melakukannya, karena seringkali HIKMAH saya temukan dalam potret keseharian yang terkadang luput, kala kita tersibuk dalam aktivitas. Semisal saja seperti memandangi bapak tua yang mendorong gerobak dagangannya, meski saya melihat kelelahan, tapi, memancar semangat menjemput rezeqi yang mengalahkan letih raganya, saya tertular semangat itu. Atau pasangan muda yang berlari-lari kecil mengejar balita mereka, mereka bahagia, saya juga tertular bahagia. Alhamdulillah.

Tak jarang pula saya melihat para peminta-minta di beberapa tempat umum, yang seringkali membenam dalam haru, terlebih bagi para renta yang tampak berbalut pakaian, yang tampaknya tidak cukup sehat bagi mereka, tidak cukup pula melindungi dari sengatan mencekam dinginnya malam. Ya Rabbi, naungi mereka dalam Cahaya-MU, perlindungan-MU, perbaikan dariMU. Saya tertular untuk semakin menghidupkan jiwa welas asih terhadap sesama di dalam ruang hati ini.

Ya, itu beberapa alasan mengapa saya menjadi "penikmat" potret keseharian. Saya berharap tertular banyak nilai kebaikan. Tapi sore hari itu, sepulang dari Rumah Sehat, saya kembali mendapat sapuan keteduhan, yang membuat saya tersipu-sipu. Tidak jauh dari jalan pulang ke rumah, tiba-tiba saja seorang cilik perempuan menyapa saya, "Yiaaa, aih si tante geulis pisan. Mau ke mana?" Sontak saya tersenyum mendengar celoteh lugas cilik satu ini yang tampak khas logat salah satu daerah, kulihat wajahnya bersemangat memajangkan jejeran gigi-giginya yang ompong, tersenyum teramat lebar dan sumringah. Saya pun tak tahan tertawa melihat polahnya yang menggemaskan. "Iyaaaa sayaangggg..." sahut saya tak kalah semangat, dan dia tetap dalam konsistensi senyum memajang gigi-giginya yang banyak absen.

Dan tak jauh dari tempat cilik pertama, kemudian saya temui beberapa anak-anak kecil bak Peri, kembali menyapa saya dengan KHAS keceriaan mereka. Subhanallah, hari yang membuat saya penuh dalam senyuman, yang menemani sketsa hari yang saya temakan, Bahagiaku di Wajah Peri-Peri Kecil.

Semoga kelak, jika saat-saat bahagia teranugerahkannya wajah-wajah peri dalam hidup saya, tak saya siakan dalam belaian kasih dan sayang di setiap detiknya, dalam sepenuh cinta karena ALLAH untuk kalian (calon peri-periku, insya Allah). Allaahumma aamiin.

Saya tertular kebahagiaan mereka.
Saya ingin Tertular Ketulusan mereka.

http://nafiadina.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan nina fitria sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0665 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels