QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Kuncup Mawar Biru
6 September 2010 pukul 18:00 WIB
Meresapi Silaturrahim Sampai ke Dasar Hati
31 Agustus 2010 pukul 15:55 WIB
Perempuan Lebih Perasa?
26 Agustus 2010 pukul 20:00 WIB
Lelaki Langit dan Perempuan Paruh Baya
22 Agustus 2010 pukul 17:30 WIB
Tengah Malam
18 Agustus 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 8 September 2010 pukul 16:55 WIB

Kenapa Non Muslim “Lebih Baik”?

Penulis : Aris Solikhah

Dahulu seorang kawan berkata, ”Kenapa sih, Ris, orang non muslim itu kebanyakan lebih baik, care, pengertian, dan baik hati dibanding dengan umat Islam sendiri? Bagaimana kita menampilkan dan mensosialisasikan Islam pada mereka, sedangkan lihatlah di sekitar kita umat muslim jauh dari kebaikan. Korupsi, adab yang buruk, saling menjegal, etos kerja bagus, produktif, dll.”

Pertama kali mendengarnya, saya tersentak dan tertegun. Benar juga. Apa gerangan yang terjadi pada umat Islam? Saya sendiri membandingkan dengan contoh-contoh yang diberikan teman tersebut. Dan saya ngaku tak lebih baik dalam akhlak dan sikap non muslim tesebut, meski saya ingin beralasan bla-bla-bla seperti faktor lingkungan keluarga, masa lalu, umat Islam meninggalkan ajaran agamanya, menolak syari'at Islam, dan masyarakat atau sistem negara yang carut marut.

Mungkin alasan yang saya uraikan ada benarnya. Tetapi, apa yang dikatakan teman saya itu membekas dalam relung hatiku. Sebuah motivasi untuk improve lebih baik lagi.

Beberapa waktu kemudian ketika kami mengadakan Pelatihan Scientific Writing, kebetulan saya sendiri ketua panitianya. Ibu Kepala Bidangku mengutarakan hal yang sama, kebetulan dua pembicara kami non muslim. Kesahajaan dan kebaikan mereka, cukup membuat saya termangu. Jujur dari hatiku saya katakan, ”Aku kalah baik dibanding mereka.”

Pada episode saya berobat di Wen Zhung Accupressure Bogor, kebetulan pemiliknya beragama Budha, maka saya pun dibuat nyaman di sana. Sebuah pelayanan yang prima untuk pengobatan dan perhatian seorang tabib dan asistennya. Sulit menemukan hal senada di rumah sakit atau tempat pengobatan lain.

Saya merenung dalam, sungguh memang wajar ketika di milis saya berusaha untuk mengajak kembali menerapkan syariat Islam, banyak yang menolak. Kenapa? Ya karena kebanyakan umat Islam dan non muslim sendiri melihat fakta umat Islam yang parah. Logika mereka yang menolak, sekarang aja umat Islam begini apalagi jika nanti Islam diterapkan sempurna.

Mereka juga membandingkan dari sisi materi dan ekonomi negri-negri Eropa, Amerika atau negara non muslim dengan negri-negri mayoritas berpenduduk Islam atau mengaku telah berasaskan Islam tak maju, bahkan mundur serta memalukan. Di antara umat Islam sendiri sering berkata, negara-negara non Muslim (Jepang, Inggris, Belanda, Ausi dll) lebih islami daripada negri muslim sendiri. Tragis!

Fakta itu benar adanya, tak bisa dipungkiri. Walau tak bisa dielakkan pula, kebaikan negeri-negeri tersebut hanya dilihat dari sisi materi. Negara-negara tersebut pelan-pelan menuju kehancuran. Dilihat dari dekadensi moral, dehumanitas, angka kriminalitas, gap si kaya dan miskin yang terlalu curam, loss generation, angka pertumbuhan penduduk yang rendah dan sebagainya.

Lalu Indonesia? Bagaimana membuat Indonesia memajukan ketertinggalannya. Banyak orang berpendapat, SDM harus diperbaiki, pemerintahan diperbaiki, korupsi diberantas serta hal-hal buruk lainnya. Adakah yang bertanya.. bagaimana cara mengubahnya…dengan landasan apa? Orang sadar, itu memang harus diperbaiki tapi dengan apa?

Kisah Si A, B dan C

Lima hari lalu sebuah class training menyadarkan aku. Seorang trainer muda, berdarah cina, mantan non muslim, lulusan IPB kemudian dia menjadi pendakwah Islam menuturkan sebuah kisah seorang A, B, dan C.

Si A, adalah non muslim dan dia bersikap baik karena alasan kebiasaan dan etika. Sikap baik dan akhlak itu subtansinya sama dengan syariat Islam.

Si B, adalah muslim dan dia bersikap baik an berakhlak baik, rajin ibadah karena alasan juga etika dan sopan santun.

Si C, adalah muslim dan dia bersikap baik, berakhlak baik dan rajin ibadah karena semata-mata ikhlas mencari ridho Allah dan melakukan seluruh aktivitas hidupnya sesuai syariat Islam.

Apa yang akan diperoleh A, B, dan C?

Si A, akan memperoleh pujian masyarakat, kebaikan dari lingkungan sekitarnya dan disegani.

Si B, akan memperoleh pujian masyarakat, kebaikan dari lingkungan sekitarnya juga.

Si C, akan memperoleh pujian masyarakat, kebaikan dari lingkungan sekitarnya dan plus pahala di sisi Allah.

Setiap amal kebaikan atau keburukan seseorang, entah muslim atau non muslim akan dibalas seluruhnya di dunia. Khusus muslim seperti si C maka dia juga mendapatkan bonus pahala yang kelak di panen akhirat. Kebaikan non muslim itu meski banyak layaknya kapas-kapas berterbangan, ringan di hadapan Allah.

Dari kisah itu kemudian saya mencoba memadukannya dengan realita untuk membangkitkan Indonesia. Saya memikirkan kenapa pemuda non muslim berkulit putih ini memilih Islam. Dia berasal dari keluarga berada, hidup foya-foya dan sudah mapan. Kenapa dia meninggalkan kemapanan semua itu. Iyah alasannya menurutku... karena dia berpikir, dia merasakan kebrobrokan disekitarnya, meski dia tidak terlibat didalamnya. Dia tidak egois, memikirkan orang lain yang menderita di sekitar dia. Dia jujur pada nuraninya sendiri. Dia orang yang terbuka menerima kebenaran.Dia bukan orang sombong memilah kebenaran bukan dari siapa, darimana dan kedudukan orangnya. Tapi subtansi kebenaran itu sendiri.

Dia berpikir Islam secara subtansinya secara objektif, bukan realitas para umatnya yang kebanyakan meninggalkan ajaran dan subtansi agamanya. Hasil berpikir itu mengubah persepsinya tentang Islam, paradigma dan pemahamannya tentang Islam. Pemahaman yang mendorongnya secara kuat untuk melakukan suatu tindakan dan sikap. Memilih dan masuk agama Islam. Reaksi keluarganya... jangan dibayangkan, dia menerima boikot. Tidak diberikan uang kuliah, dijauhi keluarga dll. Tapi semua ini hanya butuh komunikasi. Kini meski dia berbeda agama dengan saudara dan orangtuanya. Dia terima baik keluarga. Dia mentranfer buah pemikiran, persepsi dan pemahamannya pada orang disekelilingnya untuk mengubah image Islam. Yang kemudian image baru itu mendorong orang berbuat sesuatu.

Sesungguhnya kebangkitan itu berawal dari sebuah pemikiran dan persepsi serta pemahaman tentang hidup yang membentuk mental suatu tindakan. Umat Islam Indonesia sudah harusnya dirombak pemikirannya bahwa dia melakukan seluruh aktivitasnya hanya semata-mata mencari ridho Allah dan berusaha menaati seluruh syariat Allah. Sehingga di manapun dia berada, dia berbuat dengan koridor agamanya. Karena Allah tidak pernah tidur dan senantiasa mengawasi perilakunya.

Dari perubahan pemikiran atau mental SDM Indonesia inilah kita mulai menata Indonesia. Di jamin korupsi akan turun, kriminalitas turun dan Indonesia akan maju.

Begitu pula saya melihat kenapa Eropa dan AS maju karena mental mereka, mental murni kapital dan mencari materi. Lihatlah bahwa setiap kebijakan AS dan Eropa selalu berdampak pada keuntungan materi. Mungkinkah juga memberi bantuan pada korban bencana alam di Indonesia ada tujuan materi di situ? Mendapatkan hati dan dukungan bangsa Indonesia adalah termasuk nilai materi abstrak.

Kalau kebaikan negara Eropa dan AS, benar-benar karena mental spiritual atau Ridha Allah. Kenapa pada Irak, pada Palestina mereka tak berbuat baik juga seperti Indonesia? Bukankah kita memahami bahwa bila seorang muslim hendaknya berbuat baik pada siapa saja termasuk non muslim tanpa pandang bulu? Bagaimana dengan mereka tadi?

Orang Jepang dan Cina pun demikian, mereka bangkit dengan cepat karena ada mental yang mendorong mereka berbuat demikian. Falsafah nenek moyang mereka mengajarkan demikian dan menjadikan pripsip hidup mereka dalam membangun negara.

Sekarang kembali lagi pada Indonesia, kita mau milih pemikiran dan mental dengan landasan falsafah seperti apa? Gaya AS dan sekutunya, Jepang dan Cina atau gaya asas Islam karena mayoritas muslim di sini? Mungkin ada yang bilang falsafah pancasila?

Ok, kalau pancasila kita bisa mengambil Sila Pertama. Ketuhanan yang Maha Esa. Kata Esa adalah tak berbilang tiada bandingannya hanya satu. Lalu kalau kita mau menimbang agama apa yang Tuhannya hanya satu.

Bagaimana dengan non muslim? Bila mereka taat dengan agama mereka itu malah selaras dengan perubahan yang positif. Bukankah ajaran mereka mayoritas berupa spiritualitas pada kebaikan. Kita akan fokuskan Spiritualitas Islam untuk umat Islam saja, kalau ada non muslim yang ingin terlibat, boleh-boleh dan sah-sah saja. Islam untuk rahmatan lil 'alamin. Syariat ISlam untuk semua alam dan manusia.

So... kenapa takut. Sayangnya Indonesia terlanjur termakan kata sanjungan negara yang ramah dan moderat banget sehingga malah terkesan kurang tegas dan plin-plan serta malu-malu mengakui jati dirinya sebagai negeri yang mayoritas muslim. Jadi malah nggak jelas begini yah. malu-malu kucing atau mau.

Itulah perenunganku, semoga buah ini bisa membawa umat Islam lebih baik dibanding Si B dan Si A .Wallahu’alambishawab.

Suka
Puspita menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Agoes | TKI
Di sini tempat kumpul-kumpul, atau hanya sekedar ingin menambah ilmu tentang agama, atau hanya ingin baca-baca artikel-artikel bagus dari temen-temen di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1959 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels