QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Rp. 5 Ribu untuk Murid ”Terbelakang”
27 Juli 2010 pukul 16:50 WIB
Kuncinya : Bersyukur!
19 Juli 2010 pukul 15:25 WIB
Rencana Allah Itu Indah
11 Juli 2010 pukul 15:00 WIB
Menyikapi Cemburu
5 Juni 2010 pukul 17:45 WIB
Manakala Sakit
26 Mei 2010 pukul 16:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 2 Agustus 2010 pukul 16:09 WIB

Penggaris Bu Guru

Penulis : Eko Prasetyo

Monday = bad day. Mungkin itulah yang selalu terlintas di benak saya dan teman-teman satu kelas. Betapa tidak, selain terasa panjaaaaang sekali, Senin kala itu menjadi hari yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran.

Ketika itu, saya masih duduk kelas tiga SD. Sebelum bel pelajaran berbunyi, saya dan teman-teman berbaris rapi di depan pintu kelas. Cekikikan dan canda tawa bersama teman sirna saat berbaris itu, apalagi jika Senin. Saya ingat betul, yang bikin kami agak takut-takut tersebut adalah penggaris di genggaman ibu guru wali kelas.

Setiap Senin, Bu Guru memang selalu mengontrol kebersihan kuku kami sebelum masuk kelas. Inspeksi itu dilakukan sebelum masuk kelas, ketika berbaris dua shaf tersebut.

Pandangan orangtua siswa yang sedari tadi memperhatikan kami seolah diabaikan oleh Bu Guru. Tidak boleh ada intervensi pada saat itu. ”Di kelas, sayalah yang bertanggung jawab atas anak-anak.” Mungkin ini kira-kira yang terpatri di hati Bu Guru.

Saya kebagian berbaris di tengah. Meski begitu, saya agak takut dengan inspeksi itu. Ibu Guru menggenggam penggaris yang siap ”didaratkan” ke tangan murid yang kukunya panjang-panjang dan hitam kotor. Bukan penggaris plastik yang panjangnya cuma 30 cm, tapi penggaris kayu sepanjang satu meter!

Saking takut, mungkin karena kukunya panjang, seorang teman perempuan kami menangis hingga pipis. Muka tegas yang sebelumnya sengaja dipasang mendadak menjadi cair.

Meski demikian, penggaris tersebut tidak hanya dipakai untuk mengecek kebersihan kuku kami. Alat pengukur itu juga dipakai untuk mendiamkan kami ketika ribut dan bercanda di kelas. Caranya, Bu Guru memukulkan penggaris kayu tersebut ke papan tulis. Plak, plak! Cukup dua kali, suara nyaring dari penggaris itu mampu mendiamkan mulut kanak-kanak kami.

Meski terkesan galak dan ditakuti, apalagi jika ditemani penggarisnya, tak ada di antara kami yang mengadukan hal itu kepada orangtua kami. Meski, mungkin kami pernah dipukul (tapi tidak sakit) dengan penggaris tersebut. Entahlah, Bu Guru terlalu berwibawa untuk dilaporkan kepada orangtua.

Sebuah kertas karton putih tertempel di dinding kelas dekat pintu. Ada tulisan di situ yang memakai warna dasar kuning. Kalimatnya berbunyi kebersihan sebagian dari iman. Kami selalu diminta membaca kalimat itu keras-keras ketika kuku kami tidak bersih.

Kendati sudah berupaya untuk membersihkan kuku, ketika bermain dengan teman, niat itu tak terwujud. Ia hilang bersamaan dengan asyiknya bermain. Seiring datangnya Minggu, liburan kian asyik membuai pikiran untuk melupakan hal membersihkan kuku. Maka, tak jarang tiap Senin kami selalu dibuat menyesal oleh keteledoran sendiri. Ya, kami terkadang masih saja lupa membersihkan kuku.

Alhasil, bayangan dipukul penggaris kayu melintas di benak kami.

Sekian puluh tahun kemudian, saya mengantarkan keponakan ke sebuah TK. Saya kembali disuguhkan pemandangan ritual mengecek kebersihan kuku. Saya ingat bahwa keponakan saya tersebut ketakutan karena kukunya kotor. Dia memandang saya, seolah memberikan isyarat untuk meminta tolong. Saya membiarkannya. Toh, dia tidak menghadapi penggaris kayu 1 meter seperti yang saya alami dulu. Si guru hanya inspeksi dengan pensil yang siap ”didaratkan” ke jari-jari muridnya yang kotor.

Saya teringat kata-kata Bu Guru wali kelas saya ketika SD dulu. Beliau pernah berujar bahwa siswa yang kukunya panjang dan kotor adalah anak yang malas. ”Malas itu sikap yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Suatu saat, saya melihat berita di TV tentang sidang di gedung Senayan. Beberapa anggota dewan yang terhormat terlihat mengantuk, bahkan ada yang tidur. Wah, bisa jadi kuku mereka panjang-panjang, begitu pikiran iseng saya yang terlintas. Jika begitu, mereka butuh penggaris kayu?

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mang_unus | Wiraswasta
Semoga dapat menjadi wasilah untuk semua; berbagi ilmu, memupuk ukhuwah, mengokohkan keimanan, menopang keistiqamahan.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1059 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels