|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|





Selasa, 10 Agustus 2010 pukul 15:55 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Beberapa waktu lalu, saya menyimak kuliah umum dari seseorang. Salah satu isinya yang menarik hati saya ialah istilah ‘pura-pura baik’. “Kebanyakan kita menjalani hidup sebagai orang yang berpura-pura baik. Menjadi baik butuh latihan. Marilah kita belajar berpura-pura baik dan hal itu suatu saat menjadi kebiasaan hidup kita.”
Saya pun demikian, berulangkali peristiwa, saya berpura-pura atau memaksakan diri baik. Tentu saja ini butuh perjuangan. Kadang kepuraan ini tidak membuahkan hasil. Saya loss control. Ini mengecewakan dan menumbuhkan rasa bersalah.
Berpura-pura atau tepatnya mengendalikan diri untuk berbuat baik walau kadang dilakukan terpaksa atau memaksa namun memunculkan kepuasan batin, kebahagian, rasa berharga dan kepercayaan diri. Kemenangan mutlak, menang atas pengendalian diri. Percaya atau tidak, itu yang terjadi pada diri saya.
Bila ada orang lain membutuhkan bantuan pinjaman uang misalnya, yang dirasakan adalah keinginan untuk menolak membantu. Apalagi jika diri kita berada dalam kesibukan atau juga membutuhkan uang juga.
Kalau menolak membantu, hati kita akan ada rasa bersalah. Mungkin kita bisa menepis rasa itu. Sampai kapan? Sesering melakukannya, kita akan terbiasa untuk tidak membantu orang lain dan hati kita kaku serta beku. Kurang peka terhadap persoalan orang lain.
Sebaliknya, walau berat dan terpaksa, kalau seringkali kita berusaha membantu. Kita lama-lama ringan melakukannya bahkan memiliki hati yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Berpura-pura baik itu bagus bukan? Seperti perkataan Stephen Covey, perbaiki niat, komitmen, dan lakukan. Terus menerus kita melakukan, lama-lama menjadi kebiasaan baru.
Ramadhan, bulan tepat untuk ‘berpura-pura’ baik. Berlatih sekuat tenaga dan semoga menjadi kebiasaan yang baik selamanya. Selamat Ramadhan, mohon maaf lahir batin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.