|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|





Kamis, 12 Agustus 2010 pukul 16:30 WIB
Penulis : Syaifoel Hardy
Siapa yang nggak suka Ramadhan tiba? Di Timur Tengah, baik muslim maupun nonmuslim turut memetik buahnya. Jam kerja jadi pendek, quantitas kerjaan menurun, orang tidak lagi marah-marah, istirahat bisa lebih lama, dan kualitas ibadah bisa ditingkatkan. Bukan hanya itu, yang namanya rejeki, utamanya makanan, jangan ditanya pada saat Ramadhan ini. Di masjid-masjid khususnya, sesaat sebelum Adzan Maghrib tiba, berbagai makanan sudah dibentangkan di atas tikar yang memanjang, memenuhi halaman masjid. Istana sheikh juga tidak kalah ramainya kala berbuka puasa tiba, semua orang diundang tanpa memandang apakah Muslim, Kristen, Hindu atau Budha, boleh datang dan bersantap bersama.
Di dalam segi ibadah, masjid tidak ubahnya dengan suasana Shalat Jum'at saja. Bisa dipastikan setiap shalat fardhu tiba, orang penuh sesak memadatinya, Shalat Fajar sekalipun. Orang juga beramai-ramai membaca ayat suci Al-Qur'an di mana-mana. Yang namanya yayasan-yayasan sosial tidak kalah sibuknya menyebarkan kotak-kotak amalnya ke segala penjuru, termasuk supermarket dan masjid-masjid. Suasana yang demikian, akan bisa disaksikan pada saat Ramadhan di Dubai - United Arab Emirates. Yang jadi pertanyaan, kenapa hal yang demikian hanya berlangsung di kala Ramadan tiba?
Ramadhan adalah bulan penuh rahmah, penuh berkah. Imam di masjid-masjid dan berbagai jenis kelompok pengajian lainnya mengumandangkan nikmat dan keagungan Ramadhan ini. Umat Islam didorong untuk banyak berbuat amal kebajikan pada bulan ini karena didasari keyakinan bahwa Allah SWT akan melipatgandakan segala amal kebajikan kita. Bahkan mereka yang biasanya pemarah terhadap hal-hal yang kecil-kecil bisa jadi amat lunak pada bulan ini. Mereka yang tidak pernah ke masjid pada shalat-shalat fardhu dan membaca Al-Qur'an, jadi terlihat sering shalat berjama'ah. Stasiun TV yang biasanya memutar lagu-lagu dan film, diubah channel-nya jadi layaknya Quranic Channel. Begitu besarnya pengaruh Ramadhan ini di dalam benak umat Islam sehingga pengaruhnya secara fisik atau yang terlihat dengan mata, begitu 'dahsyat'. Sayangnya kita tidak bisa melihat pengaruh psikologisnya. Apabila digambarkan dengan konstruksi bangunan, maka yang namanya bangunan pencakar langit yang megah menjulang akan sudah penuh memadati bumi ini. Betapa indahnya Ramadhan. Sekali lagi keindahan ini, sayangnya bangunan psikologisnya tidak bisa dilihat dengan mata.
Ketika saya tulis artikel ini, hari ke 18 Ramadhan 6 tahun yang lalu. Di depan gedung tempat saya tinggal, ada sebuah villa kecil, tidak ada tanda-tanda milik orang Arab yang kaya. Tidak ada halaman mobil, cat warna putih sudah usang. Pintu masuk rumah dari bahan besi yang catnya sudah pudar. Pada hari-hari biasa, tidak akan ada orang yang tertarik bahkan untuk menengok pintunya. Sesekali penghuninya keluar yang nampaknya seorang perempuan tua, kadang dibimbing oleh dua orang anak perempuannya setengah baya. Ada seorang pembantu asal India yang paling sering terlihat keluar masuk villa tersebut. Di sebelahnya, ada gedung bertingkat 4 yang sepertinya pemiliknya sama dengan villa itu. Hal ini terlihat karena Satpam gedung tersebut juga sering keluar masuk villa dengan membawa sesuatu. Rutinitas yang terjadi sehari-hari sekali lagi tidak ada yang menarik untuk diperhatikan.
Namun begitu Ramadhan tiba, suasana rumah tersebut akan beda. Bahkan berbeda sekali. Villa di negeri Arab, jangan disama-artikan dengan pengertian villa di Indonesia. Setiap rumah biasa yang tidak susun bangunannya, kita namakan villa. Kategori villa yang saya sebutkan di atas adalah rumah biasa saja. Bukan gedung mewah yang indah, hijau penuh dengan bunga. Sejak hari pertama Ramadhan, setiap sore menjelang Maghrib, orang-orang ramai antri membawa tas plastik, panci, atau waskom di depan pintu rumah, menunggu makanan yang siap dibagikan. Sesekali saya melihat dari gedung kami, saya tinggal di lantai 3, antrian panjang itu kadang menggoda saya ingin ikut serta antri mendapatkan makanan. Ingin tahu apa makanan khas pada bulan Puasa ini? Sebaiknya tidak saya uraikan di sini karena hanya akan menggoda perut saja yang pada intinya akan mengurangi nilai Ramadhan. Yang jelas, orang-orang amat suka dengan menu Ramadhan.
Di masjid, hal yang sama juga bisa disaksikan. Meski orang tidak antri seperti di villa di atas, namun dengan tertib mereka duduk di kedua sisi tikar yang dibentangkan di halaman-halaman masjid. Kebetulan tepat di depan villa tersebut ada pula masjid, Masjid Somali namanya. Sebenarnya nama asli masjid itu adalah Sheikkah Latifa Saghir, akan tetapi karena letaknya di tengah-tengah masyarakat Somalia (Afrika), maka nama Somali menjadi lebih populer. Sekedar diketahui, saya tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya orang Afrika. Tapi jangan disamaratakan dengan lingkungan Bronx di New York. Mayoritas penghuni 'kampung' kami orang Islam. Tinggal di tengah-tengah masyarakat Afrika, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Dan itu hikmah!
Di malam ke-19 Ramadhan, saya lihat antusias masyarakat terhadap masjid sudah mulai menurun, tapi tidak dengan antrian panjang makanan tadi. Kala Maghrib tiba, di halaman masjid nyaris penuh dengan jama'ah. Namun selepas pekan kedua Ramadhan jadi berkurang. Demikian halnya dengan jama'ah tarawih. Saya lihat yang penuh hanya di dalam masjid. Biasanya untuk bisa duduk di halaman muka saja sulitnya bukan main, kecuali datang jauh lebih awal.
Barangkali pemandangan yang sama tidak hanya yang saya temui di Dubai. Bisa jadi di mana-mana. Ketika saya di kampung beberapa tahun lalu, di sebuah desa wilayah Kabupaten Malang - Jatim, saya dapatkan pengalaman serupa. Layaknya, sebuah musim, apapun jenisnya, biasanya hanya dibanjiri dan digemari orang pada awal-awalnya saja. Lihat saja bagaimana populernya sebuah lagu, lambat laun jadi berkurang fans-nya, dan akhirnya pudar. Musim mangga juga demikian. Makin lama semakin berkurang, hingga tidak ada di pasaran sama sekali. Adakah nasib Ramadhan setiap tahunnya seperti ini di hati umat Islam?
Saya tidak bermaksud su'udhan sama sekali terhadap Ramadhan. Kenyataannya adalah, "Jangan marah-marah, lagi puasa!", "Tidak baik akh, ngomongin orang lain, lagi puasa!" ungkapan seperti ini sering kita dengar disaat Ramadhan. Tapi apakah kita jadi enak saja memperbincangkan orang lain di luar Ramadhan? Apakah OK saja jika kita marah-marah di luar bulan Ramadhan? Apakah kita jadi seenaknya saja makan jika tidak dalam bulan puasa? Jika fenomena yang demikian eksis, yang dikuatirkan adalah, kita melakukan amalan-amalan baik itu hanya karena Ramadhan. Sementara Allah SWT tidak pernah menyebutkan bahwa, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka berbakti kepadaKu pada bulan Ramadhan." Allah SWT tidak pernah menyuruh kita untuk berbuat baik hanya pada bulan Ramadhan. Betapa indahnya kehidupan religius ini bila di luar Ramadhan pun kita dapatkan suasana yang sama. Namun, bila segala kebaikan ini hanya terjadi kala Ramadhan, maka tidak bedanya kita dengan mengabdi kepada Ramadhan, bukan kepada Allah SWT, Sang Pencipta Ramadhan.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.