|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://dik2.multiply.com |
|
andhika.ramdhan |
|
|
ramadhan_adhi |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
http://twitter.com/AndhikaRamdhan |





Kamis, 29 Juli 2010 pukul 16:00 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
Musik itu berdegup kencang, puluhan sinar dari lampu-lampu mengitar ke sekelilingnya. Tak jelas, apakah itu lagu atau sekedar tabuhan yang bertalu. Namun saya kira bukan itu. Suasananya yang jelas selalu membuat saya merinding jika membayangkannya. Setidaknya meskipun saya belum pernah berada di dalamnya, namun penggambarannya di film-film memang seperti itu keadaannya.
Malam memang sudah jauh dari pertengahannya. Dini hari pun bukan lagi sekedar cerita, kini menjelma. Angin malam yang biasanya membuat kantuk orang-orang, kini malah membuat saya terjaga. Dan ternyata mungkin bukan hanya saya, namun jauh di tempat sana, ketika puluhan, bahkan ratusan, atau ribuan, atau mungkin bahkan jutaan anak-anak muda yang dengan mudahnya terhipnotis oleh kemewahan dunia, berpesta dengan berbagai sarana. Disuguhi dengan berbagai kenikmatan semu di ruangan-ruangan yang pada akhirnya selalu menuntun untuk melangkah ke lembah dosanya. Na'udzubillah.
Saya jadi teringat ketika beberapa bulan ke belakang. Ketika pulang malam menjadi sebuah rutinitas di tengah bertumpuknya tugas dan pekerjaan. Salah satu jalan yang dilewati menuju pulang adalah tempat di mana orang-orang melabuhkan segala penatnya dengan berpesta ria di sana. Mereka berujar bahwa semua beban dan kepenatan akan hilang dalam sekejap, layaknya pertunjukkan sulap yang diperagakan oleh seorang pesulap kelas dunia.
Bukan para pejalan kaki yang datang ke tempat tersebut, namun mereka yang dengan mobil-mobil mewahnya bertandang ke acara tersebut, serta lengkap dengan parfum-parfum yang menyengat dari tubuhnya. Padahal mungkin andaikan kita mau sekali lagi mengorek kembali firman Allah dalam Al-Qur'an, bukankah Ia ciptakan malam itu untuk kita beristirahat di dalamnya, merebahkan diri, dan memberikan hak bagi tubuh ini untuk merasakan nikmatnya alam ini, mentafakuri tanda-tanda kebesaran atas segala cipta karya dari Sang Mahakuasa. Setelah seharian di kesempatan siang Ia perintahkan untuk kita agar bertebaran di muka bumi ini guna menebar kebaikan?
Namun, ternyata banyak di antara kita yang masih jauh dalam berbuat adil, bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun. Apalagi ini malah bukan hanya tidak memenuhi hak tubuhnya untuk beristirahat, namun mengantarkannya pula agar tetap berada hingga terjerumus kedalam dosa dan maksiat.
Sebuah buku masih ada dalam genggaman tangan saya, dimana penulisnya menggambarkan suasana malam-malam ketika dulu di zaman Rasulullah. Dengan peliknya ia menggambarkan suasana tersebut. Bahkan sampai membuat diri ini serasa melayang dan hinggap di masa ketika saat itu Rasul masih berada. Merasakan semilirnya angin padang pasir, mendengarkan lantunan indah para sahabat mengumandangkan dzikir, dan sebagainya.
Malam-malam di masa itu memang juga tak pernah sepi. Seperti yang satu malam ketika diriwayatkan Rasulullah mencoba untuk berkeliling di sana. Hampir di setiap rumah para sahabat tak ada yang sepi. Bahkan hingga sepertiga malamnya, suasana itu makin menjadi. Isak tangis hamba-hamba Allah dalam hal pengakuan dosa, do'a-do'a mereka yang terpanjat dalam berharap dan meminta kepada Rabb Pencipta, semua menghiasi daripadanya. Subhanallah...
Wajar saja ketika itu semua membuat Rasulullah menitikkan air mata, bersyukur atas semuanya, hingga semakin menjadikan ia hamba paling bersyukur di antara ummatnya. Namun, sesaat kemudian malam-malam itu kini seakan hilang dan terbang. Berganti dengan keriuhan suasana musik-musik yang bertalu, atau mungkin degup-degup kencang yang menghentak, yang dibalut dalam keremangan suasana berhias dengan bola-bola lampu daripadanya.
Atau mungkin jika pun tidak demikian, malam-malam itu malah kini berganti dengan sunyi dan senyapnya hari. Dihiasi dengan dengkuran mereka yang seakan telah terlupa akan kehadiran Allah di sepertiga malamnya untuk mendengarkan segala keluh kesah hambaNya. Yang ada hanya suara-suara binatang malam di kejauhan sana yang perlahan semakin jauh dan menghilang untuk kembali kemudian berganti siang.
Jika sudah seperti itu, kita hanya bertanya, "Ke manakah malam-malam itu, ya Rabb?"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.