Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Menyembah Ramadhan
12 Agustus 2010 pukul 16:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 27 Agustus 2010 pukul 16:20 WIB

Bila Sakit Menyerang di Kala Puasa

Penulis : Syaifoel Hardy

'Aku benci sekali! Terpaksa nggak bisa puasa besok.' Demikian kata Mbak Iin, seorang pramuniaga warga kita di Al Ain-UAE. Mengeluh menstruasi kala Ramadhan tiba. Mbak Iin bukan sedang sakit. Sebagaimana perempuan lainnya, setiap bulan sekali mengalami proses ini. Menstruasi bagi wanita adalah kejadian alami. Meskipun demikian, tidak sedikit perempuan yang mengalami nyeri sekali jika sedang menstruasi. Kondisi ini disebut 'Dysmenorhhoea'. Setuju atau tidak, perempuan akan merasa terganggu jika yang satu ini datang. Bagaimana bila kejadiannya lebih dari sekedar alami? Sakit!

Dua pekan sebelum Ramadhan tiba, rekan sekamar saya pulang cuti tahunan ke negara asalnya. India. Salesman merangkap sopir sebuah perusahaan Spare Parts, Abdul Karim namanya, menderita nyeri pinggang dan saluran air kencing sudah lebih dari 3 tahun ini. Kadang (maaf) saya merasa 'kebal' mendengar keluhannya, karena hampir setiap hari, sepulang kerja, dia merasakan sakit pinggangnya.

Sebagai seorang pekerja kesehatan, saya kadang merasa tidak terlalu peka terhadap keluhan fisik seseorang. Tidak tahu kenapa, namun itulah kenyataan. Hal yang sama barangkali dihadapi mereka yang seprofesi dengan saya. Tapi bukan berarti bahwa menurunnya kepekaan itu mengakibatkan kita enggan untuk memberikan pertolongan. Itu terjadi hingga saya mengalami keluhan yang sama sebagaimana Karim, pada bulan Ramadhan ini, bahkan ketika saya tulis artikel ini, saya bersandar pada bantal di tempat tidur, sambil menahan sakit di pinggang dan sebagian perut, meluncurlah cerita ini.

Kebanyakan orang tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnya makanan apabila dia tidak pernah merasakan lapar. Orang yang kenyang, umumnya tidak bisa menikmati lezatnya makanan karena nafsu kanan sudah menurun. Sang perut pun sudah tidak lagi mampu menampung makanan lagi guna ditempatkan dimana jika tidak lagi tersedia ruang yang cukup untuk makanan berikutnya. Sebaliknya orang yang lapar, reaksi yang ditimbulkan jangankan oleh perut, bahkan kelenjar ludah pun akan mengalir begitu bau makanan menyentuh.

Demikian halnya dengan sehat. Orang tidak bisa merasakan nikmatnya sehat apabila tidak pernah menderita sakit. Selama sehat, kita umumnya kurang hati-hati, hingga jatuh sakit. Orangtua biasanya membiarkan saja anak-anaknya makan permen atau coklat sepuasnya. Namun begitu sakit gigi menyerang mereka, baru orangtua sadar apa kekeliruan mereka selama mengasuh anaknya.

Selama 8 hari puasa pertama, kecuali dua hari di antaranya, saya merasakan sakit perut yang menjalar ke pinggang, utamanya sesudah (maaf) buang air kecil. Sudah tentu hal ini sangat mengganggu sekali, apalagi pada jam-jam kerja dimana saya harus pula merawat pasien. Rasa sakit ini pada mulanya tidak begitu saya hiraukan, namun ternyata memburuk. Seorang rekan saya mengatakan bahwa konsumsi saya terhadap air sangat sedikit sekali yang mengakibatkan gangguan fungsi perkencingan dan menimbulkan keluhan tersebut. Ada benarnya!

Hari ini seharian boleh dikata yang terburuk yang pernah saya alami. Usai shalat Fajar, saya rasakan sakit ini. Sendirian di rumah, terasa lebih parah. Hari Kamis adalah hari libur selain Jum'at di Timur Tengah. Nyaris sehari penuh saya tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa kecuali berbaring menahan sakit di tempat tidur.

Di tengah-tengah kondisi yang demikian, saya menyempatkan baca Al-Qur'an dan berdzikir, berharap agar Allah SWT memberikan keringanan rasa sakit yang amat ini. Saya jadi membayangkan bagaimana dengan orang-orang awam yang buta akan kesehatan, awam terhadap obat-obatan? Betapa menderitanya mereka. Alhamdulillah saya memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengatasi rasa sakit ini dengan mengkonsumsi sejumlah obat antibiotika dan pengurang rasa sakit, bahkan saya menyuntik sendiri bila rasa sakit ini sudah di luar kontrol.

Saya jadi teringat bahwa di luar sana, banyak orang-orang yang bahkan tidak sempat menikmati indahnya Ramadhan karena sakitnya. Di luar Ramadhan pun tidak sedikit, baik mereka yang berbaring di rumah sakit ataupun di rumah, tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali mengharapkan bantuan orang lain. Sementara kondisi saya jauh lebih beruntung walaupun saya sudah mengalami penderitaan ini selama beberapa hari dalam bulan penuh rahmat ini. Siang tadi, jam 11.30 rekan saya, Shamsudeen, datang dengan membawa suntikan pengurang rasa sakit.

Pembaca, saya rasakan memang sakit sekali waktu itu hingga saya membutuhkan suntikan tanpa berniat membatalkan puasa saya. Sore harinya, ada rekan kantor yang menelepon, Zahoor, mengingatkan saya tidak perlu memasak, dia akan datang membawa makanan. Alhamdulillah! 'Dan kamu tidak akan pernah menyangka, akan datang dari mana pertolongan Allah?' Demikian Allah SWT berfirman. Subhanallah.

Di tengah-tengah rasa sakit saat Ramadhan ini, ternyata ada buahnya. Kita bisa merasakan tidak hanya bagaimana rasanya lapar, namun juga penderitaan orang-orang yang secara fisik kurang beruntung. Sakit gigi, sakit perut, pilek, demam, luka-luka, hingga sakit yang membutuhkan operasi. Kita jadi bisa merasakan betapa besar nikmat Allah SWT yang namanya sehat itu. Jika pun orang diminta untuk memilih, antara jutaan dollar uang dan sehat, hanya orang yang tidak 'waras' jiwanya yang akan memilih uang.

Tidak ada sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT dan terjadi di muka bumi ini kecuali dengan hikmah. Dan penderitaan 'kecil' yang saya alami adalah sebagian hikmah Allah SWT yang ditunjukkan kepada umatNya bukan untuk berkeluh-kesah, namun bersyukur. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ramadhan benar-benar membawa rahmat dan hikmah.

Catatan Ramadhan Tahun 2004

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1164 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels